majoi

Posted on Agustus 9, 2008. Filed under: puisi |

Syair Untuk Seorang Petani Dari Waimital Pulau Seram,

Yang Pada Hari ini Pulang ke Almamaternya

I

Dia mahasiswa tingkat akhir

Ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram

Untuk bertugas membina masyarakat di sana.

Dia menghilang

15 tahun lamanya.

Orangtuanya di langsa

Memintanya pulang.

IPB memanggilnya

Untuk merampungkan studinya,

Tapi semua

Sia-sia

II

Dia di Waimital jadi petani

Dia menyemai benih padi

Orang-orang menyemai benih padi

Dia membenamkan pupuk ke bumi

Orang-orang membenamkan pupuk ke bumi

Dia menggariskan strategi irigasi

Orang-orang menggali tali air irigasi

Dia menakar klimatologi hujan

Orang-orang menampung curah hujan

Dia membesarkan anak cengkeh

Orang kampung panen raya kebun cengkeh

Dia megukur cuaca musim kemarau

Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau

Dia meransum gizi sapi Bali

Orang-orang menggemukkan sapi Bali

Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah

Orang-orang memasang dinding dan atapnya

Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka

Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika

Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital

Jadi petani.

III

Dia berkaos oblong

Dia bersandal jepit

Dia berjalan kaki

20 kilo sehari

Sesudah meriksa padi

Dan tata palawija

Sawah dan ladang

Orang-orang desa

Dia melintas hutan

Dia menyeberang sungai

Terasa kelepak elang

Bunyi serangga siang

Sengangar tengah hari

Cericit tikus bumi

Teduh pohon rimba

Siang makan sagu

Air sungai jernih

Minum dan wudukmu

Bayang-bayang miring

Siul burung tekukur

Bunga alang-alang

Luka-luka kaki

Angin sore-sore

Mandi genyar-gebyur

Simak suara azan

Jemaah meggesek bumi

Anak petani mengaji

Ayat-ayat alam

Anak petani diajarnya

Logika dan matematika

Lampu patromaks bergoyang

Angin malam menggoyang

Kasim merebah badan

Tidur tidak berkasur.

IV

Dia berdiri memandang ladang-ladang

Yang ditebas dari hutan rimba

Dikakinya terjepit sepasang sandal

Yang dipakainya sepanjang Waimital

Ada bukit-bukit yang dulu lama kering

Awan tergantung di atasnya

Mengacungkan tinju kemarau yang panjang

Kini telah gembur, airpun berpacu-pacu

Dengan sepotong tongkat besar

Tiga tahun lamanya

Bersama puluhan transmigran

Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang

Dikais-kaisnya tanah kering kerontang

Dan airpun berpacu-pacu

Delapan kilometer panjangnya

Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja

Mengairi tanah 300 hektar luasnya

Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ

Muhammad Kasim Arifin, di sana

Berdiri memandang ladang-ladang

Yang telah dikupasnya dari hutan rimba

Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibas ekornya

Di padang rumput itu

Rumput gajah yang gemuk-gemuk

Sayur mayur yang subur-subur

Awan tergantung di atas pulau Seram

Dikepung lautan biru yang amat cantiknya

Dari pulai itu, dia telah pulang

Dia yang dikabarkan hilang

Lima belas tahun lamanya

Di Waimital Kasim mencetak harapan

Di kota kita mencetak keluhan

Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca

Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi

Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku

Ketika aku mengingatmu, Sim.

Di Waimital engkau mencetak harapan

Di kota, kami….

Padahal awan yang tergantung di atas kota juga

Kau kini telah berpulang

Kami memelukmu.

1979

(Taufik Ismail : Malu Aku Jadi Orang Indonesia : 112)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: