puisi sekolahan

Posted on Agustus 9, 2008. Filed under: sekolah |

5. BIROKRASI BUSUK

Keteguhan hati,

Kelembutan jiwa

Kemantapan

Kekuatan,

Pengorbanan

Kesungguhan

Pengabdian

Kesabaran

Semua sudah diberikan

Namun masih saja

Upahku kau sembunyikan

Dalam surat-surat keputusan

Dalam saku kemeja safari

Dalam laci meja departemen

Dalam undang-undang mainan

Sungguh satu pengkhianatan agung

Kebodohan luar biasa

Kelemahan

Kebusukan

Kehinaan

Dor…!

Matilah guru negri ini

Depok, 2002

6. AKU MURID SEKOLAH

Di jalan

Aku tawuran

Saling baku hantam

Saling lempar

Saling pukul

Saling bunuh…

Bagiku tak masalah

Jangan salahkan aku

Di ujung gang

Aku duduk bersama

Bersenang-senang

Petik gitar

gila sebentar

Main catur

Cara ngelantur

Menggoda gadis yang lewat

Lumayan salurkan syahwat

Bagiku asik-asik saja

Jangan salahkan aku

Di rumah

Aku sering berkumpul

Menghirup racun

Meminum racun

Membaca racun

Menonton racun

Membagi-bagi racun

Bagiku soal biasa

Jangan salahkan aku

Di kelas

Mencontek aku sudah biasa

Menjadi keterampilan istimewa

Setengah mati kukejar angka

Menipu diri jadi sempurna

Agar saat nanti aku dewasa

Dengan mudah aku akan dapat harta

Berupaya dengan segala cara

Yang penting aku harus kaya

Itu juga sebuah cita-cita

Jangan salahkan aku

Aku murid sekolah

Pada sekolah lingkungan

Ayah ibuku sibuk sekali

Guru-guruku ngobyek sendiri

Teman-temanku saling pamer diri

Aku hanya menatap iri

Jangan salahkan aku

Kau-lah yang mengajari

Dalam perilaku sehari-hari

Dengan perampokan yang bernama korupsi

Dengan menipuan berganti manipulasi

Dengan pemaksaan berlebel biaya administrasi

Jangan salahkan aku

Aku hanya meniru-niru

Dalam tayangan sinetron

Dalam film-film kacangan

Dalam buku-buku stensilan

Dalam CD-CD bajakan

Jangan salahkan aku

Aku hanya mengikuti

Dalam perilaku pemimpin negri

Dalam kebijakan menteri

Dalam kurikulum materi

Jangan salahkan aku

Aku hanya seonggok jasad materi

Karena jiwaku telah lama mati

Jalancagak, 2007

7. AKU TAK MAU SEKOLAH

Bu, Aku tak mau sekolah

Karena Bu Guru selalu menyuruhku berdiri di depan kelas

Mengangkat kaki dan membaca ikrar diri

-aku berjanji tidak akan terlambat lagi…-

Berkali-kali

Berpuluh kali

Sampai kakiku terasa nyeri

Aku malu tak terkira

Semua temanku tertawa

Guru-pun seperti sangat puasnya.

Bu, Aku tak mau sekolah

Karena Pak Guru selalu menatapku genit

Menjabat tanganku aneh

Membantu yang tak kuperlu

Memberi yang tak kubutuh

Memberiku nilai tambahan

Saat ujian sebagai pertolongan

Juga menemani berjalan pulang

Dan mengajak jajan bakso di pinggir jalan

Bu, Aku tak mau sekolah

Karena guruku selalu menghina

Saat Aku tak bisa menjawab

‘Anak bodoh tak berguna’ hardiknya

Sepertinya tak punya kosa kata santun

Caci maki sumpah serapah

Bu, Aku tak mau sekolah

Karena Bapak TU selalu mengejarku

Setiap hari jadi sangat tegangnya

Karena biaya lima bulan tak bisa kulunasi

Bu, Aku tak mau sekolah

Karena sekolahku sudah tak ada

Yang ada hanya pasar tempat berjual beli

Dan hutan belantara untuk adu nyali

Dimana lagi pendidikan

Tak ada perlindungan

Tak ada harapan

Bu, Aku tak mau sekolah…!

Subang, 2007

8. DOA SEORANG AYAH YANG PUTUS ASA

KARENA TIDAK MAMPU MEMBAYAR BIAYA SEKOLAH ANAKNYA SAAT MENDAFTAR DI SEBUAH SMP

Wahai Yang Maha kaya…! Ijinkan anakku jadi presiden…!

Ciwalahir, 2007

9. AJARKAN AKU SASTRA

Bu Guru…

Ajarkan Aku sastra

Agar aku suka membaca

Beragam buku karya pujangga

Karena di negri ini

Sungguh sangat lemah minatnya

Pada benda yang bernama buku sastra

Bu Guru…

Ajarkan Aku sastra

Katanya akan memperhalus bahasa

Agar tepat kupilih kata

Agar indah kususun prosa

Hingga elok apa yang kuucap

Bu Guru…

Ajarkan Aku sastra

Katanya akan melembutkan budi

Sebagai hiasan diri

Agar tumbuh sifat empati

Bisa berbagi kekayaan hati

Bu Guru…

Ajarkan Aku sastra

Katanya akan membuka jiwa

Agar hatiku bercahaya

Agar jiwaku penuh makna

Hingga tak salah mengartikan cinta

Bu Guru…

Ajarkan Aku sastra

Agar Aku kaya raya

Agar Aku jadi manusia

Ciater, 2007

10. KARENA SEBUAH PUISI

Karena sebuah puisi

Guruku pergi

Aku tak mengerti

Mengapa hal itu bisa terjadi

Pindah ke sekolah desa

Pergi ke daerah terpencil

Tinggalkan sekolah

Tinggalkan kota

Guruku

Kau bilang

Kau akan belajar di sana

Belajar menjadi murid

Murid alam raya

Belajar bahasa

Bahasa jiwa

Belajar menulis

Menulis buku kehidupan

Belajar membaca

Membaca puisi hati

Belajar menghafal

Menghafal ayat Tuhan

Belajar menghitung

Menghitung dosa

Belajar menggambar

Menggambar semesta

Kau bilang

Kau akan berteman banyak di sana

Bersama alam yang ramah

Bersama angin yang pemurah

Bersama mentari yang hangat

Bersama hujan yang bersahabat

Bersama malam yang kelam

Bersama sepi yang mencekam

Bersama hati yang buncah

Bersama panorama yang indah

Kau bilang

Kau akan hidup baru di sana

Bersama ladang ilalang

Bersama semak dan belalang

Bersama hewan peliharaan

Mengolah tanah

Membajak sawah

Menanam pohon

Menyiang rerumputan

Memelihara ternak

Merawat sapi beranak pinak

Kau bilang

Itu adalah sebuah perjalanan

Ke pengasingan jiwa yang melelahkan

Ke ladang sunyi di ujung buana

Ke pengucilan di batas benua

Tinggalkan segala kesenangan dunia

Untuk hidupkan hati

Untuk cerahkan nurani

Untuk persiapan setelah mati

Kau bilang itu adalah pengorbanan

Dan pengorbanan selalu butuh

Hati yang bersih

Jiwa yang putih

Guruku

Sungguh kau lakukan itu

Cuma karena sebuah puisi

Kau bilang kau bukan apa-apa

Kau bilang kau malu jadi guru sastra

Kau bilang kau bukan manusia layaknya

Kau bilang kau harus ke sana

Guruku

Katakan padaku

Puisi apa yang menusukmu sedemikian dalam

Mengubah paradigma

Menghancurkan tatanan

Memutar arah perjalanan

Kau bilang : Bacalah puisi Taufik Ismail

Tentang seorang mahasiswa IPB

Muhammad Kasim Arifin namanya

Itulah figur manusia sesungguhnya

Guruku…

Mengingat kembali pesan puisi itu

Aku jadi memahami

Betapa kuat tekadmu

Terus belajar menjadi manusia sejati

Sungguh, aku ingin sepertimu.

Depok – Subang, 2005 – 2007 / 2026

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: