sikat yang bersedih

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: cerpen |

Konon di sebuah negri sikat, sebuah keluarga sikat tengah makan malam bersama. Mereka terdiri dari ayah sikat, ibu sikat dan tiga orang anak sikat. Sambil makan mereka saling bercerita tentang fungsi dan tugas mereka di tempat masing-masing.

Sang ayah adalah sebuah sikat besar yang selalu bekerja berat. Tipe pecinta kebersihan sejati. Ia bekerja pada sebuah bank swasta yang besar. Bank itu sangat bersih. Hal itu tak lepas dari andil sang bapak sikat. Ia-lah yang banyak memberikan kontribusi pada perusahaan sehingga bank itu benar-benar sebagai bank terbersih se propinsi wilayah sikat.

Sedang ibu sikat adalah sebuah sikat yang bersih dan ramping. Ia bekerja di sebuah super market di pusat kota. Super market itu adalah sebuah pusat perdagangan serba ada. Aneka barang tersedia di sana. Banyak orang dari segala penjuru berdatangan ke sana. Sebagian mereka berbelanja kebutuhan sehari-hari, sebagian lainnya hanya berjalan-jalan saja sambil melihat-lihat barang.

“Aku tidak begitu suka dengan orang-orang itu” Ibu sikat sedikit mengeluh. “Kerjanya cuma jalan-jalan saja” Tambahnya. “Apalagi mereka suka buang sampah sembarangan. Padahal sudah disediakan tempat sampah…” kembali bu sikat mengeluh. Meski begitu . supermarket itu terkenal karena kebersihannya. Si ibu sikat tentu saja punya peran besar untuk kondisi kebersihan yang dirasakan banyak orang itu.

Si sulung sikat kini melanjutkan obrolan mereka. Ia adalah sebuah sikat sedang yang kuat. Dia bekerja di sebuah rumah makan besar di pinggir kota. Rumah makan yang asri itu sangat terkenal karena kebersihannya. Dan si sulung dengan sangat bangga menceritakan bagaimana ia berjasa dalam menjaga kebersihan di rumah makan tersebut.

“Orang-orang di sana sungguh sangat perhatian terhadap masalah kebersihan.” Si Sulung sikat mulai bercerita. “ Setiap orang punya tanggung jawab yang sama dalam masalah kebersihan.” Lanjutnya. “Mereka misalnya, sangat sensitive jika ada sesobek kecil sampah saja yang tergeletak di lantai. Mereka akan langsung memungutnya dan membuang ke tempat sampah.” Terlihat sinar kebanggaan di wajahnya.

“Bagaimana dengan mu hai bungsu…?!” Ayah sikat memotong bertanya pada si bungsu sikat. Ia adalah sikat kecil yang mungil. Warnanya biru muda, ada hiasan bunga ditungkainya. Ia memang sikat gigi yang dipakai oleh seorang gadis kecil murid SD.

“Aku suka sekali, karena tuanku selalu menggunakan aku setiap pagi dan petang.” Si bungsu kini bercerita. Wajahnya memerah semu, seperti tengah terjemur matahari.

“Mengapa wajahmu jadi merah begitu bungsu?” Si sulung bertanya lembut.

“Karena aku sangat gembira, karena aku bisa membantu membersihkan gigi tuan putriku yang cantik itu.” Sahut si bungsu tersenyum.

“Bagaimana denganmu tengah…?” Ayah kini bertanya pada si tengah yang sejak tadi berwajah murung. Si tengah diam saja. Ia menunduk sedih. Seperti ada sesuatu yang dipikirkan.

“Kenapa kamu tengah? Ayo ceritakan tempat tugasmu! kami ingin mendengarnya.” Bujuk Ibu sikat. Si tengah masih diam. “Ayolah…” Kembali Ibu sikat membujuknya.

“Aku malu menceritakannya.” Akhirnya si tengah mulai bersuara. Tapi wajahnya masih menunduk.

“Tidak apa-apa, ayolah ceritakan…” Si sulung menambahkan. Akhirnya si tengah melanjutkan ceritanya

“Orang-orang di tempatku tidak semua perhatian dalam masalah kebersihan. Aku lebih sering dibiarkan tak terpakai di kamar mandi. Sisa-sisa pembungkus sampo atau sabun dibuang begitu saja di kamar mandi. Malah kadang-kadang pembalut di buangnya di liang WC. Mereka sepertinya tidak sadar bahwa itu bisa membuat WC jadi mampet.” Si tengah mulai lancar bercerita. Mungkin ia merasa sudah tenang hatinya. Lalu melanjutkan “Anak-anak itu kadang juga membiarkan jemuran pakaian mereka yang jatuh sampai menumpuk berhari-hari. Setelah itu akan jadi barang yang tak terpakai lagi. Padahal ibunya membeli dengan harga yang tidak murah.” Kini si tengah menunduk lebih dalam lagi. Ia sangat prihatin dengan kondisi itu. “Tidak hanya di kamar mandi.” Si tengah melanjutkan lagi, “Merekapun suka membuang sampah-sampah kecil ke luar jendela kamar, padahal sudah ada tempat sampah di banyak tempat.” Suara si tengah makin lemah. Wajahnyapun tak terlihat senyum seperti saudara-saudaranya. Semua jadi diam. Terbawa perasaan si tengah. Ia berkata lagi, “Kalau mereka makan suka membiarkan sisa-sisa makanan di tempat makannya. Padahal kebersihan itukan sebagian dari iman ya bu…?” Si tengah bertanya pada ibunya. Ibu sikat tidak menjawab. Tapi anggukannya yang diiringi senyum itu memberi jawaban tersendiri bagi si tengah. Dibelainya rambut si tengah dengan mesra.

“Memangnya di mana sih mana kakak bekerja …?” Si bungsu tiba-tiba bertanya pelan.

“Di es-em-pe i-te as-syifa…” Jawab si tengah pelan, nyaris tak terdengar.

kampus bersih, as-syifa

sore gerimis lagi, 15 Februari 2007

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: