surat dari Bunda

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: cerpen |

Surat dari bunda

Dinda sayang…

Semoga dinda tetap dalam lindungan Allah SWT. Bunda juga berharap dinda tetap sehat dan betah di asrama. Bunda tidak sabar untuk bisa datang bulan depan. Setiap kali tiba hari sabtu, selalu saja dada bunda berdebar-debar, besok akan ke asrama, besok akan menengokmu. Besok akan bertemu denganmu, melihat bening matamu, renyah senyummu dan bunda akan mencium dan memelukmu. Rindu bunda…

Dinda sayang…

Bunda tahu kamu pasti berat tinggal di sini. Jauh dari bunda, jauh dari ayah dan saudara. bunda paham perasaanmu, namun dengan berat hati, terpaksa bunda harus melakukan ini untuk kebaikanmu.

Dinda yang disayangi Allah…

Awalnya bunda merasa bersalah karena memaksakan keinginan bunda padamu, bunda juga merasa tidak nyaman karena bunda sadar seharusnya bunda memberimu kepercayaan atau paling tidak melatihmu dalam urusanmu sendiri untuk mandiri. Namun kekhawatiran dan ketakutan bunda menyurutkan perasaan tadi, hingga bunda harus memaksamu untuk tinggal di asrama. Bunda sadar ini memang kurang tepat, tapi bunda juga merasa dinda-pun belum sepenuhnya bisa memutuskan masalah sendiri. Anggap saja ini masa peralihan memasuki masa dewasamu ke depan. Dimana dinda masih butuh arahan dan bimbingan ayah dan bunda.

Dinda yang dikasihi Allah…

Hal lain yang membuat bunda mesti memaksakan keinginan bunda adalah, karena bunda merasa tidak mampu mengarahkan dan mendidik dinda di rumah dengan optimal. Jujur saja, membaca dan menonton berita di televisi tentang pergaulan remaja seusiamu membuat bunda merinding, takut dan cemas. Membayangkan jika hal itu terjadi padamu. A’udzubillah. Bunda yakin bukan cuma bunda yang merasa seperti itu, tapi ada ratusan, ribuan, ratusan ribu atau mungkin jutaan bunda-bunda lain yang takut dan gelisah di negri ini. Maka maafkan kami jika dengan terpaksa ini kami lakukan. Semoga dinda paham akan hal ini. Dan Allah memudahkan segala kesulitan kita.

Dinda yang diberkahi Allah…

Sebenarnya kami telah lama mencari sekolah yang tepat untukmu. Kami telah datangi beberapa sekolah dan pesantren, karena bagi kami, ayah dan bunda sepakat, pesantren akan lebih aman untukmu. Namun kamipun sadar, memasukan kamu ke pesantren bukan tanpa masalah dan kendala, tidak juga ada jaminan 100 % aman. Kami sudah sering mendengar masalah-masalah yang ada di pesantren. Namun kami akhirnya harus memilih, dan dengan beberapa catatan akhirnya kami sepakat agar kamu di pesantren saja. Pilihan berat memang, terutama karena harus berpisah denganmu. Dan yang lebih berat lagi adalah, kamu belum tentu suka.

Duhai putriku sayang

Bunda bukan tanpa beban melepasmu ke sini, bunda sangat berat sesungguhnya. Namun bunda tidak mungkin menampakan sedih bunda di hadapanmu. Saat kami pulang dari mengantarmu di hari pertama, kami berhenti dalam perjalanan di tengah hutan karet. Tahukah dinda apa yang terjadi? kami menangis, ya kami menangis bersama. Ayah yang selama ini tidak pernah menangis tak kuat menahan sedih dan haru. Ia sedih memikirkanmu. Karena harus berpisah denganmu dan jauh darimu.

Dan yang membuat kami merasa sangat haru, karena tanggungjawab kami sebagai orangtua, apakah ini memang yang terbaik? Apakah harapan kami akan terwujud, bahwa dinda akan menjadi anak sholihah yang hafidzoh. Ya Allah, beri kami anak yang sholihah, anak yang hafidzoh…!

Dinda calon hafidzoh…

Saat bunda mendengar azan berkumandang, bunda menerawang, pasti kamu dan teman-temanmu sedang berebut wudhu, berdesakan, beriringan menuju masjid, asik sekali. Setelah sholat kau akan berzikir bersama, mambaca matsurot dengan khusu’. Lalu melafazdkan asmaul husna… syahdu sekali. Setelah itu secara bergilir kau akan setor hafalamu di depan bunda guru, asik sekali. Bunda tersenyum membayangkan kegiatanmu di asrama, namun anehnya, dalam senyum bunda selalu saja pipi bunda basah dengan air mata. Tapi air mata bangga dan bahagia. Ya bunda sangat bahagia dan bangga padamu. Seakan bunda ingin bergabung bersamamu. Dalam lingkaran iman. Dalam majlis keilmuan. Dalam suasana persaudaraan…

Dinda yang bunda sayangi…

Bunda tahu kamu ingin masuk smp negri seperti anjuran guru-gurumu di SD, karena prestasimu yang bagus akan lebih berkembang di smp negri begitu kata mereka. Dan lagi kalau di pesantren sangat tidak kondusif untuk belajar. Lanjut mereka lagi. Karena gambar pesantren selalu identik dengan beberapa catatan negative. Memang benar, smp negri bisa menjadi tempat yang baik dalam mengembangkan prestasi akademikmu dinda, tapi tetap saja harus difahami, bahwa itu bukan satu-satu kemungkinan. Apalagi hal itupun bukan tanpa masalah. Lingkungan dan pergaulan yang kurang islami menurut bunda malah lebih besar mudhorotnya dari sekedar masalah prestasi akademik. Apalagi sekarang ini sudah banyak pesantren yang mempunyai prestasi bagus dalam akademik fasilitas dan programnyapun bagus-bagus. Namun tetap menjadikan pembinaan akhlak sebagai program prioritasnya. Untuk itulah bunda berkeliling mencari pesantren yang tepat untukmu. Agar potensi dan bakatmu tetap bisa berkembang optimal, dan tentu saja pembinaan akhlakmu menjadi prioritas utama bagi bunda.

Dinda yang disayang Allah…

Tidak mudah memang menemukan sekolah dengan kriteria seperti itu. Namun bunda yakin, kalau keinginan kita kuat dan ikhtiar yang kita lakukan optimal maka Allah akan memberikan pilihan terbaik pada akhirnya. Meski tidak sengaja, tapi bunda merasa informasi yang bunda dapat dari seorang kenalan tentang sekolahmu sekarang sangat menenangkan hati bunda. Sepertinya bunda cocok dengan konsep dan program-program yang ada di brosur. Dan setelah bunda survey juga bertemu dengan guru-guru di sana bunda semakin yakin akan pilihan ini. Inilah tempat terbaik untuk dinda. Dengan bismillah bunda pasrahkan diri pada Allah untuk menyerahkan pendidikan dinda di sekolah itu.

Dinda putriku sayang…

Bagi bunda, pendidikan al-quran dan akhlak adalah yang pertama dan utama. Karena itu menjadi dasar untuk pendidikan yang lainnya. Coba dinda lihat, betapa nelangsanya negri ini karena diatur oleh orang-orang tidak mengerti al-quran dan tidak memiliki akhlak mulia. Kalau sekedar cerdas dan kreatif, tentu saja mereka memiliki syarat itu, tapi tanpa arahan al-qur’an dan dasar akhlak mulia semua itu akan mudah runtuh dan hilang. Maka dinda sayang, ketika akhirnya bunda memilih sekolah ini sebagai tempat pendidikan untuk dinda, yang menjadikan program unggulannya adalah al-qur’an bunda langsung merasa cocok. Semoga Allah mengabulkan harapan bunda dan dinda diberikan kemudahan untuk menjadi hafidzoh yang sholihah di sini. Aamin. Sepuluh duapuluh tahun ke depan, dinda dan teman-teman lain akan menjadi pemimpin di negri ini. Pasti ibu pertiwi sudah lama sekali menuggu tampilnya pahlawan dari anak-anak negri yang mengurus kampung besar Indonesia ini dengan panduan al-qur’an. hiasan mereka adalah akhlak mulia. Senjata mereka adalah ilmu. Dan modal utamanya adalah iman.

Dinda sayang..

Engkau adalah satu diantara mereka itu. Ya engkaulah pahlawan itu. Yang akan mengurus negri ini sebagai amanah dari Allah. Engkaulah yang akan merebut takdir kemenanganmu. Tidakkah kau ingat pernyataan Allah…,” Engkau adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia…” itulah takdirmu anakku. Takdir kemenanganmu. Kemenangan kebenaran atas kebatilan. Kemenangan keindahan atas kebobrokan. Keadilan atas kedzoliman. Cahaya atas kegelapan. Kemulian atas kehinaan.

Wahai dinda… majulah terus, rebutlah takdir kejayaan islam. Kau akan dapati cahaya islam akan menerangi dunia ini. Maka kedamaian, keadilan dan kesejahteraan akan menangungi semua penghuninya.

Semoga Allah memudahkan semua urusan kita. Aamin.

Salam rindu bunda dan ayah buatmu.

(kampus ilmu, 17.03.07 – 20.26)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: