pada sebuah sekolah

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: bukuku |

Pada Sebuah sekolah

(kisah –kisah dari sekolahan)

Daftar isi

Persembahan

Awal Kalam

Pada Sebuah Sekolah

(Hati Sang Guru)

Adrenalin Test

Pondok di atas Bukit

Petualangan di Pulau Tikus

Perang Air

Tarik Tambang

Pulau Rambut

Basah, Basah, Basah…

Guruku

Puisi : Taufik Ismail

Rahasia Kematian

Suka Duka Panitia

Misteri Pantai Gedong

Hari Palestina

Pada Sebuah Sekolah

(kenangan seorang murid)

Perpisahan

Akhir Kalam

Biodata

PerSEmbah@n

UntuK :

§ Semua murid saya,

yang telah melewati

hari-hari indah dan heboh

bersama.

§ Rekan-rekan guru,

Teman di kala duka,

Sahabat di saat suka

§ Bu Imas, yang sering mengoreksi oret-oretan saya sehingga bisa terbaca.

§ Anak-anak saya,

yang selalu memberi

energi baru setiap hari

§ Siapa saja yang mau baca

Awal Kalam

Saya guru

Saya suka jalan-jalan.

Saya juga suka menulis

Jadilah buku ini

Ya, memang seperti itu awalnya

Buku ini memang catatan seputar

Profesi dan hobi saya

Karena saya guru,

Tentu saja interaksi saya banyak

dengan murid dan rekan sekerja

Karena saya suka menulis,

Maka saya tulislah pengalaman-pengalaman itu.

Sederhana bukan?

Tulisan ini memang khusus

Seputar hubungan saya

Dengan murid-murid

Dan teman-teman sesama guru.

Sayang jika kenangan itu terbuang

Saya hanya ingin menyampaikan

Rasa cinta saya

Melalui tulisan ini

Bahwa saya mencintai profesi saya

Bahwa saya mencintai murid-murid saya

Juga teman-teman saya sesama guru

Dan saya ingin berbagi dengan mereka

Pengalaman saya

Pada Sebuah Sekolah

Bersama mereka

Seperti apa perasaan saya

Gejolak hati saya

Itu saja.

Saya juga tidak mungkin melupakan

para orangtua murid

Mereka adalah patner saya

Teman bicara dan ‘curhat’

Kadang saya minta nasihat

Mereka sangat kontributif

Memberi banyak hal. Apa saja!

Kebersamaan saya dengan mereka ; murid, para guru dan orangtua

Sungguh telah banyak memberi

Makna pada diri saya

Saya juga jujur mengatakan

Bahwa murid-murid saya misalnya, adalah juga guru bagi saya

Saya banyak belajar dari mereka

Dari kesungguhan mereka

Dari cita-cita dan harapannya

Dari keinginannya

Dari kreasi dan prestasinya

Dari nada bicaranya

Dari sorot matanya

Dari tawa dan marahnya

Dari canda dan sikap jailnya

Dari cibir dan sinisnya

Dari senyum dan penghormatannya

Dari semuanya…

Mereka menginspirasi saya banyak hal

Mereka mengajarkan saya banyak makna

Bahwa hidup,

Bukan cuma hitam putih

Hidup adalah pelangi,

Indah dan warna-warni

Ada warna yang saya suka

Ada warna yang tidak saya suka

Semua harus saya terima

Sebagai konsekwensi hidup

Dengan itu saya merasa lebih kaya

Kaya dengan rasa

Kaya dengan warna

Warna jiwa

Warna hati

Warna cinta

Terima kasih atas segalanya

Terima kasih untuk semuanya

Terima kasih dalam kebersamaannya

Hanya Allah saja yang akan

Membalas dengan yang lebih baik lagi

Semoga Allah,

Menyuburkan cinta kita

Menguatkan ukhuwah kita

Menerima amal kita

Mengampuni kesalahan kita

Mengekalkan iman kita

Meridhoi kita

Dan mengumpulkan kita kelak,

Untuk reuni di surga-Nya

yang penuh kenikmatan. Aamin.

Dwi Fahrial.

Pada Sebuah Sekolah

(Hati Sang Guru)

Sekolah adalah rumah

Tempat yang harus kujaga, kupelihara

Tempat yang memberi kenyamanan

dan keamanan untuk semua

Tempat berkumpul bersama

Bercengkerama dengan seluruh anggotanya

Menghidupkan suasana

dan menumbuhkan perasaan bahagia.

Juga melindungi dari segala bahaya

Sekolah adalah masjid

Tempat beribadah

Saranaku berjihad

Tempatku mendidik murid dan pribadi

Membentuk budi pekerti

Mengingatkan yang lupa

Meluruskan yang bengkok

Melunakkan yang keras

Mengeraskan yang lunak

Memberi nasihat

Agar ingat akhirat

Menyadarkan bukan memaksa

Mencontohkan bukan menekan

Sekolah adalah tempatku beramal

Memberi tanpa harap kembali

Berkorban untuk kebaikan

Beramal dengan keikhlasan

Bekerja bukan semata harta

Bukan pula hanya untuk dunia

Juga bukan untuk dirinya saja

Sekolah adalah tempatku untuk melatih;

Menahan marah dengan istighfar

Menerima kekurangan dengan bersabar

Melawan kecewa dengan lapang dada

Menghadapi perbedaan dengan tenggang rasa

Tempat untuk biasa

Menerima kritik dan masukan

Nasihat dan teguran

Bahkan umpatan juga ancaman

Sekolah adalah kesempatan bagiku untuk memberi

Segala yang kupunya

Segala yang kubisa

Dengan segala kekurangan

Dengan segala keterbatasan

Sekolah adalah proses panjang

tempat untuk mempersiapkan

satu generasi militan

Yang mulia akhlaknya

Baik ibadahnya

Cerdas otaknya

Luas wawasannya

Sehat dan kuat fisiknya

Mandiri dan Teguh pendiriannya

Kreatif dan suka menolong siapa saja

Sungguh luar biasa

Betapa dahsyatnya

Negri yang memiliki pemuda seperti ini

Betapa bahagia para orangtua

Betapa senang masyarakat semua

Betapa kemilaunya zaman

Betapa manisnya kehidupan

Betapa cerahnya masa depan

[ sungguh berat amanat seorang guru. karna ini harus dipertanggung jawabkan

di hadapan pengadilan Tuhan…]

Sekolah adalah arena pertarungan melawan jahatnya lingkungan

Menghadapi bahaya media dan hiburan

Dan berbagai makar tuk hancurkan

Generasi harapan

Korban sudah banyak berjatuhan

Berserakan di jalan-jalan

Tercampak di panti-panti penampungan

Terkurung di balik jerali pemasyarakatan

Bahkan,

Terpenjara di rumah-rumah megah

Dengan materi dan aneka fasilitasnya

Terkapar di gedung-gedung mewah,

Dengan kebebasan dan jerat narkoba

Sungguh mengerikan bahwa itu terjadi

Di hadapanku

Anak-anak negri terkulai menjadi korban

Hidup tanpa semangat

Tumbuh tanpa cita-cita

Hari berlalu dengan sia-sia

Alangkah bersyukurnya

Engkau yang dapat belajar

Ketika teman-temanmu

Tak dapat kesempatan

Karena berada di jalan

Atau bekerja pabrik-pabrik berdebu

Atau sekolah menjadi

Bandar obat-obat syetan

Dan kelas menjadi ajang pamer kekayaan

Ekstrakurikulernya tawuran

Dan pilihan wajibnya pacaran

Ketika mereka tak dapatkan cinta dan perhatian

Dari orangtua yang selalu sibuk

Mereka menjadi korban…

Kejamnya sistim kehidupan

Bebasnya pergaulan

Lemahnya pengawasan dan

Tak berdayanya lembaga pendidikan.

Sungguh mengenaskan…

Sementara kau bersama temanmu

Ada di sekolah yang nyaman

Dengan banyak kelebihan

Dengan lingkungan yang mengesankan

Teman yang saling mengingatkan

Guru yang sungguh perhatian

[ Aku kini tercenung,

apakah aku seorang guru yang perhatian…,

Memberi apa yang dibutuhkan

Berbuat apa yang diharapkan

Dan bekerja dengan keikhlasan…?]

Karena kutahu …

Sekolah bukanlah pabrik untuk mencetak 100 orang menjadi sama

Sekolah adalah tempat untuk mengenali 100 karakter berbeda

Dan memberikan perlakuan berbeda

Bukan sekedar mentransfer ilmu

Datang ke kelas untuk bertemu

Namun lebih dalam dari sekedar itu

Menautkan hati dengan hati

Jiwa dengan jiwa

Memberikan simulasi

Mengenali potensi diri

Melatih untuk mandiri

Aku sungguh khawatir

Jika hanya menjadi pekerja sekolah

Guru yang datang setiap hari

Masuk ke kelas-kelas

Memberi banyak tugas

Memberi catatan dan latihan

Memberi denda dan hukuman

Memberi soal-soal ulangan

Memberi nilai yang dibutuhkan

Dan selesailah semua kewajiban

Alangkah semu semua itu

Alangkah dangkal tugas para guru

Terjebak dengan makna yang menipu.

Jadilah aku guru yang tampil tanpa pesona,

Hadir dengan persiapan ala kadarnya

Menyampaikan materi tanpa nyawa

Memberi ilmu tanpa warna

Lemah tanpa tenaga

Bayangkan,

Murid yang pulang tanpa kesan apa-apa

Tak ada yang istimewa

Tak ada tanya di benaknya

Murid adalah selembar kertas putih

Yang jatuh dari langit zaman

Dan aku harus menulis puisi-puisi indah

Di lembar-lembar jiwanya yang bersih

Sungguh bagiku suatu kehormatan

Bisa bersamanya dalam meniti masa

Merangkai cita-cita

Merancang masa depan

Yang akan menghebohkan

Melihatnya tersenyum menatap

langit harapan nan gemilang !

(Cimanggis, Juli 1997 – Juli 2003)

ADRENALIN TEST

Ramadhan lagi

Puasa lagi

Sanlat lagi

Tapi kali ini beda

Aku ikutan acara sanlat sekolah

Acaranya di luar kota

Sebuah komplek penginapan

Yang terletak tak jauh

Dari gerbang hutan lindung

Di Gunung Bunder, Bogor.

Halaman berumput luas

Ada taman bermain

Pemandangan indah

Dan hawanya segar

Rencana awalnya malah di tenda

Di lokasi perkemahannya

Tapi karena khawatir hujan,

Dan peserta lumayan banyak

Akhirnya panitia mengalihkan tempatnya

Namun nuasa alamnya masih sangat terasa.

Seting acaranyapun banyak yang berhubungan dengan alam, seperti;

Di bawah malam Ramadhan,

Tarawih di hutan,

Perjalanan malam,

Menyambut fajar,

Melintas hutan,

Adrenalin test, dll.

Selain itu ada materi-materi yang disampaikan di aula pondok.

Saat pagi dan sore, acaranya jalan-jalan melintasi hutan. Sungguh indah

Sangat menyenangkan.

Tak terasa capek meski sedang puasa

Menyusuri jalan setapak. Menanjak, menurun, berkelok kelok, masuk ke tengah hutan. Di bawah keremangan. Sama sekali tidak menyeramkan. Justru sangat mengasyikan. Pemandangan indah. Pohon-pohon besar tegak berdiri, kerimbunan, hamparan rumput hijau, semak dan belukar, sengangar serangga, gemericik air berpacu-pacu, hembusan angin dan keheningan. Udaranya sangat sejuk, bersih dan menyegarkan.

Aku sungguh menikmati. Asyik sekali.

Kau pasti suka!

Menyusuri sungai kecil yang jernih. Bunga-bunga liar aneka rupa,

Kupu-kupu aneka warna.

Mendengar merdunya melodi alam,

Hembusan angin,

Gesekan batang,

Gemeretak ranting kering yang patah Siulan kutilang.

Hanya ada nyanyian alam.

Suara alam.

Bahasa alam.

Alam sungguh menenteramkan.

Sangat bersahabat

Sayang, tidak semua orang mencintai alam. Menjaga dan memelihara alam

Keserakahan telah menghancurkan hubungan persahabatan

Padahal alama adalah

Warisan tak ternilai bagi umat manusia.

Pemandangan lembah

Tebing dan bukit-bukit

Cadas dan bebatuan.

Rimbun pepohonan

Jalan setapak membelah hutan

Berkelok-kelok

Asyik sekali mengikuti hingga jauh ke tengah…

Hutan lindung yang indah.

Yang paling menarik adalah materi Adrenalin test. Materi ini untuk menguji nyali. Mengukur keberanian.

Panitia membuat dua jenis acara,

Pertama Saroya, atau jalan malam

Kedua, Flying Fox. Meluncur dari ketinggian.

Yang pertama sungguh menyeramkan

Yang kedua sangat menegangkan.

Berjalan malam, apalagi di tengah hutan

Bukan hal yang biasa aku lakukan.

Jujur saja, aku masih belum akrab dengan kegelapan.(baca: penakut)

Meski di rumah sekalipun.

Maka bisa kau bayangkan ketika aku harus melakukan itu.

Malam hari, berjalan sendiri.

Dan jangan lupa, di tengah hutan.

Panitia masih baik hati

Memilih rute jalan aspal kecil yang membelah hutan.

Itu jalan umum, kadang-kadang

Mobil atau motor lewat.

Tapi itu siang hari.

Kalau malam? Sepi!

Awalnya peserta berjalan secara berkelompok yang berjumlah sepuluh orang

Sampai pos kedua dikurangi lima orang.

Pos ketiga tinggal dua orang

dan pos keempat hanya berjalan seorang diri.

(Seperti itulah kata Pak Joko, perjalanan manusia. Tadinya bersama. Berkumpul dengan keluarga. Teman dan kerabat lainnya. Akhirnya satu persatu anggota keluarga pergi mendahului kita. Begitu pula teman dan kerabat. Dan kita akan sendiri. Suka atau tidak suka, kau juga akan sendiri nantinya. Di dalam kubur!)

Kau tahu? Aku hampir mati ketakutan karena berjalan sendiri.

Ya kau boleh tertawai aku,

Karena kamu tidak mengalami sendiri

Jika kau seperti aku,

Kau akan mati berdiri!!

Berjalan di kegelapan, seorang diri, di temani pohon-pohon besar, batu-batu dan tebing. Hembusan angin, membuatku merinding.

Semua jadi serba hitam

Semua jadi serba menyeramkan.

Padahal jika siang pemandangan itu indah sekali, menyenangkan.

Perjalan ke pos keempat itulah yang paling menyeramkan.

(Kata panitia. Rasa takut itu hanya bayangan diri sendiri. Kitalah yang menciptakannya sendiri dalam diri kita.

Berbagai gambar menyeramkan yang pernah terekam akan keluar satu persatu.

Dan rasa takut yang tak terkendali, akan membuat gambar-gambar dalam benak kita semakin banyak.

Dan tujuan acara itu adalah,

melatih melawan ketakutan diri sendiri.

Bahwa ketakutan yang ada itu ternyata bisa dilawan. Jika tidak, rasa takut itu akan terus menguasai pikiran kita.

Apa yang ditakutkan? Gelap.

Sekarang masuklah dalam gelap.

Apa yang kau rasakan?

Gelap bukan apa-apa ternyata. Ia bagian dari keseharian kita. Gelap ada di mana-mana. Kamu takut bukan karena di hutan. Kamu takut karena gelap.

Toh ketika siang hari, kamu tidak takut.

Bahkan menikmati.)

Weisss… bener juga panitia!.

Berbekal itulah aku beranikan diri.

Berjalan pelan. Melawan takut.

Sendiri. Tanpa teman. Tanpa senter.

Pikiranku penuh dengan bayangan-banyangan yang menyeramkan.

Benar. Bayangan itu aku ciptakan sendiri. Agar aku kalah. Menjadi pecundang. Makanya harus kulawan. Aku buang semua bayangan itu.

Aku ganti dengan hal-hal yang menyenangkan, menggembirakan. “Bagaimana kalau kau anggap perjalanan ini dilakukan di siang hari.” Bisikku pada diriku sendiri.

“Wah, usul menarik itu.”

“Paling tidak, kau akan merasa nyaman berjalan di siang hari…”

“Benar, Usulmu menarik!”

Ternyata aku bisa.

Aku berhasil melewati pos keempat. Rasa takut yang menyergapku sudah hilang. Aku mampu melawan dan mengusirnya jauh-jauh.

Aku berhasil membuat gambaran yang menyenangkan dalam pikiranku. Dan Alhamdulillah alam sangat membantu. Karena saat itu bulan purnama penuh. Kau tahu? Malam itu seperti remang-remang saja. Hehehe…

Uji keberanian yang kedua adalah

Flying Fox.

Meluncur dari tebing.

Kau pernah mencoba?

Kau harus melakukannya!

Ini sungguh menegangkan

Kernmantel (Tambang besar) ukuran 10 mm direntangkan di dua titik.

Ujung pertama di atas tebing

Diikat dengan kuat di batang pohon

Bahkan untuk menjaga ketinggian

Masih ditambah tangga darurat untuk menggapai tambang

Ujung lainnya di bawah sana

Diikat di pangkal pohon lainnya

Berdiri di tebingnya saja sudah bikin ngeri

Apalagi meluncur ke bawah sana

Dengan memegang dua ujung tambang yang diikat ke pole atau roda kecil. Roda itu terbuat dari baja asli dengan kekuatan 5000kg. Roda itu akan berputar cepat di atas tambang dengan beban tubuh kita yang tergantung di bawahnya.

Untuk keamanan, ada tali lain yang mengikat tubuh ke tambang utama

[ sebelum meluncur, setiap peserta ditentir secara berkelompok cara memasang tali pengaman tubuh. Dari mulai memasang harness (tali pengaman) yang diikat di pinggang dan dua pangkal paha dengan ikatan kuat. Lalu dimasukan carabiner (semacam pengait) di harness itu. Bisa di depan atau di belakang. Setelah itu memasukan desceunder (figur X ) yang berbentuk angka delapan, ke carabiner. Di mana ujungnya akan terkait di kernmantel (tambang utama) ]

Jadi pahitnya, jika pegangan lepas, tubuh tidak jatuh ke tanah, tapi akan menggantung di tambang.

Bagi yang takut ketinggian pasti akan sangat sulit melakukan ini.

Kau tidak takut ketinggiankan?

Kau harus mencobanya!

Memang, keberanian benar-benar diuji

Kuatnya nyali akan dibuktikan

Makanya panitia memberi nama

Adrenalin test. Uji keberanian.

Melihat yang lain meluncur sepertinya akan mudah-mudah saja, nggak masalah.

Namun ketika kau berdiri di atas tebing

Lalu menaiki tangga dan memegang tali

Memandang ke bawah sungguh membuat nyali menciut dan keberanian jadi mengkerut

Membayangkan tubuh jatuh dari atas tebing,

Lalu meluncur ke bawah, membuat darahmu berdesir, jantung berdegup keras dan tubuh gemetar dan otot melemas.

Belum lagi keringat dingin dan puncaknya,… hahaha, pipis di celana.

Jangan kau lakukan itu ya…?

Selalu saja orang yang ketakutan akan melewati fase-fase itu

Salah satu atau keseluruhannya

Tentu saja kau tidak akan mempermalukan dirimu sendiri bukan?

Dengan membiarkan rasa takut mengalahkanmu kan?

Namun seperti juga rasa takut pada gelap misalnya, ia akan hilang ketika diterangi.

Awalnya seakan terlihat mengerikan

Setelah mencoba kau akan ketagihan.

Asyik sekali!

Cobalah!

Buktikan sendiri!

Lawan rasa takutmu

Naiklah ke tebing sana

Pasang tali pengaman

Pastikan sudah kuat terikat

Pegang dua ujung tali dengan erat

Dan bersiap meroket ke bawah

Sampai sini degup jantungmu akan semakin keras

Desir darahpun terasa makin cepat

Tubuh agak gemetar

Wajah pucat Dan keringat dingin mulai keluar

Sekali lagi, Jangan biarkan rasa takut mengalahkanmu

Buat suasanmu senyaman mungkin

Tenangkan dengan dzikir dan…

Panitia akan memintamu berteriak

Untuk melawan ketakutanmu!

“Kau sudah siap!” bentaknya.

“Siap!” jawabmu keras

“Takbir!” perintahnya lagi

Allahu Akbar!” teriakmu lebih keras

Go…!”

Majulah dua langkah dan biarkan tubuh jatuh dari bibir tebing itu

Ia tidak akan jatuh menghempas tanah

Tapi akan meluncur deras di bawah tambang itu…

Seperto ada bandul berat yang menarikmu

Nikmatilah!

Detik-detik itu akan kau rasakan

Degup jantungmu yang berpacu-pacu

Namun detik berikutnya kau akan rasakan suasana yang berbeda

Angin kuat menerpa wajah dan rambutmu

Kau hampir tak bisa melihat

Tapi jangan pejamkan mata

Sayang pengalaman itu jika tidak kau lihat sendiri

Seketika itu juga hilang semua rasa takut

Kau malah tampak gembira tertawa dan berteriak keras

Tubuhmu terus meluncur makin cepat

Seperti superman saja layaknya

Kau akan rasakan

Betapa asyiknya melakukan itu

Menggantung di ketinggian

Lalu meluncur dalam kecepatan

Betapa ringan rasanya badan

Padahal hanya bertumpu pada pegangan

Terus melayang,

Melewati sungai kecil,

Membelah jalan raya dan

Menembus semak belukar

Melewati dua, tiga, lima, banyak batang pohon, yang berjejer di sisi kiri dan kanan

sampai akhirnya mendarat

di dataran rumput terbuka

Jangan khawatir!

Di ujung tambang bagian bawah dibuat semacam simpul yang berfungsi sebagai rem, agar tubuhmu tidak menghantam batang pohon ketika mendarat.

Benarkan, kau bisa melakukannya

Kaulah kini pemenangnya!

Kau telah mengalahkan ketakutanmu sendiri.

Kau layak merayakannya…!

Mari kita rayakan bersama…!

Kau tahu?

Aku sudah meluncur empat kali.

Dan aku masih ingin mencoba lagi.

PONDOK DI ATAS BUKIT

Terus terang aja

Awalnya aku nggak suka

Ikut acara kelas kayak gine

Pinginnya seh

Guru ga usah ikut

Cuma kita-kita aja

Byar bisa oke-oke,

Ga ada yang ngawasin

Ga ada yang ngomel-ngomel

Ga ada yang ngelarang-ngelarang

Tapi apa boleh buat

Karena seluruh temen kelas ikut

Dan bundaku juga nyuruh terus

Ya ikutan juga deh

Namanya juga acara kelas

Ya mesti sama wali kelas lah…

Tapi syukurnya juga

Pak Fauzi orangnya zik-asyik aza

Meski,… emang sih agak galak

Tapi bisa juga tuh nyantai ama kita-kita

Akrab, suka ngobrol

En cerita-cerita

kadang-kadang aza galaknya

Itupun biasanya kalo

Kita pada kelewatan

Saling ngatain ortu misalnya

Ato yang bisa bikin orang lain celaka

Kalo dipikir-pikir memang

Salah kita sendiri seh…

Pak Fauzi kan memang guru

Ya dia bertanggungjawab dong

Semua prilaku dan keselamatan

anak-anak di depan ortu

Kalo murid-muridnya konyol

Nakal en agak kreatif gitu…

Tau ndiri kan, banyak ortu kita

Yang maunya terima jadi aja

Pokoknya anakku harus baik, pinter, rajin,sholeh, kreatif, dan bla,bla,bla…

Kalo ada anaknya yang nakal

Langsung aja guru dan wali kelas

Kena getahnya (: marah gitu)

Padahal ga tau aja dia

Kalo anaknya memang…

(apa hayo!)

Yakh, maklumlah anak-anak

O ya, ternyata ga cuma

Pak Fauzi sendiri yang ikut

Ada tiga orang lagi yang ikutan

Pertama: Pak Topik,

Yang ini sih sudah dikenal. Guru kepanduan. Orangnya supel, kocak, agak-agak kreatif en jayus abis.

Kedua: Pak Kur

Orangnya kalem, serius dan agak misterius

Ketiga : Pak Hendra

Yang ini rada-rada galak tapi baek dan suka membantu. Awas yag ini guru karate.

Kayaknya sih asyikasyik aja…

Denger-denger juga see

Mereka tuh emang ce-esan-nya Pak Fauzi (sssstttt…rhs!)

Ternyata emang asyik juga ngumpul

Bersama teman sekelas

Rame-rame naik truk tronton ke lokasi

Meski panas, pegel, jauh dan ribut

da gitu desek-desekan kayak sarden.

Tapi tetap Full AC man…!

Angin Cepoi-cepoi, hahaha…

Lumayan. Pengalaman perjalanan jauh dengan truk tronton.

Tiba di lokasi rasa capek langsung hilang. Bisa gitu…

Soalnya alamnya endaah sekali

Udaranyapun suejuk suejuk…

Pokoknya muantabbbe

Ternyata enak juga nginep di gunung

Jauh dari rumah

Jauh dari ortu

Jauh dari ade- kaka

Jauh dari keributan

Jauh dari kesibukan sekolah

Dan menyepi di tempat sunyi

Meski cuma di rumah sederhana

Tapi nggak kalah heboh cing!

Kita nyebutnya pondok bintang tujuh

Saingannya hotel bintang lima

(menang dua kita…)

Tapi ga sakit kepala hahaha…

Gimana ga heboh,…

Rumah ato pondok itu

Letaknya di atas bukit

Jauh dari jalan raya,

Kita mesti jalan kaki

Untuk tiba ke sana

Ude gitu bawaannya berat

Ranselnya pan gede-dege banget

Kayak orang mo ngungsi

Dibawa sendiri, jalan kaki lagi

Tapi pemandangan sepanjang jalan

Oke banget

Hamparan sawah

Kebun-kebun sayur

Pohon-pohon pisang

Dan di kejauhan

Kita tuh di kelilingi ama

Gunung dan gunung.

Jadi lihat ke mana aja

Gunung mengepung dari segala penjuru

Asli. Endah!

Udaranya suejuk

Angin semilir terasa segar

Padahal waktu tu

Matahari sedang pas-pasnya

Tapi kita asik-asik aja

Yang oke lagi,

nyebrangin jembatan gantung segala

Ngeri juga sih sebenernya

Soalnya jembatannya

Dari anyaman bambu

Padahal kalinya cukup lebar

Dan airnya deras

Tapi jernih, bersih, bening…

Batu-batunya juga gede-gede banget

Kepinginnya sih nyemplung, nyilem

Berendem di air, pasti segeeeer

Tapi keinginan itu ga terlaksana

Karna harus segera ke tujuan

Takut-takut hujan

Sayang banget memang

Kira-kira setengah jam

Perjalanan itu ditempuh

Akhirnya sampe juga

Di pondok bintang tujuh

Pondok ato rumah itu

Sangat sederhana sebenarnya

Lantai semen

Dinding setengah tembok

Setengah papan

Tapi asyik, karena,

Bener-bener ada di atas bukit

Sendirian.

Maksudnya ga ada rumah lain

Ada juga sih, Cuma agak jauhan

Soalnya itu memang perkampungan

Dan masih di Indonesia juga sebenernya

Jadi jangan ngebayangin

Cerita tadi di luar negri

Di Eropa ato di Amrik sono

(lagi, ke-ge-eran banget!)

Itu cuma di Bogor kok…

Katanya sih di kaki gunung Salak

Deket-deket gunung Bunder

Rumah itu ada di posisi paling tinggi

Di sebelah kanannya terus ke belakang

Dipenuhi pohon bambu

Rimbun banget dan jadi teduh terus rasanya

Ujung-ujung daunnya menyentuh atap rumah, dan kalo angin bertiup

jadi ada suara kresek kresek gitu…

Jujur aja,kalo malem emang jadi agak serem

Ditambah lagi, ada sungai kecil

di bawah rumpun bambu itu,

Airnya mengalir terus ga brenti-brenti.

Maka suara gemerciknya ga abis-abis. Enak kedengarannya. Alami.

Air jernih itu terus mengalir ke bawah

Ke sawah-sawah yang terhampar luas.

Di sebelah kiri rumah itu kebun

Sayuran. Ada juga pohon pisang dan aneka pohon buah.

Alpuket, rambutan, mangga, jengkol dan pete

Karena pondok itu memang persis di pinggir bukit.

Sehingga terasnya itu harus di sangga dengan tiang-tiang tinggi.

Di bawah teras itulah tempat membakar jagung manis di pagi hari

Sambil duduk memandang hamparan sawah dan gunung yang tegak membiru.

Halaman depannya langsung berundak

Jadi ada jalan tangga berbatu ke bawah

Ada tanah agak luas, berumput pula

Nah, disitulah Landi masang tenda

yang cuma satu-satu itu

Tempat duduk-duduk sambil

Ngobrol ngalor ngidul

Di undakan bawahnya lagi

Ada empang ikan

Trus di bawahya lagi sawah dan sawah

Berderet tak putus-putus

Memandang dari teras rumah

Jauh ke depan sana

Masya Allah…

Pemandangannya,…ckk,ckk

Subhanallah. Endaaaaah sekali.

Hamparan sawah berundak

Luas menghijau

Menyejukan pandangan

Berbatasan di kaki bukit dengan

Hutan pinus dan meranti yang rimbun dan lebat.

Di kejauhan gunung tegak membiru Berpayung awan

Yang selalu menaungi dengan setia.

Angin berhembus,

Sehingga hujan selalu datang dengan cepat.

Memang bener-bener asyik

Pemandangan yang subhanallah…

Ga nyesel aku ikutan acara ini

Bukan cuma pemandangan yang indah dan romantis, tapi,…

Acara yang lainnya juga keren en asyik

Ada acara jalan melintas hutan pinus

Ada berpacu menuju curug,

Mandi bareng di pancuran air panas, Bakar jagung, malam di atas bukit atawa jurit malam (yang ini seru banget) nggak ketinggalan main bola, pasti!

Dan yang agak unik acara membajak sawah (ini beda dengan teroris yang membajak kapal)

Membajak sawah beneran

Kita turun ke sawah pegang cangkul dan Bantu petani tani…

Ya jelas aja kotor semua

Tapi seneng. Soalnya bwelum pernah seumur-umur turun ke sawah

Memegang cangkul dan bajak

Bersama petani.

Tapi beberapa anak ada yang ga mau turun. Jijai katanya. (dasar anak mami, norak banget!) selain itu kita juga jadi nyadar,

Betapa berat kerjaan petani,

Betapa jauh dan panjang perjalanan sebutir nasi yang ada di piring setiap kali kita mau makan.

Begitu kata Pak Fauzi.

Makanya jangan buang-buang nasi

Itu artinya tidak menghargai petani

Yang jerih payahnya sangat luar biasa

Selain itu, mubazir tentu saja

Itu juga kata Pak Fauzi, hehehe…

Iya juga sih… emang bener. Setuju!

Truz yang gak kalah serunya adalah berburu belut. Nah yang ini juga barang baru. Kita menyusuri pematang sawah mencari lobang belut.

Tapi karena pancingnya terbatas ga semua bisa mencoba.

Ada hal lain yang menarik juga yaitu, Ketika snek anak-anak dikumpulkan

Jadi panitia mengumpulkan semua makanan anak-anak jadi satu. Diminta dengan suka rela dan kesadaran sendiri. Dan kayaknya sih, anak-anak pada nurut semua, tuh makanan sampai menggunung di kamar panitia.

Ada kacang, chiki, roti, aneka biskuit, coklat berjenis merek, pop mie, mie instan, minuman kaleng, minuman kotak, STMJ, teh, susu, kopi, permen, dan macem-macem makanan lainnya. Rupanya bawaan makanannya banyak.

Apalagi Uki. Ya ampun, kaya mo jualan aja dia. Satu tas besar isinya makanan semua.

Apalagi coklatnya… nyam nyam nyam

Dengan semua makanan dikumpulkan

Panitia berharap akan tumbuh kebersamaan. Melatih memberi sesama.

Berkorban untuk yang lain. Yang membawa sedikit dan yang membawa banyak akan mendapat jatah sama. Agar semua bisa ngerasain makanan enak yang dibawa temennya.

Tapi memang asik juga jadinya, apalagi Panitia mendistribusi makanan itu dengan tempo yang dekat dan cepat

Bentar-bentar makanan dateng

Nggak lama biskut

Nyusul lagi kacang

Nambahnya roti

Selingannya chiki dan permen

Nggak abis-abisnya

Blom lagi makan besarnya.

Menunya kampung punya sih,

Tapi soal rasa ga kalah

Sayur asem, ikan asin, tahu tempe

Krupuk, sambel trasi dan lalapan

Bener-bener asik . Nikmat cing!

(aku pikir kenapa di rumah ga masak kayak gini aja ya?)

Tapi akhir-akhirnya

Keluar juga ayam goreng

Lalu telornya yang dibumbu pedes

Buat jaga-jaga kata panitia, Khawatir kalo ada anak mami yang ga doyan ikan asin, tahu tempe.

(ntar maminya marah lagi)

Walau pada akhirnya semua ludes tak tersisa.

Apa lagi Ali sama Indra

Ga malu-malunya tu anak

Nambahnya sudah berapa piring

Ususnya panjang banget kali ya..

Tapi panitia malah seneng

Soalnya ga ada yang nyisa.

Byar pulang pada nambah berat badan

Byar mami seneng ngelihatnya

Tapi,…Akhirnya aku harus pulang

Temen-temen yang lain juga

Padahal semua masih betah tuh

Aku senang banget bisa ikut acara ini

Mendapat suasana baru, juga ilmu dan pengalaman

Tapi semua harus kembali

Kembali ke rumah

Kembali ke ortu

Kembali ke ade-kakak

Kembali ke kesibukan sekolah

Selamat tinggal pondok

Selamat tinggal bukit

Selamat tinggal keindahan alam

Selamat tinggal kenangan

Tiga hari jadi nggak terasa

Sungguh luar biasa

Sungguh banyak kesan

Sungguh banyak pengalaman

Semoga aku bisa mengambil pelajaran

Petualangan

di Pulau Tikus

lihatlah laut

biru membentang

dalam…

menyimpan rahasia alam

rahasia kehidupan

ombak berkejaran, bersambung

tak pernah henti

menebar suka

mengubur duka

pohon kelapa melambai

tumbuhkan cinta

suburkan cita

pohon bakau yang diam

tegak berdiri

mengisi hari-hari sunyi

bersama bintang

dan cahaya pagi

klingkit dan santigi

bergerak dijilat ombak

merunduk diterpa angin

resah bersama dingin

pasrah dibungkus malam

gelisah…

*******

“Perahunya sudah siap!” Pak Kur berteriak di depan pintu.

Anak-anak yang sedang asyik makan kompak kaget. Gembira en seneng. Untung aja nggak ada yang keselek.

Anak-anak berteriak dan suasana jadi heboh. Sebagian jadi gelagapan. Apalagi yang nasinya masih banyak. Mereka ingin cepat-cepat ngabur ke perahu. Sebagian mereka dengan cepat menyendok dan menyuap nasi dari piringnya. Mulutnya jadi penuh, Mengunyah sebentar lalu ditelan. Glegk, glegk. Pokoknya cepat habis.

“Ayo cepetan !” Abid memberi komando. Sambil memakai kaca mata gelapnya. “Tuh kan mendung, mau hujan!” katanya sambil bergegas. Anak-anak yang lain tertawa, Abid tersenyum. Ia nggak tahu ada sisa nasi nempel di pipinya. Ia terus ngacir ke pantai.

“Sudah, makannya nggak usah dikunyah, ntar juga hancur di perut!” kata Iqbal sambil ngeloyor keluar. Tangannya menahan celananya yang mau melorot. Lupa dia kancing. Hahaha…

“Bal. Piringnya bawa dulu ke dapur..!” sela Musa ngotot. Matanya melotot. Iqbal berbalik sambil senyam senyum saja. Nyantai. Ia ke dapur membawa piring kotor.

“Pak, bawa baju ganti nggak!” Rafli bertanya hal yang sama itu untuk yang ke lima kalinya. Pak Fauzi mesem aja. Tidak menjawab. Rafli Faham, itu adalah jawaban. Artinya, terserah! “O, terserah ya Pak!” Rafli minta ketegasan. Pak Fauzi mesem lagi. Rafli keluar mesem juga. Ah, dasar!

“Rainhard, jangan lupa bawa kekerannya!” Hamzah mengingatkan.

Rainhard hanya mengangguk. Mulutnya penuh nasi. Bahkan sisa yang masih di piring masih setengahnya.

Nggak usah buru-buru, ntar keselek lagi, ditunggu kok!” Pak Fauzi mengingatkan. “Pancingnya juga jangan lupa!”. Lanjutnya lagi. Karena cuma Rainhard yang lengkap membawa peralatan pancing. Ia memang tipe seorang yang teliti. Siap selalu dengan perlengkapan yang dibutuhkan. Tinggal yang lain pinjem, nggak modal.

Satu persatu, anak-anak keluar menuju perahu di pantai sebelah selatan. Ceceran nasi dan tulang ikan di mana-mana. Jorok!. Pikiran mereka sudah di perahu semua. Bahkan ada beberapa piring yang nasinya belum habis. Maklum aja. Norak sama perahu. Tinggal Hamzah, Barok dan Nino yang bersihin. Soalnya giliran piket.

Waktu menunjukan pukul 13.15. anak-anak sudah naik semua ke perahu. Perahunya cukup besar untuk kapasitas 30 orang penumpang, kecil-kecil lagi, plus 2 awak kapal, nahkoda dan pembantunya. Pak Topik semalam sudah membokingnya untuk penjelajahan ke Pulau Tikus. Kondisinya baik, bahkan baru diperbaiki. Jadi sip!

“Pak Topik, anak-anak sudah naik semua?” tanya Pak Fauzi. Sambil mengenakan topinya. Kaosnya yang komprang berkibar ditiup angin.

“Ayo yang belum naik angkat tangan !” canda Pak Topik. Matanya jelalatan mengenali anak buahnya. Dari ujung depan hingga ke belakang. Lehernya dipanjang-panjangkan seperti mencari-cari sesuatu.

“Kaya-nya sudah sip semua !” sambil memberi kode siap dengan ibu jari kanannya.

“Hamzah pimpin doa bersama!” Perintah Pak Fauzi. Hamzah langsung memimpin doa dengan suara keras. Yang lain mengikuti. Setelah itu perahu bergerak.

“Siap Pak Nahkoda kita berangkat!” Pak Fauzi memberi komando. Pak Nawawi, pemilik perahu yang dipanggil nahkoda melepas tali ikatan di tiang pantai. Lalu pembantunya mendorong dengan galah bambu agar perahu maju dan terhindar dari batu-batu karang. Air pantainya sangat jernih. Berkilat tertimpa sinar matahari. Dasarnya yang putih sangat jelas terlihat. Ikan-ikan kecil yang aneka warna terlihat indah sekali. Landak laut atau bulu babi berserakan seperti hamparan kaktus hitam di padang pasir. Durinya beracun jika tersentuh. Sangat nyeri. Makanya jangan ada yang nabrak ya?

Sang Nakoda sudah mulai menghidupkan mesin. Pembantunya, Pak Sadeli sudah tidak mendorong lagi dengan galahnya,disimpan di atap perahu. Udara panas. Namun angin sepoi-sepoi mengurangi rasa panas. Ombak tenang. Kalau alam selalu ramah seperti ini akan sangat menyenangkan bersampan di laut. Penumpangnya aja yang pada heboh. Maklum norak-norak bergembira.

Penjelajahan ke pulai Tikus dimulai. Pulau Tikus adalah salah satu pulau di kepulauan seribu. Tak berpenghuni dan luasnya paling-paling lebih besar sedikit dari tiga lapangan sepak bola. Atau lebih kecil lagi.

Anak-anak mulai bersorak, rame!. Rainhard siap-siap dengan pancingnya. Sementara teropongnya menjadi benda bergilir yang sangat diminati.

“Fred gantian dong..” pinta Avi memelas. Fred cuek aja pura-pura nggak dengar.

“Fred, Aku dong Fred,….” Aswin meminta dengan suara keras. Tangannya mencoba meraih teropong itu. Fred mengalah. Teropong bepindah tangan. Aswin asyik ngeker pulau-pulau di kejauhan sepanjang kiri dan kanan. Lalu ke langit. Siapa tahu ada UFO pikirnya.

“Hai minggir , nggak kelihatan nih..!” Muhammad berteriak sambil memegang kemudi kapal. Tangannya dikibaskan memberi isyarat minggir. Sementara sang nahkoda, Pak Nawawi duduk di sampingnya sambil tersenyum. Mungkin dalam hatinya berkata, nik anak-anak norak banget. Memangnya di Depok nggak ada laut ya? Jadi norak gitu!

Anak-anak lain berkerumun di sekitarnya. Bisa ditebak, ingin nyoba juga.

“Wah Muhammad jadi nahkoda, ntar nabrak lagi…” teriak Nino. Rambutnya kucai ditiup angin. Matanya sayu menyipit menahan tiupan angin

“Gantian Muhammad, aku pingin coba!” pinta Musa. Ia duduk di sebelah Muhammad sambil memegang kemudi dengan tangan kanannya. Muhammad gelisah. Akhirnya Musa berhasil menggeser Muhammad. Kemudi sekarang dipegang Musa. Dengan gaya profesional ia berlagak mengendalikan jalannya perahu. Tangan kanannya diletakan di atas dua matanya, seperti ingin melihat lebih jelas lagi.

“Aku habis Musa ya!” Diaz langsung duduk di samping Musa. Wajahnya kelihatan berseri-seri kesenengan “Ayo gantian Mus!” teriaknya lagi. Musa cuek, pura-pura asyik. Egepe!

“Aku habis Diaz!” Iqbal menyambung.

“Aku habis Iqbal!” susul Ahnaf.

“Aku habis Ahnaf!” jawab yang lain bersambungan. Mereka ngantri. Maklum sodara-sodara!

Arif mulai sibuk mengambil kelakuan teman-temannya dengan kamera sakunya. Setelah itu gantian dengan Amiril. Ia berpose sendiri.

“Senyum Rif!” kata Amiril. Arif memperbesar semyumnya, tapi malah seperti manyun. Klik! Klik!

Farid asyik-asyik aja berdiri depan. Ia satu-satunya penumpang yang pake kain sarung. Kainnya melambai-lambai ditiup angin. Sinar matahari siang menembus kainnya yang tipis hingga tampak transparan, Oh seraaam!. Ia cuek aja. Matanya terus mengamati air laut yang kehijauan. Mungkin di dalam sana ada kapal selam yang sedang mengikuti. Pikirnya menerawang. Makanya jangan kebanyakan baca komik.

Nino, Aswin dan Fred terkapar tak berdaya. Mereka kecapean, tertidur di bagian tengah yang beratap. Memang lebih teduh dan nyaman untuk molor. Faris tak beringsut, asik membaca Kung Fu Komangnya. Semenjak di mobil kemarin buku itu nggak lepas-lepas. Entah sudah habis berapa jilid dia baca. Abid, Ahnaf dan Hamzah ngobrol di bagian depan. Padahal panas, karena bagian depan nggak ada atapnya. Yang penting asyik. Titik.

Lain lagi dengan aktifitas di bagian belakang. Fauzi, Irfan, Ata, Rafli dan Rainhard sedang sibuk dengan pancingnnya. Meski nggak ada yang dapet, namun mereka terus lempar lagi, diangkat, ditarik dan lempar lagi begitu terus. Pegel? Pasti! Yang penting punya pengalaman mancing di laut. Masalah dapet nomer tiga. Dan perasaan happy, happy.

Perjalanan dari pulau Lancang, sebagai posko, sekitar 30 menit. Pulau Tikus sudah kelihatan. Perahu makin mendekat. Anak-anak mengerumun di bagian depan, biar cepet sampe pikir mereka. Semua siap dengan rencana masing-masing. Ada yang mau mancing, berenang, main bola atau jalan-jalan saja, Muterin pulau yang tidak terlalu luas itu. Kita lihat saja nanti buktinya.

Angin bertiup lebih keras. Perahu semakin dekat ke pantai.

“Kita tidak bisa terus Pak, karena takut terbentur karang!” ujar Pak Nawawi menjelaskan.

“Kalau turun amankan Pak? Pak Fauzi minta kepastian. Pak Nawawi hanya menganguk. Tersenyum.

Jarak pantai paling-paling 10 meteran. Airnya sangat jernih, ikan-ikan kecilnya yang warna-warni lebih banyak dari pantai tadi berangkat. Bulu babi terlihat juga di beberapa tempat.

Ranihard sibuk mempersiapkan alat pancing, Abid siap-siap pakai sepatu, yang lainnya siap-siap dengan kesibukan sendiri-sendiri.

“Byuuur! Byuuur! Byuuuur!” satu-persatu berlomba nyemplung ke air yang jernih itu.

“Segaaaar!” teriak Dudi, lalu nyilem lagi. Padahal dalamnya cuma sebatas paha.

“Hai, hati-hati bulu babinya!” Pak Topik berteriak mengingatkan. Nggak tahu tuh mereka denger apa nggak. Lagi lupa daratan soalnya.

Beberapa anak kelihatan takut-takut. Masih berdiri di perahu.

“Ayo turun!” Pak Topik mendorong Muhammad nyemplung ke laut. Muhammad kuyup, tapi malah ketawa lebar.

“Uh, seger banget…” serunya.

Yang masih di perahu barengan lompat semua.

“Byur, Byur…”

“Pak nanti kalau perahunya pergi bagaimana?” tanya Rafli dengan khawatir sambil berjalan di pantai.

“Yah kita mabit aja di sini sambil menunggu perahu nelayan lewat” Pak Fauzi menjawab serius. Wajahnya seolah tanpa ekspresi, namun setelah itu tertawa keras. “Nggak-lah Raf, mereka nggak akan balik. Tuh lihat mereka lagi santai nungguin kita. Tenang aja”. Rafli sepertinya puas, ia langsung cabut ngejar yang lain.

Setelah semuanya turun, mereka menyebar segala penjuru. Ada yang langsung melempar dan main bola. Ada yang berenang. Jalan-jalan atau memancing. Yang ini hanya dilakukan oleh Rainhard dan Ata. Mereka berdua memang ce-esan banget.

Suasananya memang sangat tenang. Pulau kecil di tengah lautan. Jika pasang, pasti pulau ini mengecil. Jika badai pasti sangat mengerikan. Semoga aman-aman saja.

Kegembiraan sudah mengusir kekhawatiran yang sempat mampir. Angin semilir, panas mentari, hamparan pasir, air jernih yang segar, riak ombak, suasana tenang, ikan-ikan kecil, kerang, cangkang, pohon-pohon, teriakan anak-anak semua sudah menyatu menjadi kegembiraan. Kesenangan. Semua menikmati seasana itu. Seakan menyatu dengan alam. Benar, seakan mereka bagian alam yang menambah indah pesonanya. Seharusnya manusia memang dekat dengan alam. Bagian dari alam. Bukan merusak dan menghancurkannya. Seandainya mereka paham, betapa berharganya alam. Pasti planet mini ini tidak akan merana seperti sekarang. Wuhhh!

Setelah puas dengan permainan masing-masing, mereka berkumpul. Di salah satu sudut pantai yang agak dangkal. Sebatas paha. Mereka akan berlomba. Satu regu yang dikomandani Pak Topik, satunya lagi Pak Kur sebagai jenderalnya.

“Ayo, sekarang kita lomba membuat benteng. Siapa yang tertinggi!” Pak Topik memberi aba-aba. Badannya sudah basah kuyup. Rambutnya kucai.

“Buat beteng dari apa Pak?” tanya sebagian mereka ingin tahu.

“Begini caranya” Pak Topik langsung memberi penjelasan. Ia menarik Iqbal, Musa Firman dan Amiril, membuat lingkaran kecil sambil perpegangan bahu. Lalu Muhammad, Avi dan Irfan naik kepunggung mereka, awalnya berjongkok lalu berdiri.

Allahu akbar!” teriak Muhammad sambil mengacungkan tangannya tinggi-tinggi.

Allahu Akbar!” sambung Irfan bersemangat. Namun…

“Byuuurr!” benteng itu roboh. Semua jatuh. Basah kuyup.

“Ayo, bangun lagi!” Pak Topik memberi komando.

Regu dua tak mau kalah. Pak Kur, Abid, Aswin, Ahnaf siap-siap di bawah. Hamzah mulai naik, menyusul Arif, namun ….

“Byuuuur!” mereka jatuh. Benteng itu roboh.

“Aduh kakiku..” keluh Arif, wajahnya meringis kesakitan.

“Ayo, tidak apa-apa bangun lagi, Kamu bisa!” Pak Kur berteriak memberi semangat regunya. Mereka mulai bersiap-siap lagi .

“Ayoooo….!” Jawab mereka serentak.

Allahu Akbar!” sahut yang lainnya bersemangat. Mereka membuat kuda-kuda, yang lainnya naik ke atas punggung. Jatuh lagi, bangun lagi, jatuh lagi, bangun lagi. Asyik sekali. Tak kenal capek, tak kenal menyerah terus, terus dan terus…

namun akhirnya mereka kecapean juga. Ganti sekarang mereka berendam di air laut, dengan posisi tidur. Istirahat.

“Hai lihat ada bunga karang indah!” suara Pak Topik mengalihkan perhatian anak-anak. Dalam hitungan detik mereka sudah berkerumun.

“Mana Pak?” tanya Dudi ingin tahu.

“Dimana Pak, Dimana Pak?” tanya Hilmy juga penasaran. Anak-anak yang lain mengerubung menjadi lingkaran kecil.

“Awas jangan dekat-dekat, lihatnya dengan kaca mata, jadi tambah jelas!” Pak Topik memberi kiat.

“Bagaimana Vi, indahkan?” tanya Pak Fauzi setelah Avi mengangkat kepalanya dari dalam air. “Mantab Pak!” jawabnya. Nafasnya terengah-engah. “Banyak ikan-ikan kecil juga!” tambahnya lagi.

“Vi, pinjem kaca matanya dong!?” Barok langsung meraih kaca mata Avi tanpa menunggu jawaban. Langsung dikenakan dan nyilem menahan nafas.

Anak-anak bergantian menikmati keindahan karang hidup itu dengan asik.

Yang nggak sabaran langsung nyilem tanpa kaca mata. Tentu saja kurang jelas jadinya.

Karang hidup itu sebenarnya hanya sebesar kepala orang dewasa di dasar pantai yang airnya sebatas paha. Namun karena barang baru dan yang pasti memang indah, warna-warni dan melambai-lambai terbawa arus ombak, sehingga menarik perhatian semua.

“Pak dibawa pulang boleh nggak?” Faris berminat rupanya. Nafasnya masih tersengal.

“Jangan dong, itu merusak alam namanya” Pak Kur memberi alasan. Biarin dia hidup dan kita nikmati aja keindahan ciptaan Allah itu” lanjutnya. Faris mengangguk dan langsung ngantri lagi menunggu giliran. Masih kurang puas.

Kira-kira dua setengah jam anak-anak menghabiskan waktu dengan berbagai aktifitas yang heboh. Kelihatannya sih asyik dan menikmati suasana tersebut. Puas? So pasti!

Matahari makin condong ke barat. Angin makin keras berhembus dan terasa lebih dingin.

“Ayo siap-siap kita balik!” Pak Fauzi memberi peringatan.

“Belum Pak, sebentar lagi” tawar Fatah. Ia masih asyik dengan kaca matanya Dudi. Sebentar-sebentar nyilem bangun lagi.

“Iya Pak, sampe malem aja sekalian” Muhammad mengusulkan.

“Ayo kita foto-foto dulu” Pak Topik memanggil anak-anak.

Suara keciprak air bersahutan karena langkah kaki yang berlarian. Kalau untuk urusan yang ini cukup dengan satu kali perintah, mereka langsung ngerubut. Kayak lele dumbo dikasih makan. Lumayan buat orang rumah. Biar mereka seneng juga, anaknya lagi happy happy di laut.

Setelah puas main dan foto-foto mereka istirahat. Ada yang duduk-duduk, berjalan-jalan sambail nyari cangkang kerang dan teripang, sebagian lagi membuka bekal yang sempat dibawa tadi siang. Siapa yang mau? Tuh sama Faris! Dia yang paling banyak bawaannya. Hehehe….

Jam sudah menunjukan pukul 15.50, hampir jam empat sore. Anak-anak sudah sebagian besar di atas perahu. Beberapa anak masih asyik di pantai nyantai-nyantai aja.

“Hai, cepetan. Mau berangkat nih!” Pak Kur berteriak mengingatkan anak-anak agar segera naik. Diaz yang masih di bawah segera naik ke perahu. Disusul Firman, Hilmy dan terakhir Pak Fauzi.

“Wah tanganku kenapa nih?” Diaz terkejut setengah berteriak. Ia memperlihatkan dua tapak tangannya yang hitam kena sesuatu.

“Itu kena oli , emangnya kamu megang apa tadi?” tanya Pak Fauzi.

“O, tambang itu ada olinya!” jawab Irfan dari belakang.

“Ya sudah Kamu cuci aja yang bersih. Baru nanti pake sabun di rumah” ujar Pak Fauzi.

“Sudah naik semua?” Pak Kur kembali bersuara. Matanya melihat jauh ke pantai pulau Tikus yang mulai sepi. Pak Topik menghitung dengan teliti.

“Kurang dua!” serunya

“Rainhard dan Ata Pak!” jawab Amiril. “Dia masih sibuk ngumpulin kerang!” sambung Abid.

Tak lama kemudian terlihat di kejauhan Rainhard dan Ata berjalan santai. Tangannya menenteng kantong plastik.

“Hooi cepetan, mau ditinggal…?” Musa berteriak hingga urat lehernya menonjol. Yang lain bantu meneriaki agar Rainhard dan Ata lebih cepat.

“Rainhard lariii…!” Pak Topik berteriak juga akhirnya.

“Siap Pak Nahkoda Kita berangkat” Pak Fauzi kembali memberi komando. Setelah Rainhard dan Ata naik. Pak Nawawi mengangkat jangkar yang sedari tadi di lemparkan ke dasar.

Pembantunya, pak Sadeli mendorong perahu dengan galah bambu. Setelah agak jauh mesin mulai dibunyikan. Dengan perlahan perahu meninggalkan pulau tikus.

Makin lama makin cepat, terus melaju dengan meninggalkan pulau tikus yang mengecil.

“Daag tikuuus..” Abid melambaikan tangannya. Anak-anak yang lain ikutan.

“Sampai jumpa tahun depan…” kata Nino tertawa lebar.

“Pak tahun depan kita ke sini lagi ya Pak?!” Fauzi menyambung.

“Iya Pak kita perpisahan kelas aja sekalian” kata Iqbal serius.

“Setuju Pak, Kita kemah di pulau Tikus, biar tambah mantaaab” lanjut Mubarok sambil mengucapkan mantab dengan qolqolah kubro.

“Yah gampang, bisa di atur. Yang penting siap-siap aja dananya, nabung dari sekarang” jawab Pak Fauzi kalem. Sambil terus menulis sesuatu di note book-nya.

Perahu terus melaju dengan cepat. Naik turun dimainkan ombak. Angin sore semakin terasa kencang berhembus. Sinar matahari melai meredup.

Tiba-tiba mesin kapal mati. Beberapa anak berteriak terkejut. Wajah-wajah pias karena takut terlihat jelas. Sebagian yang lain malah berteriak kesenengan. Deburan ombak terasa menggoyangkan badan perahu, mengombang ambingkannya ke kanan dan kiri. Tanpa mesin perahu menjadi tak berdaya dihantam ombak. Syukur ombaknya tidak terlalu besar.

“Ya, tempatnya di sini aja!” Pak Nawawi memberi isyarat kepada Pak Kur.

“Banyak ikan ya Pak?” Pak Kur bertanya serius. Perlengkapan pancingnya mulai disiapkan. Rainhard juga siap-siap pasang aksi.

Ooo, ternyata mereka akan memancing. Ini bagian skenario yang hampir lupa. Berarti petualangan masih belum berakhir. Ini akan mendatangkan keasyikan baru yang tidak kalah serunya.

“Siapkan alat pancing masing-masing!” Pak Kur mengomando. Lemparan pertama telah dilakukan. Bandul timah sudah masuk ke dasar laut. Ia mengulur terus dan menunggu. Anak-anak belum banyak yang bereaksi, selain hanya beberapa saja yang bawa alat-alat pancing, yang lain memilih nyantai sambil tiduran di bagian depan. Mungkin capek main di pulau Tikus tadi.

Wih ikannya mantab!” seru Barok kegirangan. Bukan dia yang dapet, tapi Pak Kur yang semenit lalu melempar pancingnya. Anak-anak mulai bereaksi. Mengerumuni Pak Kur yang sudah melepaskan ikan dari mata kailnya. Ikan sebesar empat jari warna kuning hitam itu sudah berada di ember. Lemparan ke dua siap-siap dilakukan.

“Crep!” suara bandul timah masuk ke air laut pertanda dimulai lagi bagian ke dua.

“Hai yang ini lebih besar!” sekarang Arif yang teriak. Ia kegirangan, karena Pak Nawawi, pemilik perahu itu mendapat ikan. Dengan cepat anak-anak beralih mengelilinginya. Dan dengan cekatan ikan cumi karang sebesar lima jari terbuka itu berpindah tempat ke ember. Rainhard masih berusaha, disusul Ata, lalu Hilmy dan Hamzah wafa. Mereka belum berhasil. Tetap serius dan harus sabar… sabar ya! Allah suka orang yang sabar. Hehehe…

“Dapat lagi!” kembali Arif berteriak girang. Pak Nawawi sudah memindahkan ikan seperti lele besar itu ke dalam ember. Anak-anak makin antusias. Pak Fauzi yang sejak tadi menonton tergoda juga imannya. Ia kini memegang gulungan benang pancing milik pak Nawawi yang tidak disentuh anak-anak. Mereka mungkin masih ragu, boleh dipakai atau tidak. Dengan cepat Pak Fauzi bergerak.

“Yang ini bisa dipakai Pak?” tanyanya pada Pak Nawawi.

Pak Nawawi hanya tersenyum sambil mengangguk. Langsung saja umpan cumi kering yang sudah disiapkan dipasang di mata kail. Pak Fauzi senyum-senyum bisa terlibat dalam lomba mancing internasional tingkat RT itu. Anak-anak mengerumun di sekitarnya membentuk setengah lingkaran kecil.

“Crep! Bismillah, cepet dapet!” Pak Fauzi melempar bandul timah. Wajahnya mulai serius. Bahkan tegang. Namun tiba-tiba berubah cerah dan…

Allohu Akbar, dapet!” Pak Fauzi berteriak girang. Tangannya menarik benang kenur dengan cepat. Kedalam laut sekitar sepuluh meter cukup untuk menarik tali pancing beberapa saat …

“Ikan apa Pak…?” Amiril mendekat. Kepalanya dicondongkan ke pinggir perahu. Pak Fauzi masih menarik benang,

“O,besar!” Dudy berteriak. “Ikan apa ini Pak? indah sekali?” lanjutnya. Pak Fauzi juga tersenyum lebar tak bisa menahan rasa senangnya. “Ikan apa Pak?” tanya Dudy lagi

“Ini ikan runingjo” jawab Pak Fauzi mantap. Anak-anak mulai lagi berkerumun.

“Baru denger nama ikan itu Pak..” sambung Amiril heran. Keningnya berkerut. Pak Fauzi cuma senyum.

“Artinya ikan yang warnanya biru-kuning ijo!” Pak Fauzi menjelaskan.

“Huuuu..!” anak-anak berteriak kompak

Ngasal…!” lanjut mereka serentak

“Ah, Bapak bisa aja” Amiril tersenyum . Lemparan ke dua sudah dilakukan. Pak Fauzi menunggu. Anak-anak masih mengerumun. Wajahnya tegang. Diam. Masing-masing menahan nafas. Matanya tertuju ke tali pancing. Tiba-tiba ada tarikan halus di ujung tali di bawah sana, tali pancing menegang, dengan sedikit hentakan kecil Pak Fauzi menarik tali itu lagi sambil berseru;

“Dapat!” wajahnya kembali berseri. Anak-anak semakin ribut. Kembali berkerumun, heboh,

“Ikan apa Pak?” tanya mereka serentak

Beberapa kali Pak Fauzi melempar dan menarik tali pancingnya. Beberapa ikan sudah didapat. Pak Kur juga kelihatan semakin asyik melempar dan menarik tali pancingnya. Yang paling banyak Pak Nawawi.

“Pak doanya apa sih …?” tanya Abid penasaran. Sejak 10 menit lalu belum juga ada ikan yang nyasar ke kailnya.

“Lempar aja bandul timah, diulur terus, dan biarkan sampai menyentuh dasar.” Pak Kur memberi penjelasan. “Tunggu sebentar, jika ada tarikan segera hentakkan dengan cepat” sambungnya. “Maka ikan akan menyangkut di mata kail. Tinggal tarik” Pak Kur mengakhiri penjelasannya.

Kembali ia asyik memperhatikan tali pancingnya yang mulai bergerak-gerak. Dengan sentakan kecil ia kembali menarik tali pancingnya.

“Sip, sepertinya ikan besar nih, tarikannya kuat!” Pak Kur menarik dengan kedua tangannya. Tali pancingnya berputar-putar melingkar, sepertinya memang ikan besar. Benar, Ikan ekor kuning besar sekarang menggelepar di lantai perahu yang becek.

“Uh, besar banget!” Dudy berteriak norak. Anak-anak ngerumun lagi, saling desek-desekan saling bergumam berdecak kagum. Ini juga norak. Tapi nggak apa-apa, iya kan?!

“Nanti malam kita bakar ikan!” Pak Kur kelihatan gembira. Dengan cekatan melepas ikan dari mata kail dan menaruhnya di ember.

“Horeeee Aku dapat!” Rainhard berteriak. Mengagetkan anak-anak yang lain. Akhirnya berakhir juga penantian yang panjang. Inilah ikan pertama yang didapatnya. Sekarang ikan itu sudah digenggamnya. Matanya berbinar-binar .Wajanya berseri. Senyum tak lepas-lepas dari mulutnya.

“Ikan apa Pak namanya!” dengan gembira ia menunjukkannya pada Pak Fauzi

“O, itu namanya….!” Belum sempat Pak Fauzi melanjutkan ucapannya, Abid sudah memotong,

“Saya tahu Pak!” katanya, “Namanya ikan cining” lanjutnya sambil tertawa lebar. Yang lain ikut tertawa. Pasti ngasal lagi.

“Pasti ngarang sendiri” kata Farid. Masih dengan tawa yang tidak putus-putus.

Nggak apa-apa lagi, yang penting kreatif iya kan Pak?” Abid minta persetujuan Pak Fauzi.

Pak Fauzi sendiri tidak menjawab hanya tersenyum, sambil mengacungkan ibu jarinya tanda setuju.

“Itu artinya ikan kecil warna kuning!” lanjut Abid lagi. Kembali anak-anak tertawa berbarengan. Rafli sampai tak tahan memegang perutnya, mukanya juga jadi merah.

“Itu namanya menghina Bid, mentang-mentang ikannya Rainhard kecil” Musa nimbrung.

“Emang kenyataannya begitu” jawab Abid enteng sambil terus tertawa terkekeh-kekeh. Rainhard hanya mesem aja.”Mending Aku, dapet walau kecil, dari pada kamu nggak dapet.” Kata Rainhard pelan penuh kemenangan. Lalu bersiap-siap untuk mulai lagi.

Kurang lebih satu jam lebih anak-anak terlena dalam atraksi memancing yang mengasyikan. Saling bergantian, melempar, menarik, pasang umpan lagi, lempar, menunggu, tarik lagi, pasang umpan lagi, lempar lagi, menunggu lagi, tarik lagi…begitu teruuuus, kapan dapetnya…? memang nggak dapet yang penting asyik! Sik asyiiiiiiiiik…!

“Ayo, cukup sudah. Hampir setengah enam!” Pak Fauzi mengingatkan. Anak-anak langsung menggulung tali-tali pancingnya. Mungkin karena sudah capek, atau bosen nggak dapet-dapet. Tapi yang pasti laper.

“Ayo berangkat Pak!” Pak Topik memberi komando pada Pak Nawawi. Setelah anak-anak selesai membereskan perlengkapan pancing. Mesin kapal dihidupkan. Lalu pelan-pelan kapal melaju, meninggalkan riak-riak di belakang. Kemudian segera hilang dihantam ombak yang mulai besar. Air laut berubah warna menjadi biru tua. Angin sore juga terasa lebih keras menerpa. Bendera merah putih yang kusam berkibar gagah di ting bambu.

Pulau tikus sudah tertinggal jauh di belakang. Bahkan akhirnya hanya tinggal titik hitam saja. Berbagai kanangan yang mengasyikan tertinggal di sana.

Sepanjang perjalanan pulang anak-anak masih ngobrol juga, nggak cepek-capeknya.

“Pak boleh naik ke atas ?” tanya Pak Fauzi sambil menunjuk atap perahu. Seperti biasa Pak Nawawi, pria setengah baya itu hanya tersenyum dan menganguk. Langsung saja Pak Fauzi dengan sigap memanjat dan lompat ke atap perahu yang tidak terlalu tinggi sebenarnya, namun karena harus menginjak tepi perahu dan pegangan di bagian atas tidak terjangkau sehingga agak sulit juga.

Rupanya di atap perahu memang biasa di naiki, terlihat ada bantal, kain sarung dan tikar pandan, bahkan ada ceceran puntung rokok, Pak Fauzi langsung merebahkan tubuhnya. Matanya memandang lurus ke langit sore yang cerah. Cerah sekali. Seperti lukisan alam yang sangat indah. Sinar mentari sore yang lemah, menembus gumpalan awan tipis, hingga biasnya terlihat amat serasi antara putihnya awan dengan sinar keemasan berbentuk garis-garis teratur. Kawanan burung belibis laut melintas dengan lambat membelah langit sore yang mulai kemerahan. Suaranya terdengar antara ada dan tiada. Terbawa hembusan angin sore. Merdu sekali…

Kaki langit di sebelah barat mulai memerah. Matahari perlahan turun, warnanya kekuningan, bercahaya seperti bola emas. Indah sekali. Subhanallah. Menakjubkan luar biasa.

“Pak naiknya gimana?” Nino bertanya mengagetkan. Kepalanya menyembul di sisi kiri atap perahu. Anak ini selalu tersenyum. Namun senyum kali ini seperti memelas. “Boleh naikkan Pak?” tanyanya lagi, karena Pak Fauzi tidak menjawab, hanya menoleh.

“Silahkan kalau bisa” Pak Fauzi menjawab singkat. Sambil tetap tiduran. Mungkin kesal juga kali. Sedang menikmati keindahan lukisan langit jadi terganggu.

“Naiknya gimana Pak?” kembali Nino bersuara. Rupanya ia tidak berhasil naik setelah mencoba beberapa kali. Kali ini dengan wajah yang lebih memelas.

“Nih lihat caranya!” Tiba-tiba Pak Topik sudah berada di sebelah Nino dan mengambil kuda-kuda dan….

“Hup!” ia cepat melompat. Kakinya menolak dengan kuat, sedang tangannya menekan tepi atap kapal, dan badannya dijatuhkan dengan ringan. Kini ia sudah berada di atas atap perahu. Nino masih penasaran, ia mencoba gaya yang diperagakan Pak Topik, namun tidak berhasil juga. Dicobanya lagi belum berhasil juga. Bahkan hampir saja terpeleset.

“Awas hati-hati No!” seru Pak Fauzi agak terkejut.

“Ayo pegang!” Pak Topik mengulurkan tangannya. Dengan sigap Nino menangkapnya dan setengan melayang ia bisa mendarat dengan selamat di atas atap. Senyumnya tambah lebar. Kegirangan.

“Oy,oy Aku di sini!” Nino mencari perhatian anak-anak yang lain. Muhammad langsung mendekat, lalu Aswin. Akhirnya Pak Topik membantu kedua anak itu ke atas.

“Nih,siapa yang mau!” Pak Fauzi mengeluarkan kacang garing satu bungkus besar dari tasnya.

Lengkaplah keasyikan kelas ‘VIP’ karena dapat kacang gratis.

Perahu terus melaju, para penumpang rata-rata diam tak bersuara, cuma badannya bergerak-gerak naik turun mengikuti irama perahu diterpa ombak. Letih, lesu dan lapar. Hanya itu yang dirasa.

Perahu merapat. Azan Maghrib berkumandang.

PERANG AIR

Hari kedua acara orientasi murid baru berlangsung lancar. Udara pagi di Bumi Perkemahan Cibubur lumayan sejuk. Setelah kuliah subuh dan olah raga , agendanya istirahat, MCK dan sarapan. Tapi panitia melarang peserta mandi. Akan ada acara heboh setelah ini katanya.

Kira-kira pukul 09.00 acara yang dinantikan tiba. Perang air. Ini acara yang pesertanya dilarang mandi.

Anak-anak putra di bagi menjadi dua kelompok. Yang putri juga dua kelompok. Putra melawan putra, dan putri melawan putri. Panitia sudah menyiapkan peluru air yang terbuat dari bungkusan air dari kantong plastik. Setiap peserta mendapat jatah lima peluru.

Kedua kelompok dipisahkan di dua sisi yang berjauhan. Dibagian tengahnya dipasang bendera di tempat yang agak tinggi, seolah-olah di atas sebuah bukit. Tugas masing-masing kelompok adalah menguasai bukit dan merebut bendera atau panji tersebut dan membawa ke bwentengnya.

Peserta yang kena tembak mati dan tidak berhak melanjutkan peperangan. Sasaran yang boleh ditembak adalah seluruh badan dan kaki kecuali kepala. Peserta yang menembak kepala akan didiskualifikasi. Dianggap mati.

Peperangan dimulai. Kelompok satu yang dikomandani Arifin bersiap. Kelompok dua yang dipimpin Azmi mulai menyebar menjauh. Area yang dipakai dibatasi dalam satu blok saja. Sehingga peserta tidak boleh melewati atau keluar dari lokasi peperangan.

Kini dua pasukan sudah siap di benteng masing-masing. Di bagian tengah panji berkibar di atas bukit. Siap untuk direbut. Beberapa panitia, baik guru-guru maupun osis menyebar di beberapa titik yang berjauhan. Tugasnya sebagai

pengawas atau wasit jika ada kekerasan dan pelanggaran HAM dalam pertempuran. Namun sudah diingatkan agar seluruh prajurit bersikap jujur dan sportif dalam pertempuran. Dua kelompok putra kini mulai mengendap-endap saling mendekat. Ada yang bergerombol ada pula yang sendiri-sendiri. Yang agak berani memilih sendiri-sendiri. Ada pula yang menanti dengan bersembunyi di balik pohon atau semak-semak. Dengan waspada saling mengawasi dan mengintai pergerakan lawan. Peluru masing-masing disiapkan di tangan. Posisi kedua kelompok semakin mendekat, dan tiba-tiba…

“Kena!” Ibrahim berteriak sambil ngacir lagi ke wilayah yang aman. Sementara Ikbal cuma menyesali dirinya yang tertembak di bagian punggungnya.

“Kena! hei kamu kena” Reza R berteriak.

Nggak. Kena pohon.” Arifin mengelak. Pertempuran berlanjut. Lalu terjadi lagi saling kejar. Saling lempar.

“Tolong-tolong…” Abi berlari kencang menghindari kejaran Kulup. Akhirnya berhasil juga ia selamat dari sergapan lawan. Kulup kembali mundur ke wilayah aman. Namun baru beberapa langkah Ilham dan Askar menghadang.

“Byar! Kena!” Askar berteriak senang. Bukan cuma kena tapi Kulup kaget sampai jatuh terduduk. Askar dan Ilham ngetos sambil berlari ke tempat aman dengan waspada.

Saling tembak, saling kejar terus berlangsung dengan seru. Beberapa anak sudah mulai berkumpul di bawah pohon kecapi besar. Itu adalah tempat pemakaman para serdadu yang terbunuh dari kedua belah pihak.

Panji yang terletak di atas bukit masih tegak berdiri. Berkibar-kibar ditiup angain. Seakan memberi semangat kepada kedua pasukan. Kini pasukan mulai mendekat ke arah bukit. Pertempuran seru terjadi untuk memperebutkan panji tersebut.

“Naufal, kamu maju ke sana!” Azmi memerintah. Wajahnya nampak serius mencari celah merebut panji.

“Ridho, kamu ke kiri” Azmi terus mengatur pasukannya.

“Jaga, jaga. Dia nggak punya peluru, kejar….” Okta berteriak sampai urat lehernya menonjol. Rupanya duel dengan Imam sama kuat. Sampai Imam kehabisan peluru. Sedang Okta masih memegang satu. Tapi ia tidak kuat lagi mengejar Imam yang larinya bak kijang betina itu. Tapi sial, Hadid akhirnya dengan mudah menembak Imam yang tidak sadar bersandar di pohon, padahal Hadid ada di dekatnya. Hadid hanya tersenyum lebar karena dengan mudahnya membunuh musuh. Imam berjalan lesu ke pohon kecapi besar dekat poskopanitia. Makam para korban perang.

Pertempuran sengit terus berlangsung. Udara panas tak mempengaruhi para serdadu di medan perang. Kecermatan, keberanian dan kekuatan menjadi modal untuk meraih kemenangan di medan perang. Tak kalah kerja sama kelompok. Masing-masing regu mengerahkan segala kemampuanya mengatur strategi untuk merebut panji dari atas bukit.

“Allahu akbar!” kembali Askar berteriak. Setelah melumpuhkan Rio.

“Kena. Kamu kena!” kembali teriakan terdengar dari arah kanan. Roy kembarannya Rio berjalan lesu terkena lemparan Abi. Kembaran memang selalu kompak. tertembaknyapun bareng juga.

Petempuran bertambah seru saja. Semakin banyak juga korban yang berjatuhan. Panitia menyediakan peluru cadangan bagi para serdadu di medan pertempuran. Di berikan langsung ke prajurit yang membutuhkan.

Di bagian putri tak kalah serunya. Bahkan lebih heboh lagi. Maklum anak putrid. Suaranya ribut banget. Teriakan dan takbir menggema di seantero Bumi Perkemahan Cibubur. Apalagi setelah kelompok Bu Veni yang menjadi komandan berhasil merebut panji dari atas bukit. Teriakkan dan takbirnya semakin membahana di angkasa. Rupanya kelompok Bu Nia tak mampu menghadang serbuan total Foot ball-nya pasukan Bu Veni. Sehingga serbuan mendadak yang masal itu membuat suasana heboh luar biasa. Tak ketahuan lagi mana kawan mana lawan. Saling dorong, saling tarik, saling gumul terjadi dalam memperebutkan panji. Bumi bergetar, angin berhembus keras dan daun-daunpun berguguran karena karena dahsyatnya serbuan tersebut. Dentuman granat air seakan memecahkan gendang telinga. Sepertinya berada di medan pertempuran sungguhan.(itu jika granat dan pelurunya beneran. Hehehe…) Korban yang berjatuhan tidak sedikit. Terhampar di padang pertempuran. Seperti ikan mas yang diracun di kolam.

Bukan Cuma militer, warga sipil yang tak berdosapun turut menjadi korban. Itulah buah dari peperangan. Kehancuran, penderitaan dan kematian. Masing-masing pasukan banyak kehilangan serdadunya. Darahpun berceceran di tanah kering berdebu (hehehe…) para pekerja sosial dari palang merah tengah mengobati para korban perang dari kedua pihak. Beruntung Bu Veni, dalam kelompoknya dibantu oleh para serdadu yang lincah dan nekat kaya Filza, Ami, Nabila, Dila, Pipit dan Hani . karuan saja anak-anak putri itu banyak yang basah baju dan kerudungnya. Bahkan setelah panji direbutpun, yang artinya pertempuran selesai, beberapa prajurit yang tidak puas dan masih memiliki peluru sisa saling tembak. Sampai peluru masing-masing habis baru berhenti. Itupun atas campur tangan dewan keamanan kampung. Hal itu terjadi karena para serdadu berebut harta rampasan perang. Hingga terjadi baku tembak antar teman sendiri. Menyedihkan. Padahal harta yang diperebutkan Cuma beng-beng tiga buah. Barulah mereka puas setelah basah dan kotor baju-baju mereka. (darah membasahi tubuhnya…hehehe) akhirnya beng-beng itu dimakan rame-rame (enaknya emang rame-rame) Kegembiraan tergambar di wajah-wajah prajutir yang kecapekan dan laper.

Akhirnya dengan langkah gontai mereka kembali ke tenda untuk istirahat.

“Allahu Akbar!!” pasukannya Bu Veni kembali bertakbir. Filza mengangkat panjinya tinggi-tinggi.

“Allahu Akbar!!” pasukannya Bu Nia-pun bertakbir tak mau kalah, sambil mengepalkan tinjunya ke angkasa.

“Allahu Akbar…!!!” kedua pasukan akhirnya bertakbir berbarengan. Suara gemuruh hampir meruntuhkan segala yang ada di sekitar medan pertempuran. Heboh sekali.

Di kelompok putra pertempuran masih berlangsung seru. Kekuatan berimbang. Pertempuran dahsyat kini terjadi di sekitar bukit. Masing-masing pasukan tidak mau membuang-buang peluru percuma dengan asal tembak. Peluru hanya dilepas jika jarak tembak dirasa cukup dekat. Sebagian mereka dengan berani maju dalam jarak sangat dekat sampai kira-kira 5 – 8 meter. Setelah itu akan terjadi saling lempar.

Ibrahim DS bahkan menantang musuhnya untuk duel ala koboi. Melihat tantangan musuhnya, majulah Fajri panasan menerima tantangan. Dua koboi itu kini saling berhadapan dalam jarak sekitar 8 meter. Tanpa aba-aba lagi Fajri langsung maju menyerang dengan cepat. Ibrahin bersiaga. Tidak mundur malah diam ditempat dengan tenang. Peluru masih di tangan, Fajri melempar namun luput kurang akurat karena lemparan dilakukan sambil berlari. Sebelum peluru kedua dilemparkan secepat kilat Ibrahim membidik lawannya dengan tepat. Dan…

“Kena! Allahu akbar!” Ibrahim berteriak kegirangan. “Yes…Yes..” serunya sambil mengepalkan tinjunya di depan dada lalu berbalik ke arahnya semula. Namun.. ,

Byaar!” sebuah peluru menimpa punggungnya. “Allahu akbar!” Pandu berteriak.

“Makanya jangan kegirangan dulu” Pandu tersenyum sambil berlari menghindar lemparan peluru M. Reza yang mencoba mengejarnya.

Ibrahim masih tetap tersenyum. Ia pergi dalam keadaan tersenyum.

Korban makin banyak berjatuhan. Namun panji masih tertancap di bukit belum tersentuh.

Kelompok dua kini menyusun strategi baru untuk serangan terakhir. Pasukan yang tersisa akan menyerang musuh seluruhnya. Serangan ini akan melibatkan semua unsur, termasuk cadangan. Gelandang kanan dan kiri diaktifkan. Dan diinstruksikan agar lebih berani menusuk ke wilayah pertahanan lawan. Straiker langsung dipasang lima orang. Untuk menembus pertahanan lawan. Umpan-umpan lambung agar dioptimalkan. Ini memanfaatkan keadaan. Karena penjaga benteng lawan tubuhnya kecil-kecil. Tapi gesit. Serangan dikendalikan Azmi. Dialah sang jenderal lapangan. Otak dari kelompok dua. Serangan dimulai. M.Reza menjadi ujung tombak, maju ke depan dengan pasti. Aridho dan Hafiz mengawal kiri dan kanan. Askar kanan luar dan kirinya Arsyad.

Allahu Akbar…, Majuuu…!” Azmi memberi perintah. Serangan makin gencar. Pertahanan lawan mulai kendor. Beberapa musuh jadi korban. Strategi dengan umpan lambung ternyata cukup jitu. Ketika musuh disibukkan dengan serangan mendadak itu, Azmi langsung melakukan solo run menuju ke bukit untuk mengambil panji yang tidak terkawal. Melihat seperti itu, Arifin, jenderal pasukan satu menyuruh prajuritnya kembali menyerang. Mengejar musuh yang ngacir bawa bendera. Namun terlambat, pertahan pasukan dua mampu menghambat laju serangan pasukan lawan. Dan Azmi dengan secepat kilat berlari pontang-panting membawanya panji ke posko. Lalu diikuti pasukannya, berbalik arah dan berlari mengikuti Azmi.

“Horeeee!” teriak mereka.

”Allahu akbar!” sambut yang lain bersahutan. Teriakan dan takbir masih terus bergema, memenuhi angkasa raya.

Arifin hanya terduduk lesu. Pasukannya tak berhasil mengejar pasukan dua.

Banyak korban yang jatuh dalam serangan terakhir tersebut. Kedua belah pihak mengalami kerugian yang cukup besar. Namun panji telah dikuasai pasukan dari batalion dua.

Dan perangpun usai.

Tapi tidak bagi panitia. Perang air antara peserta rupanya membuat panitia yang sejak tadi mengawasi tertarik juga ikutan. Setelah para peserta istirahat di tenda, panitia osis putri berkumpul sambil memegang peluru-peluru sisa.

“Ayo Pak lawan kami..!” tantang Jias mewakili panitia osis.

“Ayo ” Pak Fauzi menerima tantangan.

“Ayo, ayo, kita lawan!” Sambut Jias semangat. “Tapi Pak Fauzi sendiri” usulnya.

“Ga pa-pa. Siapa takut…” Pak Fauzi menerima usulan Jias.

Pertempuran dimulai. Masing-masing memegang dua peluru. Pak Fauzi sendiri, melawan Jias, Dea, Hana, Azka dan Hani. Azka dan Hani langsung maju. Semangat banget rupanya. Pak Fauzi tenang aja tanpa gerakan apa-apa. Azka makin bernafsu mendekat dan

Byar!” granat pertama dilempar. Tapi luput. Padahal Pak Fauzi masih tak bergerak di tempat. Hani ga tinggal diam lalu maju dan melepaskan granatnya yang super ampuh itu. Namun tenaga yang dikeluarkan menjadi percuma. Lemparannya menjauhi sasaran. Tembakan yang ala kadarnya saja. Pak Fauzi masih tak bergeming di tempatnya berdiri. Tersenyum melihat lawannya bernafsu untuk membunuhnya. Pelurunya masih utuh di tangan. Sekitar jarak 10 meteran, Jias, Dea dan Hana hanya menjaga jarak sambil memperhatikan insiden Azka dan Hani. Tidak puas dengan tembakan pertama Azka dan Hani menyerang barengan. Ia mulai maju lagi dan berbisik-bisik mengatur strategi. Kemudian dalam hitungan detik mereka melempar berbarengan dua peluru. Pak Fauzi kaget mendapat serangan mendadak seperti itu, namun masih sempat menghindar, dengan reflek menunduk hingga luput pula serangan kedua. Secepat kilat pa Feri memburu Azka dan Hani yang tanpa peluru itu.

“Byar!” Hani kena di bagian punggungnya. Basah. Azka ngacir menjauh ke arah semak-semak. Sedang Jias, Dea dan Hana mencoba memburu Pak Fauzi sambil teriak-teriak ga karuan.

“Lari-lari terus Ka…” memberi semangat ke Azka. Sedang Jias dan yang lainnya mengejar Pak Fauzi dari belakang. Tiba-tiba Pa Fauzi mengurangi kecepatan larinya dan berbalik ke arah Jias. Satu peluru masih dipegang. Jias dan Hana kaget dengan sikap Pak Fauzi yang berbalik mendadak begitu. Sambil menahan laju larinya serentak mereka melempar pelurunya dengan asal ke arah Pak Fauzi. Tentu saja posisi yang tidak tepat membuat lemparannya menjauhi sasaran. Kini mereka saling berhadapan. Masing-masing dengan satu peluru. Pak Fauzi

maju mendekat beberapa langkah Hana diam di tempat sedang Jias mencoba mundur beberapa langkah. Melihat Jias seperti itu, Pak Fauzi membuat gerakan seolah akan mengejar Jias. Tentu saja Jias kaget dan dengan reflek melempar pelurunya tanpa arah. Melihat kondisi itu Pak Fauzi tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung memburu Jias yang tak berpeluru lalu,

“Byar!” Jias kena. Hana dan Dea tak tingal diam. Mengejar Pak Fauzi yang tak bersenjata lagi. Sampai jarak tembak sangat dekat Hana langsung melempar granatnya dengan seluruh tenaganya dan ,

“Byar!” Pak Fauzi mampu berkelit dengan cepat dan luput. Pelurunya hanya menerpa angin dan pecah di tanah. Hana tampak kecewa. Dea tak tinggal diam memburu Pak Fauzi dan melempar dengan pasti. Juga luput. Dea kecapekan. Pak Fauzi ngacir cari selamat.

“Ya Hana…” Jias menyesalkan tembakan Hana yang luput tadi. Padahal jaraknya sangat dekat.

“Dea sayang banget…” Hani ikut menyayangkan tembakan Dea. Kini semuanya tak bersenjata.

“Cukup!” Pak Fauzi memberi isyarat. “Seri ya…?!” katanya sambil menarik nafas panjang. Capek juga rupanya. “Gimana cukup atau lanjut?” Pak Fauzi membuat tawaran baru.

“Lanjut kata Azka” yang masih ngos-ngosan kecapean.

“Saya main lagi Pa?” Jias bertanya bersemangat.

Nggak dulu” jawab Pak Fauzi singkat. “Kita lanjutin dulu yang tersisa” sambil memberi puluru ke Azka dan Hana masing-masing dua buah. Sedang Dea menyerah. Nggak ikut partai tambahan. Kecapean dia. Sekarang dua lawan satu. Masing-masing mengatur posisi. Jarak tidak terlalu jauh. Hana mendekat ke Azka membisikkan sesuatu. Mereka mulai mengatur siasat. Rupanya mereka akan menyerang dari dua sisi. Depan dan belakang. Hana berputar menjauh ke arah belakang Pak Fauzi sedang Azka diam di tempat. Mereka akan menyerang berbarengan dari depan dan belakang. Tapi Pak Fauzi mengambil kesempatan tersebut dengan sigap. Melihat Hana menjauh dan Azka sendirian Pak Fauzi langsung menyerbu berlari ke arah Azka. Melihat serangan itu bukan melawan, Azka malah ngacir secepat angin sambil teriak-teriak memanggil Hana. Pak Fauzi mengejar dan langsung mampu membuat Azka basah di punggungnya. Azka hanya menggerutu menyesali nasibnya.

“Hana siih…” keluhnya masih terduduk di rumput. “Nggak Bantu aku…” sesalnya.

Di kejauhan Hana hanya senyam-senyum sendirian. Mungkin lagi berpikir mengatur siasat baru untuk bisa melumpuhkan Pak Fauzi. Tapi belum selesai rencana di otaknya, Pak Fauzi langsung mengejar. Melihat gelagat itu Hana langsung cabut selamatkan diri. Langkah seribu dua belas diambilnya. Dengan kecepatan sedang Pak Fauzi mengejar. Tidak lama kemudian Pak Fauzi mampu mengakhiri pertempuran. Serdadu terakhir dari osis putri selesai ditaklukkan. Hos! Capek!

TARIK TAMBANG

satu hari

pagi cerah,

sinar matahari hangat

sisa butiran embun satu dua berkilau

seperti cahaya bintang timur

angin terasa sejuk semilir

berhembus sepoi-sepoi

daun-daun pohon rambutan

bergoyang-goyangan,

melenggak-lenggok

mengikuti irama alam

bak penari jaipong.

sepasang burung gereja

nangkring bercumbu mesra

di kabel telpon

yang melintang di atas jalan

sambil bercerita

tentang cerahnya pagi

dan indahnya hidup ini

Sekolah sudah mulai rame

anak-anak putri heboh

suaranya memantul-mantul di pagar sekolah yang sempit.

hari ini sebenarnya libur

tapi anak-anak tetap masuk.

keren, hari libur masuk juga,

meski setiap hari di sekolah

pagi sampai sore

namanya juga full day yeee…

Pak Budi baru sendirian

guru-guru yang lain

belon pada nongol

padahal sudah jam setengah delapan.

nggak lama Pak Fajar dateng

nyusul lagi Pak Joko

beberapa siswa mulai sibuk,

terutama panitia.

mereka para pengurus OSIS

mereka bertanggungjawab

warga sekolah yang mau

ngerayain 17-an.

teet,teeet,teeeet…!

bel berbunyi nyaring,

anak-anak berbaris

bukan, bukan upacara

cuma pengumuman

ada pengarahan sebelum

bertanding

pak fajar ngasih arahan sedikit

agar semua menjunjung

sportifitas, bla bla, bla….

agar menjaga diri dan

bla bla bla…

anak-anak tertib (ah bosen Pak…!)

tapi yang agak sendu

ketika berdoa untuk teman tercinta

yang setahun lalu

di tanggal yang sama

pergi menghadap Ilahi

Eka Ihsan Mutaqin.

Ya Allah,….

ampunilah dosanya

Kasihilah ia

Maafkanlah

Lapangkanlah tempatnya

Terimalah semua amalnya…

Amiin….!

(anak-anak mengaminkan dengan khusu’)

beberapa anak putri

tak kuasa menahan haru

menangis!

Hhkk…hhkkk….

Hari ini ada tujuh lomba yang akan dipertandingkan :

Tarik tambang

Balap bawa kelereng

Puisi

Nasyid

Cerdas cermat

Sepak bola putra

Basket putri

Beberapa panitia kelihatan

Makin sibuk

Galih, Naseh, Adam, Rangga

Kelihatan hilir mudik

Sibuk ya mas?

Ah nggak, biasa aja!

Ehemmmm….

Panitia putri juga ga kalah sibuk

Zara dan Afi ngatur-ngatur

Peserta adek kelas

Jesica dan Uti

Kebingungan nyari wasit

Weni dan Fatimah

Lagi nyiapin tambang

Buat lomba.

Bentar lagi dimulai

pertandingan pertama dimulai

tarik tambang putra

kelas 1.1. lawan 2.1

bisa diduga

pasukan 1.1 terseret

sampe Pak Fajar yang niatnya ngebantuin ikut terpelanting.

“Terang aja 1.1 kan masih anak-anak maniz yang imut ..”

“Tunggu tahun depan”

“Terus kenapa tahun depan?”

“Ya, tunggu aja…!kan lama…hehe..”

Lanjut…

2.1 langsung lawan 3.1

nah, ini yang seru

Awalnya sih masih bisa bertahan, seimbang

begitu Iqbal sang patok 3.1

bergerak, langsung 2.1 ambruk! Hebat.

Sampe Erlangga yang gede gitu keseret-seret

Jadi, pemenangnya adalah,3.1

Selamat!

Untuk putri,

Lebih seru lagi

Heboh tepatnya

1.2 langsung KO di awal

dilibas 3.2, ….kasian!

pertandingan trus berlangsung

ini baru the real game

2.2 vs 3.2 …iiih serem…!

Lihat aja pada tarik-tarikan

Seru banget

Ga ada yang ngalah

Ga ada yang kalah

Shofi berteriak ngomando

Bunga juga ga kalah keras teriakannya melengking

Noni sampe merem-merem narik tambang

Si kembar Shofa –Marwa tak mau kalah,

Pfuuuh …!

3.2 nggak mungkin mau ngalah sama adiknya… iya ga?!

Nafas jadi ngos-ngosan

Sorak-sorik penonton lebih heboh lagi

Ayoooo…

Tahaaan…

Tariiiik…

Tahaaan…

Tariiik….

Ayoooo…

Begitu terus

Ada yang menarik

Ada yang menahan

Yang nonton aja pegel

Apa lagi yang narik

Tapak tangan pada lecet

Sekarang lihat 2.2

Wenny jadi patok.

Kokoh gagah perkasa

(bercanda wen..)

Lalu Jesica, ini patok kedua

Zara mengomando

“Tahaan” serunya

Uti dan Hana membantu

Mukanya uda memerah

Ais tak kalah seru

Nyaris jatuh ia

Bangun lagi,

Di depannya Ica

Meski kecil kancil ia

Paling depan Tiara dan Afifa

Tarikannya luar biasa

Tambang terus maju mundur

Kadang ke arah 3.2

Kadang ke 2.2

Stamina mulai menurun

Stamina sudah terkuras

2.2 mulai melemah

Wenny makin goyah

Jesica juga….

Fatimah juga…

Uti.., Zara…

Nah lo!

Namun masih mencoba bertahan

Tetap bertahan

Tarik…tarik…

Tahan…

Wenny gemetar

Menahan tarikan dahsyat 3.2

Dan,….

“Brukkk!”

Akhirnya ambruk….

“Huuuuu…”

koor penonton barengan

“Horeeee…”

wah bener-bener seru

pertandingan selesai.

Anak-anak bubaran

Matahari makin tinggi

Sinarnya sudah mulai panas

Semua pertandingan berjalan lancar.

Panitia emang Oke

Makasih Galih…,

Makasih Naseh,Imam, Afif dan semua panitia putra yang lain.

Makasih juga Zara, Afi,Uti ,Weni dan semua panitia putri yang lainnya.

Makasih semua. Makasih.

17 Agustus 2001

Pulau Rambut

Rinduku gelombang pasang

Kulepas angin buritan

merengkuh impian

berlabuh di dermaga hatimu

kayuhlah sampan jiwamu

menuju pantai harapan

jangan kau pergi sebelum terbit purnama

(pulau Rambut :

rinduku tak hilang)

Rombongan kami berjumlah 250 orang lebih. Belum termasuk guru-guru dan beberapa orang wali murid. Jumlah yang banyak tentu saja. Dari sekolah kami menyewa beberapa bis tentara sampai ke Tanjung Pasir. Sebuah pantai kecil di dekat bandara Sukarno-Hata. Dari sana dilanjutkan berperahu motor menyeberang laut ke pulau Untung Jawa. Satu di antara banyak pulau di kepulauan seribu. Di sanalah kami bermalam. Bukan di losmen indah atau rumah. Tapi di sekolah. Beralaskan tikar saja.

Sekolah SD itu menghadap ke laut. Hanya berjarak kurang dari 10 meter saja dari ujung halamannya ke laut. Jika laut pasang, airnya akan tumpah ke halaman sekolah yang luas. Tapi pagar betonnya yang cukup tinggi akan cukup menghalangi air pasang leluasa masuk.

Memang benar-benar asyik, memandang laut lepas dari halaman sekolah. Di mana pohon-pohon yang rindang menjadi peneduh sambil duduk-duduk di kursi kayu menikmati semilirnya hembusan angin laut. Inilah salah satu tempat terindah dalam kunjungan edukatif kali ini. Hebat! Bravo panitia!.

Mengelilingi pulau juga bukan pekerjaan yang terlalu sulit. Justru menyenangkan. Sisa-sisa pohon bakau masih bisa menampilkan keindahan alami. Semak-semak yang menjulur ke air, hamparan pasir, onggokkan karang, Air yang jernih. Kepiting dan ikan-ikan kecil yang hilir mudik di dasarnya, juga ombak dan riaknya yang berkejaran. Ditambah dengan hembusan angin, segar sekali. Indah sekali.

Tapi bukan di pulau ini tujuan utama kami. Pulau berpenghuni ini tentu saja lumayan indah. Meski sebagian sudah agak rusak bermasalah. Terutama masalah pencemaran laut dengan sampah. Pulau ini hanya sebagai transit saja. Tempat kami tidur, MCK dan lain-lain. Tujuan utama kami adalah pulau Rambut. Pulau yang hanya dihuni satwa tanpa kehidupan manusia. Pulau itu dilindungi, bahkan dengan undang-undang dan peraturan daerah. Beragam jenis burung hidup aman dan tenang di sana. Tidak khawatir ditembak atau dijerat pemburu liar atau orang-orang iseng. Setidaknya, lebih amanlah dibandingkan dengan komunitas burung yang berada di daratan. Selain burung-burung, ada beberapa satwa lainnya, seperti biawak, landak, ular, tupai dan lainnya. Semua dilindungi. Pulau itu memang menarik dan menjadi salah satu objek wisata dan penelitian di Kepulauan Seribu.

Kalau dari pantai Tanjung Pasir ke Pulau Rambut sekitar 45 menit dengan kapal motor. Namun dari pulau Untungjawa, tidak lebih dari 15 menit saja. Dari dermaganya, sudah kelihatan rimbun pohon-pohonnya yang hijau. Seperti layaknya hutan. Burung-burung kadang terlihat terbang menuju ke sana.

Kini, lima perahu motor siap mengangkut kami berpetualang ke sana. Ke pulau Rambut. Hari itu ombak terasa lebih besar. Juga hembusan anginnya. Tadinya keberangkatan kami malah akan ditunda. Karena angin yang cukup kuat dan ombakpun akan lebih besar lagi. Tapi setelah ditimbang-timbang, dan pemilik perahu memberi jaminan, diputuskan berangkat. Ternyata benar, goncangan di atas perahu terasa lebih kuat. Semakin dekat ke tengah angin semakin besar. Ombakpun seperti akan melambungkan perahu. Namun anak-anak malah bersorak gembira, setiap kali ujung ombak mengangkat badan perahu dan membantingnya dengan keras. Cipratan air laut membasahi lantai perahu. Juga baju anak-anak yang duduk di tepi perahu. Tapi mereka senang. Perahu makin mendekati pulau Rambut.

Benar saja, pulau Rambut adalah hutan. Yang tampak hanya pohon-pohon besar yang cabang-cabangnya saling mengait dengan rapat. Batang-batang yang besar terlihat kokoh, diselingi semak-semak kecil di bawahnya. Alami sekali. Namun sayang, pantainya yang berpasir putih, sangat kotor dengan sampah kiriman yang memenuhi hampir seluruh sisinya. Pasti terbawa ombak di mana penduduk atau mungkin juga pabrik membuang sampah di laut, dermaga atau muara. Ah, payah memang kesadaran masyarakat kita tentang lingkungan.

Perahu akan merapat, namun tak terlihat dermaga untuk berlabuh. Sedang perahu tidak mungkin sampai ke tepian. Apakah harus turun dan berenang menuju pantai? Ah tidak mungkin. Karena dasar laut yang jernih itu bertebaran landak laut. Sangat berbahaya jika tersentuh. Beracun.

Ketika perahu berbelok mengikuti arus, ternyata ada dermaga kecil yang memang disiapkan khusus. Kokoh kelihatanya, meski terbuat dari kayu yang menjorok ke laut.

Lima perahu itu kini sudah merapat dan menurunkan penumpangnya. Setelah itu perahu kembali dan akan menjemput dua jam kemudian. Anak-anak langsung menghambur menuju pantai. Beriringan menyusuri titian kayu. Cukup panjang. Sekitar 30 meter atau mungkin lebih. Di kiri dan kanan ombak semakin besar. Angin menerbangkan topi-topi yang tak terjaga. Masuk ke laut dan hilang ditelan ombak. Anak-anak berteriak kehilangan topinya. Namun tidak bisa berbuat apa-apa.

Tiba di pantai, petugas penjaga menyambut kami. Ternyata ada pula makhluk manusia di pulau kecil ini. Bahkan ada pos penjaga yang cukup besar dan permanen. Itulah tempat pertama yang disinggahi. Apalagi Ada papan informasi tentang pulau dan keterangan satwa yang ada di sana. Di sebelah pos penjaga ada relief hewan-hewan penghuni pulau di sebuah tembok semen. Ternyata lebih banyak dari yang diketahui sebelumnya. Di sisi kanan relief ada semacam prasasti yang berisi data tentang pulau Rambut. Petugas menanyakan pimpinan rombongan. Setelah selesai segala administrasinya, kelompok demi kelompok anak-anak masuk ke dalam hutan.

Di belakang pos penjaga adalah jalan masuk ke dalam hutan itu. Hanya jalan setapak yang banyak dipenuhi kotoran burung dan hewan lain. Di kiri dan kanan dipenuhi semak, terutama jenis klingkit,akasia, santigi dan jenis perdu lainnya. Pohon-pohon besar tumbuh subur dengan batangnya yang kokoh dan tinggi. Pohon-pohon merambat saling menghubungkan batang-batang yang besar itu. Dimana burung-burung kecil hinggap bercengkrama. Begitu pula dihampir disetiap pohon besar, ada burung yang hinggap di atasnya. Dan membuat sarang di sana. Aneka macam burung ada di pulau itu. Kebanyakan dari jenis bangau. Namun ada juga jenis burung-burung kecil, parkit, merpati dan elang. Suasana di dalam hutan sungguh nyaman. Sejuk, sepi dan sangat alami tentu saja. Tak terdengar deru ombak di pantai. Hanya kicauan burung terdengar merdu. Berpadu dengan gesekan cabang-cabang pohon yang berderak tertiup angin. Siapapun akan merasa seperti berada di tengah hutan jauh di pedalaman yang sunyi atau di pegunungan yang tinggi. Bukan berada di sebuah pulau kecil di tengah lautan yang dekat dari ibukota Jakarta.

Gerimis mulai turun. Hembusan anginpun semakin terasa. Menggoyangkan cabang-cabang pohon dan menimbulkan suara yang menderu berkepanjangan. Gemuruh ombakpun semakin keras terdengar. Bergulung berputar dan terhempas di pantai berbatu. Kini ombak berubah menjadi gelombang yang semakin besar. Hempasannya semakin kuat, sehingga menimbulkan suara gemuruh bergema. Hujan mulai lebat. Pandangan ke laut menjadi sangat dekat. Tertutup hujan yang turun deras. Gelombang tinggi dan angin bertiup keras. Pucuk-pucuk pohon merunduk diterpa hembusannya. Dalam kondisi seperti itu tidak mungkin di layari perahu. Karena dengan sekali hantaman ombak saja, perahu itu akan terguling dan tenggelam dengan sempurna. Sungguh mengerikan!

Anak-anak berteduh di pos penjagaan. Sisanya bergerombol di mushola yang agak jauh dari pos penjaga. Selebihnya lagi berlindung di bawah pohon. Lafaz dzikir mengema di mulut-mulut yang ketakutan. Wajah-wajah pias dan khawatir terlihat jelas hampir di semua anak-anak.

Hujan semakin deras. Dan sudah berlalu sekitar setengah jam lebih. Dan belum ada tanda-tanda akan berhenti. Jelas, ketakutan memenuhi hati semua yang ada di pulau itu. Jam menunjukkan pukul 16.30. masih cukup terang seharusnya. Namun cuaca gelap itu seperti sudah hampir maghrib saja layaknya. Jika hal ini terus berlangsung, tidak mungkin perahu penjemput akan datang. Berarti kami harus bermalam di pulau ini…? Ah, semoga tidak!

Alhamdulillah hujan berhenti juga akhirnya. Angin pun reda. Ombak semakin kecil dan kembali tenang. Awanpun hilan terbawa angin entah kemana. Matahari sore kembali bersinar dengan leluasa. Terang. Anak-anak bersyukur gembira. Sebagian berlari-lari di pelataran luas berpasir. Ada pula yang ke pantai berjalan-jalan kembali. Seperti tak terjadi apa-apa sebelumnya. Benar-benar sudah lewat gangguan cuaca sore itu. Kami kembali menikmati pemandangan ke laut lepas yang indah. Meski baru saja badai dan gelombang menyerang kami dengan ganasnya.

Di kejauhan, perahu penjemput terlihat mendekat. Tiga, empat dan lima perahu kini merapat di dermaga. Anak-anak bersiap-siap meninggalkan pulau yang penuh kenangan. Kenangan badai di sore hari. Masing-masing ketua kelompok memeriksa anggotanya. Sungguh takan terlupa pengalaman indah dan menegangkan. Daag pulau Rambut… kami cinta kau!

Basah,Basah,Basah…

Pagi ceria.

Matahari sudah nongol dari balik bukit

Sinarnya lemah, tapi mampu menembus celah-celah rimbun bambu di belakang pondok.

Gemericik air di bawahnya

Melahirkan simponi tersendiri menambah kesempurnaan pesona pagi

Udaranya benar-benar sejuk

Semilir angin yang berhembus

Menyelusup menembus pori-pori

Dan mengalir bersama darah,

Memberi kesegaran baru

Cericit burung tak habis-habis

Ribut tapi asyik terdengar

Sambil terbang seliweran, melompat

Dari ranting ke ranting

Bercengkrama bersama

Kadang terbang ke tanag. Di bawah pohon bambu.

Mengais mencari cacing.

Lalu terbang lagi ke pohon dengan cericit panjang.

Mereka benar-benar menikmati pagi yang ceria

Anak-anak nggak mau kalah,

Sudah bangun semua

Sudah sarapan semua

Sudah siap semua

Namun belum mandi semua.

Eh, nggak deng!

Sebenarnya ada oknum-oknum yang dengan sengaja membuat provokasi

Agar semua peserta tidak mandi.

Namun usahanya gagal.

Karena orang model Syihan, Dicky, Faris, Ricky dan Anwar tidak mungkin nggak mandi pagi. Tidak bergairah! katanya

Tapi kalau memang orang itu punya bakat dan kecenderungan nggak suka mandi, Akan mudah saja dipengaruhi.

Seperti Ali, Ano, Fatur, Indra, Micky, Zephan, Yahya, Aji, Bram dan banyak juga pengikutnya.

Jadilah mereka itu orang-orang yang

Siap malu.

Meski begitu,

Pagi itu semua terlihat ceria

Mendung yang membungkus sudah hilang sirna,

Rasa takut dan khawatir juga sudah berganti,

Karena semalam bangun jam setengah tiga. Digojlok abis sama panitia

Ga tau tuh ada yang pipis dicelana apa nggak, soalnya jurit malamnya heboh banget. Menyeramkaaaan…!!

bayangin aja, kita disuruh ngapalin kalimat …;

”Telah ditemukan seorang mayat wanita dengan mengenaskan. Rambut tergerai panjang, mata melotot, lidah terjulur dan wajah bersimbah darah…”

Nggak cuma segitu

itu pesan berantai yang harus disampaikan di pos ke tiga.

Harus dihapal, kalo nggak balik lagi

Jadi terpaksa di tengah gelap

Harus menghafal kalimat serem itu

Padahal pos ketiga itu harus jalan sendiri-sendiri, ga bawa senter, gelap, jauh, sereeem dan pohon-pohon besarnya… angker banget!

Si Indra aja bolak-balik berapa kali tuh

Uda di tengah jalan balik lagi ke pos dua

Tapi beneran, emang asli serem!

Pak Topik emang jail dia

Ada-ada aja idenya…

Tapi akhirnya kita nyadar juga sih,

Rasa takut itu harus dilawan

Meski awalnya memang berat

Setelah dipikir-pikir

Ngapain juga mesti takutin gelap

Kalo rasa takut diikutin terus

Akan selamanya takut.

Begitu dilawan… ngacir dia!

Semalem benar-benar menegangkan

Lumayanlah untuk uji adrenalin

Tapi paginya sudah seger lagi

(soalnya habis subuh tidur lagi…)

Sudah oke lagi

Meski tidak semua mandi

Bau-bau dikit ga apalah

Yang penting menikmati perjalanan

Karena perjalanan ini akan ke curug

Curug artinya air terjun

Air terjun artinya

Air melimpah-limpah

Jadi pasukan berani malu yang ga mandi

Emang niat mo mandi di curug katanya

PakTopik ngingetin,

Jangan lupa bawa baju salin

Tapi jangan terlalu banyak bawa beban

bawa air minum juga sedikit aja

nanti di jalan banyak katanya

perjalanan akan jauh.

Pertama kita melewati rumah-rumah penduduk

Menyusuri pematang sawah

Trus ke batas desa

Menyusuri jalan setapak menuju hutan

Hutan lindung gunung bunder

Pohon pinus, cemara, meranti dan aneka jenis pohon besar berdiri kokoh.

Batang-batangnya yang besar menjulang tinggi. Sehingga menutup dasar hutan menjadi temaram dan…teduh.

Ini teduh hujan, bener aja,

Hujan!. Hujan turun.

Apa boleh buat.

Ga bawa payung ga bawa apa-apa. Pasrah di guyur hujan

Ikhlas basah-basahan

Barang-barang yang anti air

Dimasukin ke kantong plastik

HP, Dopet juga Kamera

Kayaknya hujan akan lama.

Ternyata nggak, setelah itu reda

Paling cuma sepuluh menitlah

Tapi cukup membuat pakaian basah

Badan dingin dan rambut kucai

Matahari cerah lagi

Hangat…

Semakin panas…

Kini menyusuri jalan aspal di tengah hutan. Jalan aspal ini membelah hutan yang menghubungkan dua desa di balik gunung

Di sisi kiri jalan sungai kecil

Airnya jernih, deras, melimpah

Satu dua motor ojek lewat membawa penumpang.

Juga orang-orang desa yang mencari kayu bakar atau makanan ternak.

Konon sebelum ada jalan

Gunung ini angker. Serem gitu,

Makanya kata orang-orang

dipakai sebagai persembunyian oleh tentara DI-TII pada masa lalu.

Ga tau deh, bener pa ngggak

Tapi emang sih, tempatnya asyik buat sembunyi.

Banyak celah-celah sempit

Jurang, batu-batu besar, bukit terjal

dan kerimbunan

Perjalanan sudah setengah jam

Pakaian mulai agak kering

Beberapa anak mulai kecapean

Dan tertinggal jauh di belakang.

Pak Hendra yang berjalan di depan

Sudah tidak kelihatan

Bekal makanan menipis

Soalnya sepanjang jalan ga brentinya

Makan. Minuman apalagi.

“Dimana warung air minumnya Pak?”

Tanya Landi yang kehabisan air. “Katanya banyak di jalan” lanjutnya

“Saya nggak bilang banyak warung di jalan, saya bilang banyak air minum di jalan. Tuh air minum, banyak!” Pak Topik menunjuk air jernih yang mengalir deras di sisi kiri jalan. Lalu dengan sigap meminumnya beberapa teguk

“Ya si Bapak, kirain warung…” Landi ngrutu. Tapi nongkrong juga menyiduk air dan meminumnya. “Segar!” katanya.

Ali ikutan nongkrong dan nyiduk juga air dengan tangannya,

“Iya, seger” katanya pula

yang lain nimbrung ingin coba. Tu kan norak!

“Yaa, paling-paling sakit perut” Pak Topik nakutin sambil senyum geli melihat anak-anak minum.

Sebenarnya sudah lumayan capek

Tapi pemandangan hutan sepanjang jalan mampu mengusir rasa cape.

Hingga masuk ke lokasi curug

Namanya curug Cigamea

Nggak tahu artinya apa

Yang pasti curug artinya air terjun

Berbelok kanan

Bayar tiket dan

Masuk menyusur jalan setapak

Jalannya menurun, terjal, licin dan curam.

Kadang berpapasan dengan orang-orang yang baru balik.

“Pak capek pak…” lagi, Indra mengeluh

“Bentar lagi” Pak Hendra yang kini di belakang mendorong-dorong tubuh Indra. Sambil menunjuk ke Jundi

“Jundi aja kuat tuh, ga pernah ngeluh dari tadi” Pak Hendra masih mendorong Indra sambil terus memberi semangat..

Ga tau aja, Jundi juga uda capek banget, jalannya aja terseok-seok. Ya Jun?!

Dari kejauhan sudah terlihat

Air terjun yang cukup tinggi

Dari dekat pasti lebih tinggi, iya kan?!

Bener aja.

Akhirnya tiba juga di curug

Lebih tinggi dari yang diduga

Indah dan mempesona

Beneran. Ga percaya dateng aja

Curug itu berada di sebuah lembah

Di kelilingi bukit batu

Yang ditumbuhi semak

Cipratan airnya sudah terasa dari jarak

Beberapa meter

Jadi meski tidak ikut basahan

Kalo mendekat akan cukup basah

Kena cipratannya.

Anak-anak bertakbir, bertasbih dan,

Tanpa komando

Tanpa aba-aba

Semua langsung nyerbu

Total foot ball.

Blep, blep

Syur,syur

Hup, hup

Pryak,pryak

Glek,glek

Basah semua

Ngrumun di dekat ait terjun

Basahin kaki, tangan, muka dan badan

Maksudnya mandi.

Kebanyakan berpakaian lengkap

Baju dan celana dibasahin

Ada yang buka baju, dan

Ada juga yang… agak-agak gitu.

Emang norak sih. Payah!

Ali dan Fatur langsung ngeluarin sabun dan sampo

Jadi emang niat banget dia rupanya mo mandi.

Yang ga modal minta… cuek bebek.

Emang seger banget

Setelah perjalanan jauh

Nyeeep,… langsung seger!

Lama juga pada mandi jamaah

Di bawah air terjun

Awalnya seger dan asik

Bersuka ria

Bercanda ria

Berbasah ria

Lama-lama dingin juga rupanya

Bahkan badan jadi menggigil

Satu-satu mulai keluar dari arena

Menyerah menarik diri

Dan ganti dengan baju kering

Tapi Uki punya masalah

Ia ga bawa salinan

Tapi mandi ga buka baju

Sekarang menggigil kedinginan

Dan ga ada baju ganti

Sudah diingetin bawa baju salin

Ga bawa juga,

Dia emang karena ga niat mandi

Akhirnya tergoda juga imannya

Lihat yang lain, Ikutan mandi.

“Ya uda, pake aja baju basah, ntar juga kering di badan” Pak Topik menghibur.

“Baju satu, kering di badan…..” Miki dangdutan sambil goyang-goyang.

Anak-anak senyum

Ikutan goyang-goyang, dasar tuh anak!

Semua sudah naik

Semua sudah puas mandi

Eh ternyata masih ada yang mandi

Tau ga siapa?

Ali sama Fatur,

Tu anak emang maruk banget

Ga boleh ada yang aneh dikit

Setelah dipanggil Pak Fauzi baru dia bangun.

Dan saat selanjutnya adalah,

Makan!.

Dari pondok tadi

Setiap orang dapet masing-masing

Satu nasi bungkus.

Masya Allah…

Nimat sekaleee

Habis mandi di curug

Capek, laper dan kini

Makan.

Di kerimbunan pohon di dekat curug

Di atas batu-batu

Di atas bangku-bangku

Setelah makan

Siap-siap balik

Tapi nyempetin berpose

dengan gaya masing-masing

meski ala kadarnya

Sedang Landi ngambil gambar dengan handy cam-nya

Anak-anak norak itu ngumpul dan ribut

Cuek aja, meski pengunjung lain

Melototin mereka.

Ni anak norak banget, pikir mereka

Kini harus segera kembali

Ternyata jalan balik lebih berat

Pertama jalannya menanjak

Kedua habis makan, kekenyangan

Ketiga panas, pas tengah hari.

Jadilah perjalanan yang lambat tak bersemangat

Namun dengan segala daya dan upaya

Sampai juga akhirnya di jalan utama.

Kembali kami menyusuri

Jalan aspal berbatu yang rusak

Di beberapa bagian membentuk

Kubangan air

Bekas hujan tadi

Panas makin menyengat

Langkah makin berat

Luar biasa perjalaan ini

Indra kembali tertinggal

Tapi ia tak sendiri kini,

Ada Miki, Jundi, Uki, Faris dan Riky

Faris sebenarnya masih cukup kuat,

Tapi sepatunya jebol.

Nyeker dia akhirnya

Kelompok di depan entah sudah ada di mana, melaju dengan cepat

Jarak semakin jauh.

Panas makin menyengat

Energi makin terkuras

Lemah, letih, lesu, lelah, loyo, letoy (6L)

Benar-benar kecapean

Benar-benar kepanasan

Baju benar-benar kering di badan

Enaknya hujan lagi…

Beneran,

Tiba-tiba langit gelap lagi

Ga lama turun tetes-tetes bening

“Hujaaan!” anak-anak berteriak kegirangan.

“Basah, basah basah …” Miki dangdutan lagi.

“Alhamdulillah…! Inggra teriak

Bram malah goyang-goyang

Brani juga tu anak…!

Iqbal ikutan, lalu Zephan

Faris cuma senyum aja.

Hujan benar-benar deras.

Anak-anak mengangkat tangan

Menengadah ke atas

Menyambut tetes-tetes bening

Dari langit

Dengan sangat suka cita

Anak-anak mempercepat langkahnya

Karena ketinggalan jarak cukup jauh

Dari kelompok depan

Mereka terus mempercepat langkah

Namun sama ketika tadi berangkat

Hujan deras itu tidak lama

Tapi cukup untuk menambah energi

Mengusir udara panas dan

Menggantinya dengan siraman air

Hujan berhenti

Meninggalkan genangan di beberapa lubang di tengah jalan aspal

Anak-anak sudah berkumpul dalam Satu kelompok besar lagi

Matahari bersinar lagi

Awan pergi

Panas lagi

Jalan lagi

Pa Fauzi berhenti. Anak-anak berhenti

Sekarang berkerumun membentuk lingkaran. Ngrumunin Pak Fauzi

Ada rapat kecil. Mo nentuin tujuan berikutnya.

Soalnya banyak yang sudah ga kuat.

“Masih kuat ga..?” Tanya Pak Fauzi bersemangat.

“Masiiih..” jawab anak-anak tak kalah semangat.

“Nggaaak” jawab yang lain.

“Huuu…!” sahut yang lain lagi

“Gimana mau nggak ke air panas?”

“Mauuu…!” kini nggak ada yang nolak.

Akhirnya disepakati,

Lanjut ke air panas.

“Masih kuat Ndra?” Tanya Pak Fauzi ke Indra.

Oke Pak!” jawabnya singkat. Jalannya tertatih. Senyum tapi kecut.

“Kamu Ki, kuat?”

“Kuat Pak” Uki menjawab kalem. Mesem. Wajahya jadi aneh.

Perjalanan dilanjutkan.

Melewati genangan air

Rumah-rumah penduduk dan

kebun-kebun sayur

setelah kira-kita 10 menit

Tiba di pintu gerbang dan beli tiket

Kembali menyusur jalan setapak

Melewati pohon-pohon dan semak

Di kiri dan kanan

Setelah itu menurun

Namun disemen

Sehingga memudahkan kaki melangkah

Jalan makin menurun

Rupanya ke arah tepi sungai

Hutan bambu kini mendominasi

Pemandangan sekitar

Selain semak-semak belukar

Di kanan jalan

Di kirinya tebing batu

Itu adalah bibir tebing

Yang dipangkas menjadi jalan

Sengaja dibuat menuju ke

Sumber air panas alam

Gemuruh air sungai sudah terdengar

Jalan setapak sudah bukan semen lagi

Dan juga tidak terlalu menurun

Tapi pemandangan semakin mantap saja

Anak-anak berteriak

Kadang diselingi suara takbir

Berpacu dengan gemuruh air yang makin keras.

Dan tiba di tepi sungai

Sungai lebar yang dangkal

Tapi karena banyak batu-batu besar

Yang berserakan di tengahnya

Membuat aliran sungai menyempit dan jadilah suara gemuruh dari arus itu.

Kami masih harus menyusuri tepian sungai

Tidak berapa lama

Terlihat pemandangan luar biasa

Dari tanah tebing di sebelah kiri

Mengalir pancuran air panas

Melalui bambu-bambu besar

Sebagai pipanya

Berjejer rapi di tepi sungai

Uap yang mengepul ke atas

Membuat pemandangan semakin fantastik

Air panas itu jatuh hanya dua langkah dari air sungai yang dingin

Dibatasi cadas keras sebagai tepian sungai yang ditumbuhi rumput.

Ada sekitar 10 atau 12 batang bambu

Yang mengalirkan air panas ke tepi Entah ada di mana sumbernya

Yang pasti jauh

Karena tidak tercium bau belerang

Berarti itu rembesan dari pusat panasnya

Hal itu ga penting

Yang penting adalah mandi

Di bawah pancuran bambu

Awalnya tidak ada yang kuat karena cukup panas,

Tapi setelah beberapa saat tubuh beradaptasi, semua terlibat dalam aksi heboh luar biasa itu.

Semua turun

Semua bertelanjang dada

Ga peduli tipis atau berotot

Lihat aja si Ali, Anwar, Landi, Faris, Ricky, Hasbi, Bram, Ikbal, Uki, Ano, Yahya, Indra,…

Ga ketinggalan Pak Fauzi, Pak Topik juga

Sungguh menyenangkan.

Mandi air panas di udara dingin

“Sayang air panasnya ga bisa di bawa pulang” ujar Ali mengkhayal konyol.

“Ini kompornya pasti gede banget” Pa Topik mulai nyleneh.

“Pancinya juga gede Pa…” Landi nyambungin.

Suasana jadi hangat

Udara jadi hangat

Badan jadi hangat

Hati jadi hangat

Semua serba hangat

Asik buanget!

Beneran!

Asyik, nikmat dan hangat..

Air yang jatuh dari bibir bambu

Menimpa punggung,

seperti dipijit.

Akhirnya semua mengambil posisi

Dengan mengarahkan punggung ditimpa

Air panas yang jatuh dari pancuran

Semua menikmati pijitan air

Semua basah disiram air

Semua asyik…

Namun celaka,

Semua nggak bisa keluar dari siraman air panas itu

Kalo keluar berarti

Dddingiiin!!!

Ghrrrrkhhh…!

Ghrrrrkhhhhhh…!

Namun tidak mungkin basahan terus menerus,

Terpaksa, Setelah puas mandi air panas plus pijit, duduk-duduk di atas batu. Batu-batu besar hampir memnuhi sungai

Angin yang berhembus

Membuat tubuh tambah dingin

Setelah salinan dengan baju kering

Tidak terasa lagi.

Kami terus beristirahat di atas batu

Yang memenuhi badan sungai

Akhirnya tiba juga

Kami harus kembali

Ke pondok bintang tujuh

Jalan kembali menanjak

Langkah kembali berat

Basah pula lagi

Aduh gimana ini

Jalan masih panjang

Semua berkemas

Semua bergegas

Kembali meniti, menyusuri

Jalan setapak di pinggir tebing

Dengan sisa tenaga yang ada

Hingga berhasil tiba di jalan utama

Jalan aspal yang rusak

Berbelok ke arah kiri

Dan terus menanjak

Aspalnya semakin baik

Dan akhirnya sempurna mulus

Jalan juga lebih enak

Bukan karena aspalnya mulus

Tapi jalannya mendatar

Kembali rombongan tercerai berai

Anwar, Syihan, Rengga dan beberapa yang lain masih memimpin di depan

Pak Hendra dengan gagah menemani

Di belakangnya ada Inggra, Aji, Rendy, Bram dan Dicky

Setelahnya Zepan, Landi, Ano, Yahya, Ikbal, Hasbi, Faris dan beberapa lagi berjalan tertatih

Rombongan memang terpisah-pisah

Tak ada lagi tujuan kecuali pondok

Dan yang paling belakang masih tetap Indra, Jundi, Uki dan Pak Topik

Matahari masih terus bersinar

Terasa panasnya menyengat kulit

Namun tak lama mendung kembali

Segumpal awan menghalangi

Dan tidak lama kemudian hujan lagi

Deras mengguyur badan-badan yang capek

Membasahi jiwa-jiwa yang letih

“Basah, basah, basah …” Miki kembali dangdutan.

Hujan terus saja turun.

“Basah, basah, basah..!” suara Miki makin hilang di telan gemuruh hujan.

Kini benar-benar basah!

GURUKU

Saya nggak habis pikir

Kenapa Pak Fauzi mau pindah ke sekolah lain.

Di sebuah pesantren di luar kota

Padahal di sana sepi, terpencil dan jauh.

Bahkan ada teman yang bilang, kalau pindah ke sana, sama aja dengan

meninggalkan semua kesenangan dunia. (hahaha… dramatis sekalee)

Sedemikian terpencilkah pesantren itu?

Sebenarnya tidak juga.

Terletak di daerah berbukit yang dipenuhi tanaman buah dan cengkeh.

Ada danau alam di tengah tengahnya

Sekaligus sebagi pemisah antara

koloni putra dan putri.

Dua masjid besar dibangun

Satu di dekat asrama putra

Dan satunya di asrama putrid

Secara umum tekstur daerahnya terjal. Naik turun bukit

Gedung sekolah cukup megah, asrama, aula, rumah guru, penginapan tamu dan fasilitas lainnya yang lumayan baik

Masalahnya ya itu tadi,

Jauh, terpencil dan sepi…

Sedemikian kuat keinginan Pak Fauzi untuk pindah ke pasantren itu, sehingga tega meninggalkan kami.

Enam tahun mengajar disini rupanya tidak membuat Pak Fauzi bertahan

“Ada daya tarik yang kuat di sana”

begitu Pak Fauzi pernah berkata.

“Apa yang menjadi daya tariknya Pak?” tanyaku lagi. Tidak ada jawaban.

“Kau masih ingat puisi yang pernah saya baca?” katanya balik bertanya.

“Yang mana?, Bapakkan sering baca puisi” tanyaku lagi.

“Puisi tentang seorang mahasiswa IPB yang KKN di pulau Seram…”

“Oo… Muhammad Kasim Arifin!” jawabku cepat. “Saya suka puisi itu!” tambahku

“Benar. Saya juga suka puisi itu.”

Seorang mahasiswa IPB yang memilih mengabdi selama 15 tahun bersama masyarakat transmigran. Di tempat terpencil, di Waimital, pulau Seram.

“Itulah sosok manusia yang bermanfaat bagi orang lain” begitu komentar Pak Fauzi. “Seorang yang tidak peduli birokrasi atau formalitas yang semu.

Ia lebih memilih bekerja, berkarya, memberi dan bermanfaat bagi orang lain…”

Benar, Muhammad Kasim Arifin bahkan hampir tidak peduli dengan gelar kesarjanaannya. Jika tidak dipaksa kembali oleh rektor IPB Andi Hakim Nasution. Dan ia dapatkan setelah lima belas tahun hilang. Berkarya tanpa publikasi, seorang diri, menghijaukan 300 hektar lahan pertanian yang tadinya gersang.

Mengingat kembali isi puisi itu, Bisa jadi, Pak Fauzi terinspirasi dan memilih pindah ke daerah.

Suasana sepi dan terpencil mungkin menjadi daya tarik tersendiri

Sehingga beliau pindah ke sana

Pikirku mereka-reka.

Pak Fauzi pernah bilang di kesempatan lain, bahwa Ia ke sana juga untuk belajar.

Belajar bersama murid-murid

Bersama alam

Menanam pohon

Memelihara ternak

Menulis buku

Menulis puisi

Ia juga ingin

Belajar memahami sepi

Dan memaknai hidup ini

Belajar bahasa Arab dan Inggris

Menambah hafalan Qur’an

Dan ber-uzlah di kesunyian

Seperti Rasul pernah melakukan.

Bahwa di usianya yang sekarang ini

Saat ketika Rasul-pun mulai ber-uzlah

di gua Hiro.

Tapi haruskan begitu?

Entahlah. Yang pasti, kepindahannya ke sana sepertinya sangat berhubungan dengan hal itu.

Menyepi, menyendiri dan berkontemplasi

Merenung, mencari hakekat dan makna hidup.

Pak Fauzi memang agak unik

Setidaknya seperti yang saya kenal

Buku puisi dan cerpennya saja lebih banyak dari buku milik Bu Nina yang guru Bahasa Indonesia

Buku-buku tentang tanaman dan hewan

Juga lebih banyak dari milik Bu Asiah

Yang guru Biologi.

Begitu juga buku-buku tentang olah raga dan bela diri, keterampilan, pendidikan dan lain-lain.

Kalau mengajar sering berkisah, baca puisi dan ngobrol tentang materi bahasan

Tanya jawab kadang lebih banyak

Ketimbang membahas materi.

Dan kalau membuat soal ulangan

Susah. Karena tidak ada di buku.

Karena ia lebih suka mengeksplor isi otak kita, murid-muridnya

Ia suka membaca.

Dan ia punya banyak buku

Sebagian koleksinya di bawa ke sekolah.

Selain untuk referensi, juga dipinjamkan

Ke anak-anak…

Ia menjadi pengunjung setia toko buku

Meski tidak selalu membeli

Tidak melewatkan setiap book fair yang ada. Paling tidak ia selalu membeli buku obralan yang murah

“Yang kayak gini ga ada lagi di toko.” Katanya.

Klipingnya juga sudah lumayan banyak

Dengan aneka topik; olah raga, hobi, sastra, pengetahuan, sejarah maupun hiburan.

Ia juga hobi filateli, koleksi cangkang keong laut dan suka menghias album foto.

Ruang kerjanya jadi agak heboh dan menarik.

Anak-anak suka mampir ke sana

Meski cuma sekedar rehat

Atau melihat-lihat buku, gambar-gambar, koleksi prangko dan foto-foto.

Pak Fauzi juga suka olah raga

Sepak bola, voli, badminton, pingpong, entah apa lagi, itu yang saya tahu.

Kadang-kadang ikut panahan

Yang jadi ekstra kurikuler di sekolah.

Ia juga suka kemping dan jalan-jalan.

Di atas lemari bukunya ada foto ketika di alun-alun Suryakencana, puncak Gunung Gede.

Ia juga suka baca puisi di kelas

Membaca cerpen juga cerita

yang bikin anak-anak “terlelap”

Menurut saya Pak Fauzi juga dekat dengan anak –anak dan suka bergaul dengan mereka.

Tapi kenapa ia harus pindah?

Pertanyaan itu kembali mengusik.

Sampai terakhir ini, saya masih belum tahu apa alasan tepatnya.

Setiap saya tanya selalu jawabannya singkat,

“Saya ingin ke sana!”

“Kenapa?”

“Saya ingin belajar di sana”

“Bapak nggak suka sama kami di sini?”

“Tidak. Bahkan saya sangat suka!”

“Bapak tega ninggalin kita di sini?”

“Sungguh, saya sangat berat. Saya sedih…”

Wajahnya nampak sendu. Saya nggak berani lagi bertanya.

Saya yakin, Pak Fauzi punya alasan sendiri sehingga mengambil keputusan itu.

Saya rasa ada sesuatu yang disembunyikan.

Tapi apa…?

Saya tidak tahu!

Mungkin sudah direncanakan jauh hari?

Mungkin alasan ekonomi?

Mungkin karir?

Atau alasan suasana baru?

Mungkin juga alasannya seperti Muhammad Kasim Arifin?

Idealisme…?

Mengabdi kepada masyarakat terpencil.

Atau di usia seperti Pak Fauzi manusia memang cenderung mencari kesunyian?

Atau memang tanpa alasan?

Saya mencoba memahami tapi tetap saja saya nggak paham. Apa alasan kepindahannya. Walaupun ada,

Rasanya saya nggak mau terima apapun itu

Soalnya saya merasa sangat kehilangan

Bukan apa-apa, Jujur saja,

Saya suka Pak Fauzi

Menurut saya Pak Fauzi beda,

Bisa deket dan akrab dengan anak-anak

Main bersama tanpa hilang wibawa

Main bola atau nemenin osis bekerja

Ikut ngecat dinding dan menghias kelas

Jajan di kantin atau ngobrol di perpus

Selalu terbuka bagi yang mau curhat

Katanya sih, bisa pegang rahasia

Sehingga anak-anak “aman” dan nyaman

Kali lain ia tegas bahkan ‘galak’

Tanpa harus teriak dan tarik urat

Cukup dengan senyum dan sindiran

Emang sih, Sindirannya kadang daleeem banget

“Tajem dan pedes” kata yang lain

Kadang menegur dengan candanya.

Tapi yang bikin serem tatapannya itu.

Bikin orang ngeri dan jadi salah tingkah

Tapi senyumnya juga murah kok…

Senyumnya juga yang bikin suasana jadi encer.

Kalo ada razia paling ditakutin anak-anak

Soalnya banyak barang yang ga dibalikin

Biasanya dibalikin ke orangtua

itu, bikin anak-anak keder dan kelimpungan

Atau parahnya ya dibakar.

Atau juga dipanggil satu-satu. Hahaha…

Bikin tambah gondok aja

Ya kayak gitulah Pak Fauzi

Galak. Tegas tepatnya.

Justru ada anak-anak yang suka

Karena ketegasanya itu

Ada juga yang suka karena keakrabannya,

Atau karena bisa untuk curhat

Suka cerita dan baca puisi

Dan ada yang suka karena Pak Fauzi

Bisa main bola…

Tapi tentu saja,

Pak Fauzi bukan tanpa kekurangan,

Bukan tanpa kelemahan

Pastilah banyak kesalahannya juga

Kadang terlalu berlebihan kalau bicara

Dan kebablasan dalam bercanda

Atau suka lupa sama janjinya

“Suka pilih kasih” kata teman saya

“Galak banget” kata yang lain

“Terlalu disiplin” sambung yang lain

“Selalu mo tahu urusan orang” kata yang lain lagi

“Bla bla bla…” begitu juga yang lain

Namanya juga manusia ya…?!

Ketika saya sampaikan beberapa catatan

Tentang dirinya dari anak-anak

Ia berterima kasih. Ujarnya;

“Mereka nggak kenal saya sih,” begitu jawabnya. “Kalo mereka kenal saya lebih dekat, akan lebih banyak lagi kekurangan saya yang akan mereka tahu…”

Begitulah Pak Fauzi

Ia memang seperti itu

Paling tidak karena ia adalah

wali kelas saya.

Saya merasa sangat terbantu dengan itu

Motifasi belajar saya jadi bertambah

Karena seringnya Pak Fauzi memberi

dorongan untuk terus berusaha agar disiplin, mandiri dan maju

Diajak kami bicara satu persatu untuk ngobrolin masalah kelas

Atau keadaan rumah

Diperiksanya buku kegiatan murid

Untuk mengontrol jadwal belajar harian

Ga cuma itu,

Juga jadwal sholat wajib.

Bagi yang ga sholat, siap-siap aja dipukul.

Lumayanlah.

Tiga pukulan untuk sekali tidak sholat.

“Orangtua kamu pasti nggak mau memukul kalo kamu ga sholat… biar saya aja yang memukul. Biar kamu ingat terus.” Begitu katanya

Tapi sebelum program itu dilaksanakan

Pak Fauzi sudah memanggil semua orangtua. Dan mereka setuju.

Diberinya bintang bagi yang berprestasi

Yang melaksanakan semua kesepakatan

Dari mulai sholat di masjid, membaca buku, belajar mandiri, dan lainnya

Dipasangnya nama-nama kami di kelas

Membuat kami bangga dengan diri kami

Di kelas Pak Fauzi menempel motto kelas.

Saya masih ingat kata-kata yang dipilih

– AGAR MENJADI LEBIH BAIK –

bagi sebagian orang mungkin tidak setuju dengan motto itu,

tapi bagi saya sangat mengena.

Agar setiap murid

mencoba merubah dirinya

menjadi lebih baik

terus dan terus sekecil apapun.

Saya yakin nggak cuma teman kelas saya saja yang merasakan hal itu

Kelas lain juga

Putra maupun putri

Ia juga mudah bergaul

Tidak saja sama murid dan guru

Ia dekat juga dengan Cleaning Service

Dengan dengan ibu-ibu kantin

Biasa duduk bersama

Ngobrol bersama

Main bersama

Tapi, apa mau dikata

Pak Fauzi akan pergi.

Akan pindah ke tempat jauh

Tak ada yang bisa menahannya

Guru-guru, Kepala sekolah bahkan yayasan

Keputusan itu sudah bulat

Sebulat bola yang sering ditendangnya

dengan keras dan tak ada yang bisa menahannya.

Dan lagi, semua proses formalnya

Juga sudah dilewati

Sudah membuat surat lamaran

Sudah pula membuat surat pengunduran

Sudah survey lokasi

Sudah sepakat dengan pihak sana

Sudah ngurus surat pindah sekolah anak-anaknya

Sudah pamitan sama orang sekampung

Guru-guru, wali murid dan anak-anak

Sudah serah terima jabatan organisasinya

Sudah ngepak semua barang-barang

Sudah nyiapin truk segala

Sudah oke-lah pokoknya

Sudah beres semua.

Tinggal menunggu hari keberangkatan saja…

Dan, Menjelang hari keberangkatan itu

Pak Fauzi masih menyempatkan diri

Mengajak kelas kami perpisahan

kemping di curug Cinangka

dua hari tiga malam kami di sana

Basahan di air terjun, mandi di kali, mancing, jalan-jalan di sawah, bakar singkong… Asyik bener!

Itulah pertemuan saya yang terakhir.

Setelah itu saya tidak bertemu lagi

Saya memang harus siap kehilangan.

Sampai masa liburan lewat.

Ketika tahun pelajaran baru

Dan masa orientasi murid baru di Cibubur, saya bertemu Pak Fauzi di sana.

Saya heran bercampur senang

Mungkin ia tidak jadi berangkat

Berarti akan kembali mengajar di sini.

Dugaan saya benar.

Ia memang tidak jadi berangkat ke daerah

Namun tidak mengajar kembali.

Ketika saya tanya kenapa?

Pak Fauzi hanya tersenyum dan menjawab,

“Tidak semua yang kita ingini selalu terlaksana…” sambil tetap tersenyum dan berlalu.

“Benar, tidak semua yang kita rencanakan terlaksana…” ulangku lirih. Tapi saya tidak paham. Terlalu dalam maknanya. Saya pusing.

Beji, Agustus 2003

Puisi Taufik Ismail

(Syair Untuk Seorang Petani Dari Waimital Pulau Seram, Yang Pada Hari ini Pulang ke Almamaternya)

I

Dia mahasiswa tingkat akhir

Ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram

Untuk bertugas membina masyarakat di sana.

Dia menghilang

15 tahun lamanya.

Orangtuanya di langsa

Memintanya pulang.

IPB memanggilnya

Untuk merampungkan studinya,

Tapi semua

Sia-sia

II

Dia di Waimital jadi petani

Dia menyemai benih padi

Orang-orang menyemai benih padi

Dia membenamkan pupuk ke bumi

Orang-orang membenamkan pupuk ke bumi

Dia menggariskan strategi irigasi

Orang-orang menggali tali air irigasi

Dia menakar klimatologi hujan

Orang-orang menampung curah hujan

Dia membesarkan anak cengkeh

Orang kampung panen raya kebun cengkeh

Dia megukur cuaca musim kemarau

Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau

Dia meransum gizi sapi Bali

Orang-orang menggemukkan sapi Bali

Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah

Orang-orang memasang dinding dan atapnya

Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka

Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika

Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital

Jadi petani.

III

Dia berkaos oblong

Dia bersandal jepit

Dia berjalan kaki

20 kilo sehari

Sesudah meriksa padi

Dan tata palawija

Sawah dan ladang

Orang-orang desa

Dia melintas hutan

Dia menyeberang sungai

Terasa kelepak elang

Bunyi serangga siang

Sengangar tengah hari

Cericit tikus bumi

Teduh pohon rimba

Siang makan sagu

Air sungai jernih

Minum dan wudukmu

Bayang-bayang miring

Siul burung tekukur

Bunga alang-alang

Luka-luka kaki

Angin sore-sore

Mandi genyar-gebyur

Simak suara azan

Jemaah meggesek bumi

Anak petani mengaji

Ayat-ayat alam

Anak petani diajarnya

Logika dan matematika

Lampu patromaks bergoyang

Angin malam menggoyang

Kasim merebah badan

Tidur tidak berkasur.

IV

Dia berdiri memandang ladang-ladang

Yang ditebas dari hutan rimba

Dikakinya terjepit sepasang sandal

Yang dipakainya sepanjang Waimital

Ada bukit-bukit yang dulu lama kering

Awan tergantung di atasnya

Mengacungkan tinju kemarau yang panjang

Kini telah gembur, airpun berpacu-pacu

Dengan sepotong tongkat besar

Tiga tahun lamanya

Bersama puluhan transmigran

Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang

Dikais-kaisnya tanah kering kerontang

Dan airpun berpacu-pacu

Delapan kilometer panjangnya

Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja

Mengairi tanah 300 hektar luasnya

Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ

Muhammad Kasim Arifin, di sana

Berdiri memandang ladang-ladang

Yang telah dikupasnya dari hutan rimba

Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibas ekornya

Di padang rumput itu

Rumput gajah yang gemuk-gemuk

Sayur mayur yang subur-subur

Awan tergantung di atas pulau Seram

Dikepung lautan biru yang amat cantiknya

Dari pulai itu, dia telah pulang

Dia yang dikabarkan hilang

Lima belas tahun lamanya

Di Waimital Kasim mencetak harapan

Di kota kita mencetak keluhan

Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca

Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi

Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku

Ketika aku mengingatmu, Sim.

Di Waimital engkau mencetak harapan

Di kota, kami….

Padahal awan yang tergantung di atas kota juga

Kau kini telah berpulang

Kami memelukmu.

1979

(Taufik Ismail : Malu Aku Jadi Orang Indonesia : 112)

Rahasia

Kematian

Kematian…

Sungguh mengerikan mendengar kata itu

Saat ajal tiba

Saat maut menjemput

Saat kedahsyatan sakarat dirasa

Saat badan meregang nyawa

Terbelalak kedua mata

Dan mulut jadi mengangga

Takan ada lagi yang kuasa

Siapapun tak bisa membela

Saat semua menjadi percuma

Segala macam perhiasan dunia

Mas berlian intan permata

Semua itu tak ada artinya

Kecuali amalan kebaikan saja

Yang akan datang membela

Itulah satu sunah berlaku

Kita tak bisa menahan waktu

Tak ada kata abadi

Tak bisa juga masa kembali

Semua akan pergi

Semua takan ada lagi

Tak ada lagi kebanggaan

Tak ada lagi kesenangan

Semua pergi dan hilang

Musnah segala kekayaan

Lenyap semua kekuatan

Kematian…

Sungguh mengerikan mendengar kata itu

Seperti itu memang seharusnya

Menumbuhkan keyakinan diri

Bahwa kematian adalah sesuatu yang mengerikan

Maka hidupmu jangan kau sia-siakan

Karena kematian bukan satu kebetulan

Terhentinya saluran pernafasan

Dan lepasnya nyawa dari badan

Kematian bukan hanya peristiwa alami

Yang akan dialami

Oleh seluruh penghuni bumi

Kematian juga bukan sekedar pertanda

Telah berakhirnya jatah kehidupan

Kematian justru satu permulaan

Memasuki alam keabadian

Kematian adalah pelajaran

Bagi mereka yang masih punya kesempatan

Mengisi hidup dengan kebaikan

Karena kematian adalah rahasia

Tak seorangpun mengetahuinya

Tersimpan rapi di catatan alam sana

Kematian juga tak memilih batas usia

Tua muda remaja belia

Bahkan bayi juga balita

Sungguh,

Kematian adalah rahasia sempurna

Catatan yang tak pernah terbuka

Ia kan datang memilih siapa saja

Atas rekomendasi Sang Maha Kuasa

Apapun alasanmu bukan masalah

Dimanapun kau berada takan berubah

Ketentuan yang telah jatuh berlaku

Dimana tak seorangpun tahu

Kapan akan datang

Bukan pada si sakit yang menderita

Atau kakek lemah yang tua renta

Maut bahkan tak pernah takut

Si muda perkasapun direnggut

Bagaimana menurutmu…?

Jika besok ajal ditetapkan?

Ketika sang maut menjemput

Pisahkan nyawa dari badan

Siapkah kau menghadapinya

Karena kau tak bisa menghindarinya

Meski berlindung di benteng tinggi

Ia tak peduli

Atau dikawal beribu tentara

Ia takan menunda

Ia akan menghampiri

Dengan wajah apa yang kau mau

Menyeramkan lagi busuk baunya

Juga sangat keras caranya

Atau wajah tampan lagi wangi harumnya

Juga ramah dan sangat kasih sikapnya

Itulah pilihanmu

Berwujud dalam amal duniamu

Dicabutnya ruhmu dengan kasar tanpa belas kasih

Serasa lepas persendian

dan putus urat-urat

Kulitpun seperti disayat-sayat

Lalu teriakan menembus langit

Sayang, tak seorangpun mendengar

Sungguh azab yang sangat berat

Saat datang padamu sakarat

Kecuali amal sholehmu berat

Takan kau rasa siksa yang dahsyat

Hanya tarikan ringan

Seperti rambut dalam adonan

Itulah awal balasan

Kematian yang didustakan

Atau dalam keyakinan

Kini lihatlah…

Saat jasadmu dibungkus kain kafan

Tak ada yang bisa kau sertakan

Harta dalam jumlah jutaan

Pangkat dan kedudukan

Istri dan anak kecintaan

Semua ditinggalkan

Saatnya kini kau sendirian

Kecuali hanya sejumlah amalan

Yang sempat kau kerjakan

Keluarga semua hanya bertangisan

Sanak famili dirundung kesedihan

Kini kau diusung dalam keranda

Diantar orang ke pemakaman

Beribu duka

Beribu tangisan

Beribu penyesalan

Bagaimana menurutmu…?

Ketika ragamu terbujur sendirian

Dalam sempitnya liang kuburan

Tak ada penerangan

Dan kehangatan

Yang ada hanya kegelapan

Tak ada kawan

Yang ada hanya kala, ular dan lipan

Tak ada pilihan

Yang ada hanya ganjaran

Kebaikan dengan kesenangan

Keburukan dengan ragam siksaan

Bagaimana menurutmu…?

Saat datang dua Malaikat utusan

Yang ajukan padamu pertanyaan

Tentang tugasmu dalam kehidupan

Tak ada siapa-siapa dalam kegelapan

Tak ada ayah yang melindungi

Tak ada ibu yang menyayangi

Tak ada sahabat yang menemani

Tak ada harta yang kau senangi

Di tempat sempit dalam ketakutan

Tak ada yang bisa kau harapkan

Karna sudah selesai bagimu persoalan

Jatahmu habis dalam kehidupan

Tinggal kini mempertanggungjawabkan

Segala yang telah kau lakukan

Lihatlah!

Seperti apa potret yang kau kerjakan

Ilmu yang kau amalkan

Rizki yang kau belanjakan

Umur yang kau pergunakan

Masa muda yang kau habiskan

Sudahkan sesuai dengan ketentuan?

Betapa berat yang harus kau pertanggung jawabkan

Kini lihatlah!

Amal kebaikanmu datang

Semua memberi balasan

Sholatmu menerangi kegelapan

Dzikirmu menemani kesepian

Saummu meluaskan kesempitan

Tilawah Qur’anmu menghibur kesedihan

Bergembiralah dalam penantian

Sampai datangnya suara panggilan

“Wahai jiwa yang tenang

Kembalilah kepada Rabb-mu

dengan hati puas lagi diridhoi

Bergabunglah dengan hamba-hamba-Ku

Dan masuklah ke dalam surga-Ku…”

(QS. Al-Fajar, 89 : 27 – 30)

“Allahuma inna nasaluka husnul timah

wa naudzu bika minsyarril ‘aqibati wa su-il khotimah…”

(Ya Allah, Kami memohon pada-Mu husnul khotimah

dan kami berlindung pada-Mu dari hasil buruk dan su’ul khotimah…”

[ In memoriam murid-muridku

* Eka Ihsan Mutaqin

* Khemal Ibrahim Tarmidzi

* Abdurahman …

AllahumaghFirlahum warhamhum wa a’fihim wa’fu ‘anhum… ]

Suka Duka Panitia PMB

(penerimaan murid baru)

Kesatu.

Satu sore menjelang magrib. Ruang panitia PMB yang sempit mulai temaram. Meja pendaftaran berantakan. Map-map menumpuk nggak teratur. Lembaran kertas berserakan di atas meja dan di lantai. Di sebelah kanan meja, kaleng bekas susu yang dibungkus dengan kertas kado terlalu kecil untuk menampung banyak isi yang mecem-macem. Ada pulpen, penggaris, cutter, spidol, steples, gunting. Stempel tergeletak begitu saja, juga isi tinta dan baknya. Ada juga lem “Fox”, juga rautan pensil, penghapus, pensil-pensil yang baru diraut,berserakan. Asli, berantakan !

Pak Fauzi masih membereskan kertas-kertas. Sedang Bu Asih merapikan map-map di atas meja. Seperti biasa panitia lembur merapihkan persiapan tes murid baru besok.

“Pak Fauzi beli minuman ya Pak?”

“Iya Bu silahkan, capek ya Bu?

“Lumayan Pak”

“Sekalian aja pesan buat yang lain!”

“Apa minumannya Pak?”

“Ya, terserahlah Bu, tinggal pesan! ”

“Kali ada pesanan khusus”

“Iya,Saya jus alpuket ya Bu!. Yang lain apa Bu?”

“Sama aja Pak!”

“Jangan paksa mereka untuk sama Bu!”

“Biasanya begitu Pak”

“Belum tentu Bu, tanya dulu!”

“Iya Pak, sebentar!”

“Daftar siswa sudah dicopi belum Bu?”

“Belum Pak, tadi print out-nya keselip, baru ketemu nih.”

“Sepertinya harus dikopi sekarang Bu, kalau besok nggak keburu. Belum tentu juga buka foto copinya.”

“Oke deh! Berapa lembar nih Pak?”

“Berapa ya…? untuk psikotes delapan, wawancara tiga. Ya, dua belas deh Bu!”

“Ada yang lain nggak Pak?”

“Iya! Format untuk wawancara Bu”

“Berapa Pak, enam puluh?”

“Tiga puluh aja deh”

Nggak sekalian aja Enam puluh Pak”

Nggak usah Bu!”

“Lembar jawaban juga Pak?”

“Iya!”

“Berapa Pak, tiga puluh?”

“Enam puluh!”

“Kok jadi bolak balik gitu. Tadi saya bilang 60 Bapak bilang 30. Saya bilang 30, Bapak bilang 60. Gimana sih si Bapak?!”

“Baik-baik aja Bu! Itu namanya hidup yang dinamis. Jangan selalu sama. Satu warna. Satu irama. Manusia itu tumbuh dengan karakter dan kecenderungan berbeda. Maka ia jangan paksakan mereka dalam satu…”

“Cukup Pak, terima kasih…”

“Ya si Ibu, Mo dikasih kuliah gratis ga mau. Pak Sholeh masih ada Bu?”

“Sudah balik, kan udah sore Pak”

“Jadi Ibu sendiri yang foto copi?”

“Iya Pak, sekalian pulang”

“Hebat bener si Ibu.”

Gitu aja hebat”

“Iya, hebatlah.Jazakillah ya Bu. Ruang tes psikologi sudah di setting posisinyakan?

“Pak Musthofa tadi sudah ngatur-ngatur

“Ruang wawancara?”

“Pak Ibrahim sedang beres-beres”

“Ruang mata pelajaran?”

“Semua ruangan siap.”

“Termasuk ruang atas kan?”

“Iyalah Pak. Pokoknya untung. Eh beres ress! Si Bapak cerewet juga ya… He he he…”

Wearles-nya sudah dites?”

“Pak Sam tadi ngetes. Sepertinya sih oke

“Wah hebat lagi nih Ibu. Tahun depan Ibu jadi ketua PMB ya Bu?”

“Siap Pak! Eh, nggak deng! Bercanda Pak”

“Beneran Bu, ntar Saya bilang ke Pak kepsek”

“Jangan Pak, jangan! Si Bapak ada-ada aja”

“Lha, tadi Ibu yang mau”

“Itu kan nggak serius, bercanda Pak!”

“Makanya…”

“Aduh Bapak Saya jadi deg-degan. Beneran Pak Saya cuma becanda”

“O, iya muka Ibu jadi merah begitu, tenang aja Bu!”

“Habis si bapak sih, pake mau ngomong ke Pak kepsek segala”

Nggak lagi Bu, lagian kalau Ibu mau juga belum tentu Pak Kepsek setuju. he he he!……”

“Duh! Si Bapak tega banget”

“Maaf Bu! Bercanda kok. Habis si Ibu ge-eran sih”

“Siapa lagi yang ge-er…?!”

”Tapi beneran lho Bu, lumayan , honornya bisa untuk umroh”

“Ah, yang bener aja Pak”

“Yaa, si Ibu. Di-amin-in dong. Nanti didenger deh sama Malaikat.”

“O, gitu ya Pak? Aamin!”

“Iya, Siapa tahu ada calon wali murid yang ber-nazar. Kalau anaknya diterima Ibu diajak umroh. Iya kan Bu?”

“Aamiin. Tapi mungkin juga ya Pak!?”

“Lho, semuakan serba mungkin Bu. Yang penting kita optimis aja. Trus kerja deh yang bener”

Ciiee..”

“Kok ciiee?”

“Iya, artinya bener!”

“Oo, ciiee artinya bener. Baru tahu saya. Setahu saya ciiee artinya baru”

“Kok bisa begitu Pak?”

“Ini tentang tukang sate Bu. Kalo tukang sate lama teriaknya ‘sateeee…!’ tapi kalo tukang sate baru teriaknya ’sateee…, ciiee… ’sateee…, ciiee…”

“hahaha… lucu Pak. Sudah azan Magrib Pak”

“Pesanan minumnya gimana?”

“Nanti aja ba’da sholat”

“Ibu-Ibu ada yang jaga ruangan inikan?”

“Ada Pak”

“Mereka suruh aja pesen duluan, sambil nunggu kita sholat”

“Iya Pak!”

Kedua

Pagi-pagi. Cuaca sejuk, bahkan agak dingin. Sisa-sisa embun masih menempel dipagar besi. Tergantung, berkilau ditimpa sinar matahari. Jam dinding menunjukkan pukul 06.32 Ruang panitia sudah rapi. Taplak mejanya sudah nggak acak-acakan. Map menumpuk menjadi dua bagian, untuk SMP dan SMA. Kaleng susu tempat pensil sudah agak seimbang, Sebagian isinya diletakan di dalam laci. Kalender kecil ada di sudut kanan meja. Di sebelahnya Brosur tertumpuk rapi. Kertas-kertas sudah tidak terlihat berserakan di lantai seperti kemarin sore, Lantainya juga agak bersih.sudah dipel lagi. Kalau Pak Joko sudah datang pasti ruangan ini seharum bunga. Soalnya dia hobi banget nyemprot pengharum ruangan. Yang kurang cuma satu. Panitia belum ada yang datang, eh, belum kelihatan deng! Jangan jangan sudah datang. Kalo gitu yang ngerapiin meja penerima tamu siapa kalo bukan Ibu-Ibu panitia. Mungkin mereka lagi di ruang atas kali, abis nggak kedengeran suaranya. Biasanya paling heboh deh kalo Ibu-ibu udah pada dateng.(ssssttt ada yang dateng!) Ternyata Bu Asih.

“Eh Pak Fauzi udah dateng, Assalamu alaikum Pak!”

“Wa alaikum salam Bu. Ibu nginep ya Bu ?”

“Ya engga lah Pak”

“Abis, kemarin Saya pulang Ibu masih di sini, sekarang Saya dateng Ibu udah di sini lagi”

“Namanya juga pegawai teladan Pak, harus selalu duluan dong datengnya. Dan pulang belakangan”

“Satu lagi, makan nggak kebagian ya Bu”

Nggak Pak, kalo makan sama-sama, kita kan kompak Pak.”

“Bu Veni udah dateng belon?”

“Belum Pak!”

“Ya Bu Veni…, tanda panitianya dia yang bawakan ya?”

“Iya Pak!”

“Saya nggak pakai tanda panitia dong”

“Udah nggak usah Pak!”

N’tar Saya nggak dikenalin dong”

“Ya ampun gitu aja. Tapi, paling bentar lagi dateng”

“Kalo Bu Alin udah dateng?”

“Sudah Pak. Kalo nggak dateng jadi gawat urusannya ya Pak!”

“Giliran makan aja gawat”

“Itukan kebutuhan paling pokok, penting Pak!. Itu Bu Alin Pak!”

“Eh, Bu Alin?! Gimana motor Pak Andri?”

“Beres Pak. Cuma nabrak pager sedikit,”

“Itu sih bukan beres, nabrak pager beres, terus motornya gimana?”

“Motor Pak Andri kuat Pak, buktinya nggak apa-apa!”

“Jadi motornya selamat, syukur deh, yang pentingkan motornya, orangnya sih biar aja”

“Duh Bapak kejem banget, Saya nggak dianggap”

Nggak Bu, bercanda. Soalnya pak Andri nitipnya ke Saya. Maaf Bu!!! Bu Alin nggak apa-apa?”

“Saya memar aja dikit Pak!, kebentur stang kayaknya”

“Sekarang?”

“Mendingan. udah nggak terasa banget”

“Di mana sih Bu ngetreknya?”

“Itu Pak di tikungan dekat SD. Pas nanjak Saya gas dikit, eh, remnya ketinggalan!”

“Kok ketinggalan sih!”

“Ketinggalan diinjek Pak”

“Itu sih Lupa! Dikirain remnya copot”

“Tapi akhirnya berhenti sendiri Pak! He he he…!”

“Iya karna nabrak pager!! si Ibu bisa aja”

“He he he….tau aja Pak”

“Untuk snek gimana Bu?”

“Alhamdulillah, beres Pak!”

“Bener beres nih? N’tar kayak motor juga lagi”

“Yang ini beres beneran Pak!”

“Jadinya beli kan Bu?”

“Iya Pak!”

“Buahnya ada?”

“Ada!”

“Ada snek lebih ga Bu? Saya belum sarapan nih!”

“Ada Pak, tapi yang ini harus bayar?”

Tu kan mulai lagi”

Nggak Pak… tu di atas meja!”

“Makan siang gimana?”

“Sama Pak, ba’da zuhur!”

“Udah tahu!”

“Benerkan Pak ba’da zuhur?”

“Iya,iya! Maksud saya…”

“Nasi padang Pak, jangan marah Pak bercanda!”

“Ya udah, gitu kan enak nggak repot-repot!”

“Iya Pak! Kalem Pak….!

“Duh si Ibu, hampir aja perang dunia ke-3…”

Ketiga

Hari masih pagi juga. Jam sudah menunjukkan pukul 07.50 sebentar lagi tes calon siswa baru dimulai. Rencananya sih pukul delapan teng alias lapan kosong-kosong. Tinggal sepuluh menit lagi sisanya. Calon siswa sudah banyak yang dateng. Mereka ditemani walinya masing-masing. Kebanyakan wali yang datang dari kalangan ibu-ibu.

“Bapak sibuk ada acara lain!” begitu sebagian Ibu-Ibu beralasan. Atau mungkin para Ibu memang lebih peduli akan pendidikan anak?

Belum tentu juga lagi.

Belum tentu apa!

Belum tentu salah!?

Jangan sok tahu lah!

Siapa yang sok tahu, ini kan kenyataan

Kenyataan apa?!

Kenyataan Ibu-ibu lebih banyak datang dari pada Bapak-Bapak

Tapi tidak bisa dong disimpulin begitu

Ya bisa aja, kenapa nggak

[(Eh inikan belum waktunya ngobrol. Ini baru pembukaan, baru prolog gitu.! Saya lagi mau cerita suasana pagi menjelang dimulainya tes seleksi calon siswa, kamu jangan ngajakin ngobrol. Saya mau prolog dulu nih, setelah itu baru ngobrol!)

Ya udah, diterusin aja

Kamunya sih yang mulai

Enak aja nyalahin orang

Tapi benerkan?

Kamu pasti begitu, nggak mau ngalah

Bukan…

Sudah! Sudah!

Ya udah cepetan. Pembaca udah nggak sabaran tuh!

Iya deh, makanya kamu diam

Ini saya sudah diam

Ya sudah dong

Ya udah mulai. diam!]

Di meja tamu Bu Asih sibuk melayani para calon siswa dan orang tuanya mendaftar ulang. Ada tumpukan map di meja yang bertaplak putih bersih. Map itu berisi data siswa dan orang tua, ada juga surat pernyataan. Mungkin saja ada wali murid yang akan menuntut di pengadilan karena anaknya tidak diterima. (jadi perlu jaga-jaga jika ada orang yang kecewa atau sakit hati) di sudut kiri meja ada Tanda kenal peserta tes, rapi di atas wadah plastik biru. Tepat di tengah meja ada mik untuk manggil siswa yang akan di tes atau orang tua untuk wawancara. Bu Asih nampak sudah siap-siap memegang mik untuk memanggil Para peserta. Para pendaftar ada juga yang datang sendiri, mungkin orang tuanya menyusul (Bapak Ibunya tega banget, ato emang sibuk banget kali ya?) Mereka berkerumun disekitar meja pendaftaran. Wajahnya nampak tenang campur cemas. Mungkin orang tua mereka selalu berdoa tak putus-putus agar diterima di sini.

Bagi sebagian mereka, sekolah di sini seakan pelabuhan terakhir bagi anak-anak mereka. satu-satunya tempat pendidikan yang jadi pilihan. Biaya mahal sudah dimengerti sebagai kewajaran tuntutan pendidikan bagus. Sementara buat yang pas-pasan jadi masalah yang luar biasa gawat.

Ibu-ibu panitia mengumbar senyum ramah bagi para pendaftar, senyum abis. tak tersisa. Membimbing, mengantar dan menyapa mereka dengan hangat.

Bu Asih nampak sibuk. Dibantu sama Bu…Bu siapa tuh nggak kelihatan. Kehalang banyak orang. Entahlah, Bu Atin atau Bu Novi, atau Bu Veni kali??! Para pendaftar yang sudah mengisi daftar hadir menunggu di tempat yang sudah ditentukan. Untuk siswa di teras bawah, sedang teras atas untuk orang tua siswa.

[“Hei! kalo prolog tuh jangan panjang-panjang dong, namanya pengantar, ya singkat singkat aja. Bukan ngalor ngidul begitu!”

“Ya ampun! Segitu aja ribut. ini kan ada yang perlu dijelasin, biar pembaca ngerti, dan deskripsinya jelas gitu, iya nggak pembaca?”

“Ya udah deh terusin, ntar malah jadi panjang lagi”

“Nah gitu dong. Nggak usah iseng. Saya mau ngapain kek, mau nulis apa kek itu hak saya, kreatifitas sendiri, orang menulis-kan bisa apa aja untuk dijadikan bahan tulisannya, ya saya nulis ini. yang penting nggak menghina siapa-siapa, tidak ghibah,tidak ngrumpi, tidak gosip,tidak berbau sara, tidak bermuatan provokasi, tidak,….”

“Ya ampun dibilang terusin aja nulisnya malah dia yang nyerocos terus kayak si mandra …”

“enak aja!”

“Habis, dibilang terusin nulisnya malah ngomong terus, saya sudah mau mengalah dan diam supaya kamu bisa melanjutkan nulis ceritanya, lihat tuh jadi kepotong lagi deh, bagaimana jika….”

“Cukup! Cukup! Saya mau nerusin. Nah diam ya!”

Sampai mana tadi ya?]

O,Iya. Begitulah suasana pagi di depan sekolah menjelang tes seleksi calon siswa baru. Bu Asih kayaknya sudah siap-siap megang mik. Bener aja terdengar panggilan.

“Kepada orang tua Fulan Abdullah agar segera ke ruang wawancara di kelas 2.2 atas”

seorang ibu muda bergegas berdiri dan menuju kelas 2.2. dia clingak-clinguk,…lalu dibimbng Bu Veni masuk.

Nah sekarang kita lihat suasana di ruang wawancara di kelas 2.2

“Silahkan masuk Bu!”

“Assalaamualaikum”

“Walaikum salam, silahkan duduk, apa kabarnya Bu?”

“Baik-baik”

“Bapak ke mana Bu, nggak ikut?”

“Iya, bapaknya ada acara keluarga, jadi bagi-bagi tugas”

“Kok, nggak bapak aja yang ke sini?”

“Habis bapak maunya ke sana, biar saya aja yang lebih dekat dengan anak-anak katanya”

“Padahal baiknya berdua lho Bu”

“Iya sih Pak. Habis benturan sih!”

“Ya sudah. Nggak apa-apa kok Bu”

“Yang diterima di sini sedikit ya Pak?”

“Ya, masalahnya gedung kita cuma ini. Setiap level dua kelas. Putra dan putri masing-masing 25 orang.”

“Jadi putra dan putri dipisah ya Pak?”

“Iya Bu!”

“Memangnya kenapa Pak……?”

“Hmmm, Hmm, yaa. Ehmm. Ehem. Begini Bu,(gugup!) anak-anak-kan kebanyakan sudah balig Bu, yah Ibu tahukan bagaimana pergaulan anak-anak sekarang. Maka kita coba antisipasi dengan cara pemisahan seperti itu Bu, dan Islam juga kan menganjurkan seperti itu Bu, agar dipisahkan tempat bagi laki-laki dan wanita. Agar mereka lebih terjaga”

“O, gitu ya Pak? Pantes waktu itu ada yang nikahan dan saya datang tempatnya dipisah.”

“Iya Bu memang seperti itu!”

“Kalau di sini sudah berapa lama SMP-nya Pak?”

“Kita baru meluluskan satu angkatan Bu! Jadi baru empat tahun, masih baru…!”

“Gedung hanya ini ya Pak?”

“Iya Bu, kita untuk sekarang ini hanya punya sarana gedung ini. Untuk olah raga, kita memakai lapangan di bawah itu Bu, lumayanlah bisa untuk main basket dan lari-lari”

“Habis halaman depannya sempit ya Pak”

“Yah, mudah-mudahan saja bisa terus berkembang Bu, doakan saja Bu! …lalu kenapa Ibu memilih sekolah ini untuk putra Ibu?”

“Saya tinggal di komplek timah, tetangga saya banyak yang putranya sekolah di sini, saya lihat mereka baik-baik. Saya juga kenal dengan ibu-ibu mereka… sepertinya saya seneng bergaul dengan ibu-ibu itu….!”

“Kok sepertinya Bu?!”

“Ya soalnya kadang-kadang juga ada nggak enaknya, ya ngomongin orang yang macem-macemlah, namanya juga bertetangga….. Tapi mereka baik-baik kok”

“Lalu Ibu sudah tahu tentang sekolah ini dong…?”

Sebelum Ibu itu menjawab, tiba tiba Bu Asih masuk bawa snek. (kebetulan, laper nih!) Ibu itu sempat melirik dengan ujung matanya kotak snek yang diletakan di samping Saya

“Yang saya tahu sekolahnya sampai sore, anak-anaknya baik ya itu aja. Makanya Saya ingin anak saya di sini!” lanjut ibu itu.

“Artinya Ibu siap ya, kalau anak Ibu diterima di sini dan sekolahnya sampai sore!”

“Iya siap Pak. Waktu di SD Sejahtera anak saya juga seringnya pulang sore”

“Kenapa tidak ke SMP-nya sekalian Bu?”

“Nggak usah lah Pak! Kalau di sini kan dekat rumah, enak. Selain itu saya juga kepingin anak saya sekolah di sini”

“Kalau anak Ibu sendiri bagaimana, minat sekolah di sini”

“Iya lah Pak. Anak saya juga sudah mau, jadi ya oke oke aja…tinggal bisa nggak anak saya diterima ya Pak. Tolong dong pak bagaimana caranya.?”

“Yaah,kalau anak Ibu memenuhi syarat juga akan diterima Bu. Hasil tes psikologinya baik, NEM-nya baik, tes mata pelajarannya juga baik, tes kesehatannya baik juga. Jadi kalau semua syarat sudah terpenuhi dan ibu sudah siap bergabung maka itu akan mudah Bu…”

“Mudah-mudahan ya Pak diterima.” Harapnya.

“Iya Bu…”

Kini Pak Musthofa masuk dengan kamera di tangannya. Ia mengambil beberapa gambar lalu keluar lagi.

Kalo biayanya nggak bisa kurang yaa Pak…?”

Kalo itu, urusan bidang keuangan Bu, Ibu bisa ke sana nanti…”

Trus, biaya bangunan ini untuk apa Pak…?”

“Hmmm,….Hmmmm Ya untuk bangunan Bu!”

“Mau bangun dimana lagi Pak…”

“…Hhhh. rencananya kita akan membangun gedung baru. Kalo disini kan tidak representatif Bu. Kurang baik buat anak-anak.”

“O,gitu Pak ya…. Jadi uang bangunan itu untuk membangun gedung SMP baru…?”

“Iyaaa…Bu,…iya…!” (ehem, ehem…)

“Kalau mengenai pembayarannya bagaimana Pak…maksud saya apa bisa diangsur?”

“Kalau itu Bu, nanti bisa Ibu bicarakan lebah jauh dengan bagian keuangan Yayasan. Tapi dari pengalaman tahun lalu, biasanya bisa Bu. Pada dasarnya kita tidak ingin memberatkan para wali siswa di sini Bu, tapi…….hmmm”

“Soalnya dana kami kan terbatas Pak, Saya minta deh kebijakkan Bapak agar bisa mengangsur pembayaran uang bangunan.”

“Iya, nanti Ibu bisa bicarakan jika sudah ada pengumum ya Bu!”

“Iya deh Pak…….!”

Sekitar 15 sampai 25 menit para wali murid satu-satu dipanggil untuk wawancara.

enam orang yang hadir di ruang itu sebagian besar sangat berharap bisa diterima di sekolah ini.

Waktu dzuhur selesai semua wawancara di ruang 2.2. Pfffuuuhh ! lumayan capek.

Keempat

Siang makin panas. Udara menyergap mengelilingi ruang panitia yang sempit. Ibu-ibu kegerahan, capek mungkin juga lapeeer kali. Bapak-bapak panitia masih belum kelihatan. Pasti masih di Masjid. Jangan-jangan pada tiduran di masjid. Maklum di luar udara panas sedang di dalam Masjid kipas angin muter aja nggak cape-cape, menyebar dan mengalirkan udara sejuk semilir. Yah, yang nggak kuat imannya langsung aja pless! Molor!! Masa bodo tuh perut laper, rasa ngantuk jauh lebih kuat menarik-narik kelopak matanya yang sayu .

Tapi tidak lama kemudian nongol Pak Joko dan Pak Budi di pintu pager. Menuruni tangga, lalu duduk. Pasti nasi bungkus yang ada di pikirannya. Soalnya jalannya sudah agak lesu, wajah agak pucat dan pandangan sayu. Itu tanda-tanda laper (tuh bener kan?!)

“Makan di mana Bu?” tanya Pak Joko

“Iya, udah laper nih !” Pak Budi nyambung sambil megangin perut

“Lauknya apa Bu Asih?”

“Paling-paling ayam, kalo engga rendang”

“Belum tentu, siapa tahu sate, iya nggak Bu?”

“Udah makan aja Pak, tuh di atas meja. Tinggal makan aja juga” (tinggal makan aja cerewet ya Bu)

“Wih hebat! Kirain nasi bungkus lagi. Katanya kemarin nasi bungkus Bu!”

“Iya Pak lupa Saya. Gimana Pak enak?”

“Iya Bu enak. Bisa nambah Bu?”

“Bisa Pak, kalo berani”

“Siapa takut?!”

“He he he …Pak Andri di mana Pak?”

“Di masjid !”

“Tidur Pak ya?”

“Iya ngkali”

“Wah nikmatnya tidur siang panas-panas gini”

“Tapi enakan makan Lho Bu”

“Iya diakan belum makan ya?”

“Belum!”

“Enggak usah dipikirin Bu, entar juga kalo dia laper bangun sendiri”

“Ujian mata pelajaran sudah selesai pak Joko?”

“Tinggal dua orang”

“trus siapa yang jaga?”

“Pak Ibrahim”

“Dia sudah sholat Belum?”

“Kayaknya sih belum”

“Kok kayaknya?”

“Saya kan nggak tahu”

“Biar saya gantiin aja deh”

“Terima kasih Bu! Suruh aja Pa Ibrahim Sholat lalu makan”

“Sekarang pak?”

“Nggak, habis lebaran aja!”

“He heh he…”

“Kalo dia mau makan dulu , tawarin aja Bu!”

“Oke bos!”

Kelima

Hasil seleksi calon murid baru sudah ditetapkan. Disampaikan melalui telpon oleh panitia ke semua peserta.

“Pak anak saya kok nggak lulus…?” tanya seorang ibu dari seberang telephon.

“Iya bu. Itu sudah diputuskan panitia!”

“Yang kurang apanya pak..?”

“Yah…karena syaratnya kurang. Nama anak ibu siapa?”

“Mungkin karena saya tidak mengisi biaya sumbangan dalam formulir ya pak..?”

“Ooo…nggak Bu, bukan karena itu…”

“Tapi karena hasil tes anak ibu kurang….”

“Saya denger yang nggak ngisi form sumbangan ga diterima ya Pak?”

“Nggak Bu bukan itu.(…?)ehhh… anu Bu

memang benar-benar hasil tesnya kurang”

“Kurang apanya Pak?”

“Nomor tes anak ibu brapa Bu?”

“007”

“gini aja Bu, ini ada surat keterangan dari panitia, Ibu ambil aja di…

“Nggak usah Pak…! Kliik!”

(Ah kasian tuh si Ibu……!)

(Jadi ikut sedih…hkk…hkkk!)

(Habis gimana dong…..?!)

(Kite juga kan ga bisa pa-pa)

(Iya sii,…Jadi serba salah ya?)

“maaf ! maaf ! saya udah capek. Saya nggak terusin ya?!….mulai error nih!

“…(#p.r’^% -0,.t/$a-Ni?@;2/0>^2-6” “=+ 7.05%pr*n^m@#+)_…6–2”

___________wassalam

___________Cimanggis, Agustus 2000

Misteri

PANTAI GEDONG

Ini hari kedua rihlah kelas dua di pulau Lancang. Sebuah pulau dalam gugusan kepulauan seribu. Sore ini kami akan ke pantai gedong. Begitu sebagian masyarakat menyebut pantai sebelah utara pulau Lancang itu. Tapi tidak semua ikut. Sebagian akan pergi ke dermaga untuk memancing. Pak Kur yang akan menemani anak-anak yang ke sana. Perlengkapan pancingnya sudah disiapkan. Untuk urusan pancing, ia memang orangnya.

Pak Fajar dan Pak Topik ke pantai gedong. Sebagian anak-anak ikut ke sana.

“Memangnya di sana ada gedongnya ya Pak?” Tanya Farid sambil berjalan mengikuti Pak Fajar yang melangkah cepat. Pak Fajar tidak menjawab, lagi asyik ngobrol sama Barok. Yang berjalan di depannya.

Yang lain beriringan memanjang di belakang. Paling akhir Pak Topik.

Menuju ke pantai Gedong harus melewati hamparan semak yang lumayan luas. Jalan setapak yang berpasir tertutup oleh rumput-rumput tinggi dan belukar. Kebanyakkan pohon-pohon perdu. Pohon jeruk klingkit banyak tersebar di antara semak-semak yang tumbuh liar. Beringin, santigi, akasia dan entah pohon apa lagi.

“Memangnya di sana ada gedungnya ya Pak?” Farid mengulangi pertanyaannya.

“Kata orang-orang sini, Pantai Gedong itu dulunya rumah peristirahatan seorang Belanda.” Pak Fajar menjawab pertanyaan Farid sambil menyibak semak yang menutupi jalan setapak.

“Jadi gedongnya masih ada?” Tanya Farid penasaran.

“Gedungnya sudah nggak ada. Tapi pondasi batunya masih bisa terlihat.” Jawab Pak Fajar menjelaskan.

Emang gedungnya kemana Pak?” Irfan ikut bertanya ingin tahu.

“Ya hancur. Kan sudah ratusan tahun.” Anak-anak diam. Sunyi. Langkah-langkah kaki saja yang kini terdengar. Sesekali terdengar pula suara burung. Lalu hilang terbawa angin pantai. Setelah melewati hamparan semak dan belukar, kini melewati beberapa empang di kiri dan kanan. Seperti tambak yang teratur rapi. Sengaja dibuat oleh penduduk untuk memelihara ikan. Berarti pantainya sudah dekat. Benar saja, samar-samar suara ombak terdengar.

“Pak suara ombak sudah kedengaran” kata Barok kegirangan.

“Iya, sebentar lagi kita sampai” Jawab Pak Fajar. Pantai masih belum kelihatan karena tertutup rimbunnya semak dan pohon-pohon. Namun beberapa langkah kemudian,…

“Gile indah banget…!” Barok setengah berteriak.

“E, kok begitu ngomongnya. Kalau melihat pemandangan alam yang indah bagai mana ucapan kita?” Pak Fajar mengingatkan Barok

“Masya Allah!” teriak Irfan.

“Allahu akbar!” Amiril bertakbir dengan suara keras.

“Nah begitu! Bagus!” Puji Pak Fajar pada Irfan dan Amiril. Anak-anak yang lain mengikuti bergumam takbir dan tasbih. Memang pemandangan laut itu sangat memesona. Hamparan laut lepas terlihat di depan mata. Tak ada batas lagi kecuali garis pertemuan antara birunya laut dengan langit yang putih cerah. Indaaah sekali. Suara debur ombak terdengar tak putus-putus. Bergulung memanjang ke arah pantai. Beberapa perahu nelayan terlihat di tengah laut. Angin sore yang berhembus terasa sejuk menerpa kulit. Dan sinar mentari menghangatkan suasana sore itu.

Anak-anak langsung mempercepat langkahnya. Dilompatinya karang-karang hitam dengan hati-hati. Pantai gedong bukan hamparan pasir putih, tapi cadas hitam yang jika kurang hati-hati akan celaka. Namun airnya sangat jernih. Dan ombaknya tenang. Namun kadang-kadang diselingi ombak besar yang bergulung membawa suara gemuruh. Lalu hilang menerpa cadas dan karang di pantai.

“Haaaaaai…!” Amiril berteriak keras melepaskan emosinya yang tertahan.

“Ooooooii…!” Dudi mengikuti berteriak. Namun suaranya segera hilang ditelan angin.

“Pak boleh mandi kan?” Tanya Farid nggak sabaran. Belum lagi Pak Fajar mengiyakan, Farid sudah kuyup tidur di dasar pantai yang bercadas. “Segaaar…” Farid teriak kegirangan.

Tanpa komando lagi semua masuk ke air dan ….

“Fhuhhh….” Asiiik. Teriak anak-anak sambil tiduran merendam tubuh di air laut yang jernih. Segar sekali rasanya. Tidak ada yang tertinggal, semua ikut serta basah-basahan di air laut yang jernih. Bosan tiduran, anak anak duduk. Selonjor kaki menghadap ke laut, lapang sekali rasanya. Memandang ke depan, sejauh mata memandang hanya hamparan laut biru yang bercahaya ditimpa cahaya mentari sore. Ombak bergulung berpacu saling mendahului lalu hilang di ujung pantai.

Burung layang-layang menari di angkasa mengikuti irama angin. Kadang merendah, kadang meninggi. Kadang mengepak, kadang diam melayang hanya membentangkan sayapnya mengikut arus angin. Terbang tinggi tinggalkan duka, senangkan hati yang lara. Ah, indah sekali.

Tidak ada anak-anak yang manyun. Semua tersenyum lebar. Semua menikmati betul segarnya berendam laut biru. Angin yang berhembus menambah riuh suasana.

“Pak, Pak, apa ini pak” tiba-tiba teriakan Farid memecah suasana. Di tangannya memegang sepotong kayu yang dijolok-jolokkan kebatu cadas. “Bentuknya menjijikan” teriaknya lagi.

Pak Topik segera mendekat.

“Oo, itu teripang. Bawa aja, nanti kamu masak” Pak Topik mengusulkan.

“Emangnya enak Pak?” Irfan bertanya sambil menggosok-gosok rambutnya dengan kedua tangannya.

“Biar enak juga jijai lagi.” Kata Nino yang sedari tadi nggak ngomong-ngomong.

“Iya Pak emangnya enak?” Irfan mengulan pertanyaannya.

Pak Topik tidak menjawab. Hanya menganggukkan kepalanya.

“Haaaaai…!” terdengar samar suara dari arah semak-semak

“Hooooi…!” terdengar lagi lebih jelas. Namun segera hilang ditelan angin dan deru ombak.

“Anak-anak yang di dermaga nyusul Pak…” Dudy memberi tahu sambil melihat ke arah jalan setapak yang tadi dilalui. Namun belum terlihat batang hidungnya.

“Ya sudah, tunggu aja…” Jawab Pak Feri. “Lagian nyesel kalo ngggak ke sini.” Lanjutnya.

“Hai, aku dapat kepiting besar nih!” kembali Nino bersuara. Dua tangannya memegang seekor kepiting sebesar kepalan. Yang lain datang mengerumun. Mulai ikut mencari-cari juga di balik karang. Sekarang acaranya berubah. Memburu kepiting. Anak-anak menyebar di beberapa tempat. Tidak cuma kepiting, tapi ada juga beberapa ekor ikan kecil, teripang, cangkang dan bintang laut hidup. Anak-anak memburu dan menangkapnya. Menyimpannya di kantong pelastik. Maklum norak. Paling-paling cuma untuk koleksi sehari saja. Ya ude ga apa-apa.

“Kalau bekas gedung Belanda itu di mana Pak?” kini Arif yang tanya pada Pak Fajar. Anak-anak yang lain mendekat ingin tahu.

“Di sana tuh!” Pak Fajar menunjuk ke arah barat. “Ayo kita ke sana.” Lanjut Pak Fajar sambil berjalan menyusur pantai.

“Barangnya dibawa aja sekalian” Pak Topik mengingatkan. “Nanti pulang sekalian lewat sana, nggak balik ke sini lagi.”

“Pak , kok yang lain belum kelihatan?” Tanya Irfan sambil berjalan mengikuti. Pandangannya diarahkan lagi ke arah semak.

“Mungkin tadi suara angin, bukan suara anak-anak” Jawab Pak Fajar lagi.

“Nah di sini tempatnya!” Pak Fajar berhenti. Tongkat kayu yang sedari tadi dipegangnya dipukul-pukul ke atas air.

Kira-kira seratus meter dari tempat mandi tadi. Anak-anak ikut berhenti. Pandangannya diarahkan ke bawah seperti mencari-cari sesuatu.

“Ini dia!” seru Pak Fajar. “Ini pondasi bekas gedung itu!” anak-anak mengerumun di sekeliling Pak Fajar. Mencoba melihat apa yang ditunjukkan. Tidak jelas, karena berada di dalam air. Kira-kira tertutup 30 senti di bawah air. Tapi kalau diperhatikan dengan jelas akan terlihat bekas pondasi bangunan dari batu bata merah yang sudah tertutup karang. “Dua tahun lalu batu ini belum terendam air seperti ini” Pak Fajar menambahkan.

“Jadi dulu ini adalah rumah Belanda Pak? Tanya Fatah.

“Betul!” jawab Pak Fajar singkat.

“Jadi dekat dengan laut dong Pak.” Lanjutnya. “Bisa banjir dong kalo laut pasang…”

“Kalau sekarang benar bisa banjir. Nggak pasang aja sudah segini. Tapi kalau masa lalu nggak seperti ini Tah… tahu kenapa?” Pak Fajar balik bertanya.

“Kenapa pak?” Fatah malah balik bertanya lagi.

“Karena dahulu itu pantainya di sana” Pak Topik yang menjawab. Pak Topik menunjuk ke tengah laut. “Mungkin 100 atau 200 meter dari sini. Atau bahkan bisa lebih lagi.” Tambah Pak Topik.

“Jadi di sini dulu daratan Pak?” Irfan mulai nyambung.

“Ya betul! Sudah terjadi perembesan laut ke daratan.”

“Namanya abrasi kan Pak” Nino langsung menjawab. Tak lupa nyengirnya yang unik itu masih tetap ada.

“Cerdas sekali anda” Pak Topik memuji Nino. Nino makin tersenyum dibuatnya. Sementara Musa nguyek-nguyek kepala Nino dari belakang.

“Coba bayangin, jika di sini ada bangunan megah, menghadap ke laut sana. Latar belakangnya hutan belukar yang alami.” Pak Fajar mengajak berfantasi ke zaman tempo dulu.

“Mungkin di halaman gedung ini ada tamannya…” Pak Topik menyambung. “Ada hamparan tanah luas yang rimbun oleh tanaman besar. Setiap hari bisa menikmati terbit dan tenggelamnya matahari. Indah dan romantis sekali kan?” kata Pak Topik sambil senyum nggak putus-putus.

“Iya pak, tapi juga serem.” Farid nyambung trus ngloyor pergi. Rupanya ia tidak tertarik dengan fantasinya Pak Topik. Lain dengan Amiril..

“Emangnya bisa begitu ya Pak kemungkinannya..?” Tanya Amiril pada Pak Fajar dengan serius.

“Sangat mungkin benar begitu Ril…” jawab Pak Fajar. “Bahkan bisa lebih heboh dari yang kita bayangkan” lanjutnya.

“Gimana misalnya Pak..?” Tanya Amiril lagi makin penasaran. Barok, Fatah, Arif dan Irfan ikut merapat ingin tahu. Bagaimana kira-kira gambaran gedung itu di masa lalu. Di kejauhan Pak Topik sudah mulai mengajak anak-anak beranjak pergi meninggalkan pantai gedong. Sambil berjalan pelan Pak Fajar melanjutkan ceritanya.

“Misalnya…,” kata-katanya terputus, seperti sedang mencari bahan cerita yang tepat. “Misalnya, bisa jadi dahulu gedung ini adalah villa yang indah. Dimana tinggal seorang putri cantik. Tapi karena ia kesepian, akhirnya ia bermain di pantai dan hilang ditelan ombak…”

“Maksudnya dia bunuh diri Pak?” Tanya Arif dengan nada tertahan. Wajahnya agak tegang.

“Bisa jadi.” Jawab Pak Fajar singkat. “Atau mungkin sengaja dibunuh oleh bajak laut yang mampir ke sini! Lalu arwahnya jadi penasaran dan gentayangan…” nada bicaranya sengaja diseram-seramkan. “Dan rumah itu menjadi angker…!” Pak Fajar mempercepat jalannya sambil melihat ke belakang seolah-olah ada sesuatu yang menyeramkan. Tanpa komando lagi Amiril, Arif, Fatah, Irfan dan Barok ngacir menyusul anak-anak yang lain yang sudah agak jauh di depan.

“Takuuuut…!” Barok berteriak seolah orang ketakutan.

“Hahaha…” Yang lain tertawa-tawa sambil berlari mengikuti Barok.

“Awas hati-hati!” Pak Fajar mengingatkan. Tapi suaranya sudah tak terdengar. Deru ombak dan hembusan angin menelan suaranya…anak-anak sudah bergabung dengan yang berjalan di depan.

Pantai gedong sudah sepi. Anak-anak sudah meninggalkan pantai misteri itu. Kembali menyusuri jalan setapak namun dari arah berbeda. Matahari di barat sudah mulai turun, langitpun kelihatan menguning. Di ujung jalan ke arah perumahan penduduk di ujung jalan Pak Fajar berpapasan dengan Pak Lani, yang ketua RT. Waktu menyeberang ke pulau Lancang kemarin menggunakan perahunya.

“Pak Fajar dari pantai gedong?” Tanyanya dengan nada khawatir.

“Iya Pak, kenapa?” Pak Fajar balik bertanya, melihat mimik Pak Lani seperti itu.

“Mandi-mandi di sana?” tanyanya lagi. Pak Fajar hanya mengangguk.

“Memangnya kenapa Pak?” Pak Fajar bertanya lagi makin khawatir.

Kalo penduduk sini nggak berani mandi di sana ..” kata Pak Lani menjelaskan.

“Kenapa Pak ..?” Pak Fajar makin nggak karuan. Jantungnya berdebar keras. Dag,dig,dug,… dag,dig,dug….

“Ya nggak apa-apa sih…” jawab Pak Lani seperti mencoba menutupi sesuatu. “Cuma orang sini menganggap tempat itu agak angker. Semoga saja tidak apa-apa…” lanjut Pak Lani sambil berlalu.

“Ya semoga tidak apa-apa…” gumam Pak Fajar lirih. Ia baru ingat, suara teriakan anak-anak tadi. Jangan-jangan…

“Ah bukan!” Segera ia menepis dugaannya sendiri. Terus mempercepat langkahnya menyusul anak-anak.

HARI PALESTINA

Tangismu adalah tangisku

Dukamu adalah dukaku…

Palestina…

Hatiku ini untukmu…!

Palestina…

Jantungku ini milikmu…!

Agar kau selalu hidup

Bergerak tumbangkan yahudi…!

***

Dalam rangkaian amaliyah Ramadhan,

Sekolahku menggelar acara

CDR 1422 H. Itu artinya,

Ceria Dalam Ramadhan 1422 Hijrah.

Banyak acara yang dirangkai

Ada temu penulis, temu alumni, kunjungan ke pemukiman kumuh, kunjungan ke Rumah sakit, pentas seni, seminar, buka puasa bersama, santunan, bazaar, pentas nasyid Gradasi, aneka lomba dan hari Palestina.

Untuk acara hari Palestina

Panitia mendekor panggung di teras masjid. Latar panggungnya disetting seperti suasana Palestina.

Dengan menutup tembok masjid bagian depan dengan menempelkan kertas samson yang berwarna cokelat.

Kertas itu kemudian digambar dengan motif batu bata. Sehingga menimbulkan kesan suasana rumah-rumah rakyat Palestina dengan sebagian tembok-tembok yang berguguran terkena peluru atau serpihan mortir.

Di halaman masjid dipasang tenda. Tempat undangan dan murid menonton.

Setiap kelas menampilkan kebolehan mereka. Semua seputar perlawanan rakyat Palestina melawan penjajah Israel.

Ada nasyid, opera, puisi dan drama.

Penampilan yang luar biasa. Mereka serius menggarapnya. Dari jalan cerita, kostum juga musik pengiring. Meski ada juga yang terkesan apa adanya. Namun semangat untuk tampil, sangat layak diberikan penghargaan.

Yang tak kalah menarik adalah,

guru-guru yang ikut tampil di panggung. Mereka memakai kaos seragam bergambar pemuda Palestin. Juga mengenakan kafayeh (sorban) yang dibelitkan menutup wajahnya. Seperti para pemuda Palestina yang tergabung dalam Hamas saja layaknya. Selain orasi, para guru membawakan beberapa nasyid yang bertemakan Palestina.

Hampir semua guru tampil. Pak Fajar,

Pak Joko, Pak Tuy, Pak Faqih, Pak Topik dan Pak Budi. Hebat Pak!

Selain pementasan seni, panitia juga mengumpulkan dana kemanusiaan untuk rakyat Palestina. Untuk itu, panitia membuat pin sederhana dari kertas warna yang dipres bergambar bendera Palestina. Pin-pin itu dijual kepada pengunjung, yang terdiri dari orangtua dan murid-murid. Ada juga beberapa petugas yang membawa kantong infak yang diedarkan ke seluruh penonton.

Di samping pengumpulan dana itu, yang terpenting adalah, Menumbuhkan rasa ukhuwah islamiyah terhadap penderitaan rakyat Palestina yang dizolimi zionis Israel la’natullahu alaihim. Bahwa mereka adalah bagian dari kaum muslimin. Dan kaum muslimin di manapun berkewajiban membantu mereka. Sebisanya.

Acara berlangsung semarak dan lancar.

Terima kasih semua.

“Al-Aqsho, Al-Aqsho air matamu berderai

Al-Aqsho, Al-Aqsho kemuliaanmu tergerai

Duhai Al-Aqsho-kurindu padamu

Duhai Al-Aqsho- kusayang padamu

Kali pertama engkau dibebaskan

Oleh Sholahuddin di masa yang silam

Namun kini engkau terkurung lagi

Siapakah yang kan membebaskan..?”

Pada Sebuah Sekolah

(Kenangan Seorang Murid)

Sekolah adalah rumah

Tempat aku bermain,

Tertawa dan bercanda

Sekolah adalah musholah

Tempatku beribadah, tilawah,

dan menghafal doa-doa

Sekolah adalah hutan

Tempat aku menjelajah, berburu

dan bertualang.

Sekolah adalah lapangan hijau

Tempat aku berlari, melompat

Dan menangkan pertandingan

Sekolah adalah kelas

Di mana aku belajar

Membaca dan menulis

Mencoba dan bereksperimen

Sekolah adalah kebun

Aku mencangkul dan menanam

memberi pupuk dan menyiang ilalang,

Sekolah adalah panggung

Tempat aku bernyanyi, pidato, latihan drama

Dan Membaca karya sastra

Sekolah adalah kuburan

Yang mengingatkan tentang kematian

Dan persiapan untuk hari pertemuan

Sekolah adalah tangga

Akan mengantarkanku

Menuju puncak

Meraih prestasi,

Sekolah adalah padang luas

Tempat yang tak terbatas

Untuk menggapai cita-cita

Menggali potensi

Menempa pekerti

Mengasah kecerdasan

Melatih keterampilan

Merancang masa depan

Membangun peradaban

Sekolah adalah,

Pondok kehidupan…

Di sana aku tumbuh

Memulai masa dewasaku

Mengenal diriku lebih dalam

Mengetahui tugas dan kewajiban

Mengenal dunia lebih dekat

Mengerti kehidupan akhirat

Di sana aku berteman

Mengenal arti persahabatan,

tolong-menolong, kebersamaan,

dan berbagi perasaan

Di sana Aku bertemu guru-guru

Aku mengerti makna pengorbanan

Pengabdian dan keikhlasan

Memberi tanpa harap kembali

Menerima tanpa ada rasa hina

Aku mengenal banyak ilmu

Pelajaran dan Pengalaman

Sungguh satu keberkahan

Melewati bagian hidupku

Pada sebuah sekolah

Yang memperkaya jiwa

Dan memperindah budi bahasa

Selama tiga tahun lewat

Serasa waktu begitu cepat

Benar,

Ini bukan penghabisan

Tapi jalan panjang

Menuju kesuksesan

Di dua kehidupan

Cimanggis, Juli 1997 – Juli 2003

Perpisahan

Ini saat yang paling tidak aku suka.

Perpisahan.

Saat haru biru hatiku menjadi-jadi

Saat emosiku kandas terkuras

Saat air mata tak bisa lagi dijaga

Bahasa jiwa menjadi sangat lembutnya

Dan hati menjadi begitu lunaknya

Saling melepaskan

Saling merelakan

Saling memaafkan.

Haru.

Tak elok rasanya menyebut apa kebaikanku

Karena memang sungguh tak layak disebutkan

Aku justru malu untuk mengungkapkan

Betapa banyak khilaf kulakukan

Dalam masa kita bersamaan

Tak ada kesempatan untuk meminta

Dan memohon maaf

Atas segalanya

Atas semuanya

Atas segala kekurangan

Atas semua kesalahan

Agar perpisahan ini benar-benar sebagai penghapusan

Dari selangit bentuk kesalahan

Agar kenangan yang hadir dalam ingatan

Hanya keindahan dan hangatnya persahabatan

Jarak yang memisahkan semoga hati akan selalu merekatkan,

hingga kita akan selalu merasa dekat.

Aku ingin sekali ini saja

Melepasmu dengan tawa gembira

Dengan hati penuh bunga bahagia

Itu bisa,

Tapi selalu saja tangis menyertai

Mendung kesedihan mengiringi

Dan guratan duka tertinggal…

Begitulah,

Perpisahan selalu saja meninggalkan rasa sakit

Menyisakan kesedihan

Menyesakkan dada

Menggores duka

Langkahpun bertambah berat

Ketika menyadari bahwa

Rekaman kejadian akan segera berubah

menjadi lembar-lembar kenangan

Kucoba menuliskan kata-kata indah

Tuk abadikan saat-saat berpisah

Agar abadi sebagai kenangan

Yang tak kalah oleh zaman

Namun selalu saja aku tak bisa

Tangan ini bergerakpun sudah tak kuasa

Aku kehilangan kata-kata

Dan kehabisan air mata

Degup jantung di rongga dada

Terus menghentak-hentak nurani

Dan menjebol dinding jiwa

Dengan datangnya perpisahan ini

Sayangnya,

Aku tak bisa memilih,

Untuk menghindari perpisahan

Selagi putaran bumi ini terus berjalan

Dan nyawa masih di kandung badan

Terus bergantian siang dan malam

Matahari kan terbit dan tenggelam.

Kehidupan akan selalu berganti

Datang dan pergi

Berkumpul dan berpisah

Begitulah…

Seperti itulah yang kurasa

Setiap tahun harus kualami

Melepas kebersamaan denganmu,

Semua murid-muridku

Melepas segala ikatan

Yang telah lama kita pintal

Selama tiga tahun di sekolah

Telah lewat sudah masa

Kebersamaan …

dalam canda, tawa dan suka cita

dalam sendu, tangis dan air mata

Betapa asyik kebersamaan itu

Anugerah yang tak terkira

Tapi ini bukan penghabisan

Ini adalah bagian

Dari sebuah perjalanan panjang

Dan merakit kerja besar untuk masa depan yang cemerlang.

Kukirim puisi ini untukmu

Agar kau tahu,

Seperti apa hatiku

Pergi ke dunia luas, anakku sayang

pergi ke hidup bebas

selama angin masih angin buritan

dan matahari pagi menyinar daun-daunan

dalam rimba dan padang hijau

pergi ke laut lepas anakku sayang

pergi ke alam bebas

selama hari belum petang

dan warna senja belum kemerah-merahan

menutup pintu waktu lampau

jika bayang telah pudar

dan elang laut pulang ke sarang

angin bertiup ke benua

tiang-tiang akan kering sendiri

dan nahkoda sudah tahu pedoman

boleh engkau datang padaku!

Kembali pulang, anakku sayang

Kembali ke balik malam

Jika kapalmu telah rapat ke tepi

Kita akan bercerita

“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”

(Asrul Sani)

Beji Timur, 7 Mei 2004

Akhir Kalam

Saya mau pamit

Saatnya saya balik

Bukan untuk istirahat

Tapi akan terus mencari

Tempat yang bisa disinggahi

Seperti saya pernah di sini

Pada Sebuah Sekolah

Di mana telah

Memberi banyak kesan

Memberi banyak pengalaman

Meninggalkan lembar kenangan

Takkan mungkin bisa saya lupakan

Sungguh,

Satu kebanggaan bagi saya

Bertemu denganmu

Pada Sebuah Sekolah

Di mana kita pernah

Berbagi dalam suka

Bersama dalam duka

Selalu tersenyum senantiasa

Sungguh,

Satu kebahagian bagi saya

Berjumpa denganmu

Pada Sebuah Sekolah

Di mana kita pernah

Saling memberi

Saling mengisi

Saling berbagi

Membuat hidup ini lebih berarti

Sungguh,

Satu kesenangan bagi saya

Bisa bersama denganmu

Pada Sebuah Sekolah

Di mana kita pernah melakukan

Aneka petualangan

Beragam permainan

Dan berbagi pengalaman

Sungguh,

Satu kehormatan bagi saya

Sempat berkumpul denganmu

Pada sebuah sekolah

Tak lama, tapi sungguh berarti

Di mana kita pernah merasakan

Indahnya kebersamaan

Hangatnya persahabatan

Yang telah

Menghidupkan hati

Mencerahkan nurani

Menghaluskan akal budi

Anugerah yang takan bisa terbeli

Saya mau pamit

Saatnya saya pulang

Saya akan berbagi cerita

Pada anak-anak saya tercinta

Bahwa saya,

Pernah bertemu denganmu

Pada Sebuah Sekolah

Saya akan katakan pada mereka

Saya sunguh bangga

Pernah bersamamu.

(malam makin larut)

Depok, 16 Juni 2004

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: