sawah

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: cerpen |

mandi lumpur

Tak pernah ada pengalaman seperti ini. musim hujan tiba, hamper setiap hari hujan. basah, dingin, kabut dan gerimis terus menerus. suara katak riuh setiap menjelang malam. Heboh. Mana ada suasana ini di rumahku. Tapi girls, ada lagi yang lebih wuasik. Saat hujan datang seperti ini, saatnya bagi Mang Dudu, pegawai yayasan yang mengurus kebun mulai membajak sawah. Ya, sawah di belakang sekolah memang sawah tadah hujan, artinya hanya ditanami saat musim hujan. Mang Dudu tidak sendiri. Beberapa orang penduduk kampong berkerja sama membajak, mencangkul dan mengolah tanah dan lumpur sawah untuk siap ditanami. Nah yang bikin wuasik tadi adalah, kami murid-murid imut ini boleh membantu proses pengolahan sawah dan menanam padi . Pengalaman yang ini malah sangat tidak mungkin ada di rumahku. Luar biasa.

Awalnya, sebulan sebelum bibit padi di tanam kami diajak untuk memulai dengan menanam butir-butir padi menjadi benih. Sepekan setelah itu, butir padi mulai berkecambah terus tumbuh setiap harinya menjadi benih padi. Seperti rumput. Hijau dan tertata rapi di tanah-tanah persegi yang basah. Sekitar 3 – 4 pekan setelah itu benih sudah siap dipisah-pisahkan untuk ditanami. Sambil menunggu 3 – 4 pekan itu, Mang Dudu dan beberapa orang kampong mengolah sawah untuk siap ditanami. Dan mereka siap membantu kami atau lebih tepatnya mereka siap kami repotkan dengan berbagai pertanyaan dan peraktek turun ke sawah. Betapa senang bisa berkotor-kotor seperti petani. mamaku di rumah paling tidak suka melihat aku turun ke tanah becek apalagi berlumpur seperti ini. Mungkin mamaku belum tahu kalau di balik kotoran itu ada pengalaman berharga yang dialami setiap anak. Kalau tidak kotor kapan belajarnya…hii ngiklan bageet ya… Nah, di sini bukan cuma aku turun di tanah becek, tapi juga basah, kotor dan penuh lumpur. Nekat bener… maaf ya Ma…!

Sebenarnya tema kerennya adalah –peraktek lapangan proses penanaman padi– tapi kami lebih memilih dan mengubah tema itu menjadi lebih sederhana dan singkat, yaitu –mandi lumpur– iya kan, kesannya lebih asik, ringan, heboh, funny bahkan lebih populis dan membumi malah hehehe… Tentu saja itu bagi kami anak-anak as-syifa ini. Kami memang lebih menikmati mandi lumpurnya ketimbang kenapa sawah mesti dibajak, bolak-balik, diinjak-injak agar lunak, diatur aliran airnya lalu dibuat garis-garis searah di atas lumpur yang lembut itu. Kami juga tidak terlalu peduli dengan cara penanamannya. Kenapa harus lima rumpun dalam satu lobang, kenapa harus ibu jari dan telunjuk… kenapa harus begini begitu terserah. Bahkan teman-temanku asik berendam lumpur saat Mang Dudu menjelaskan teori-teori tadi. Terima kasih Mang Dudu dan mang-mang yang lain. Kami mendapatkan pengalaman baru yang sangat seru. Tapi sayang bukan yang Mang Dudu berikan, Karena kita telah merubah tema besar yang keren itu menjadi mandi lumpur saja hahaha…luar biasa.

(buat : para pembelajar sejati)

241107

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: