mahkota

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: cerpen |

kusematkan mahkota mutiara

Suasana sungguh gawatnya. Aku tak tahu apa yang terjadi. Semua orang bergerak seperti gelombang-gelombang di lautan. Bergerak ke kanan secara bergelombang, lalu bergerak ke kiri juga bergelombang. Karena jumlah manusia yang sangat banyak, hingga tak terhindari lagi, saling injak, salik tabrak, saling sikut, saling tendang, salik tarik , saling pukul dan saling angkat bahkan saling banting. Semua berupaya sendiri-sendiri, mencoba menuju ke bagian terdepan, mengapai tujuan, mementingkan diri sendiri, meninggalkan siapapun yang di belakangnya. Namun anehnya begitu sampai ke sisi yang dituju, mereka balik lagi bersama-sama, berlari, berjalan, merangkak, bahkan dengan cara berguling-guling di tanah yang keras berbatu. Terlihat mereka sangat kecapaian, tapi badan mereka terus saja bergerak dan bergerak, seolah tak lagi mereka bisa kendalikan.

Udara sangat panasnya, matahari serasa di atas kepala. sejauh mata memandang hanya lautan manusia yang terlihat. Melahirkan pemandangan yang menggetarkan dan menakutkan. Peluh bercucuran seperti hujan turun. Tanah tempat berpijak jadi basah dan becek. Bahkan dibeberapa tempat, ada orang-orang yang terendam keringat sendiri. Ia berteriak-teriak seperti kesurupan, meronta-ronta seperti banteng gila, memukul-mukul wajahnya sendiri. Mencabik-cabik hingga daging-daging badannya terkoyak. Suara hiruk pikuk terdengar dari segala penjuru. Teriak ketakutan , lolongan kengerian dan jerit kesakitan, Sangat gaduh, memekakan telinga. Bebenar-benar suasana yang menyeramkan. Wajah-wajah cemas dan pucat terlihat pada semua orang. Mereka begitu tersiksa, sangat ketakutan. Namun mereka tak berdaya, masing-masing hanya mengurus diri mereka sendiri. Hilang harapan dan yang ada hanya penyesalan.

Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan. Tak pernah aku saksikan, meski dalam film horror sekalipun. Tapi yang ini aku rasakan sendiri. Suaranya begitu jelas, uap udara panas begitu terasa, suara jeritan begitu dekat, tidak mungkin aku sedang menonton film. Aku berada bersama mereka. Aku merasakan beberapa orang meminta padaku, sebagian lainya menabrakku, yang lainnya memanggil-manggilku. Aku kenali sebagian mereka. Karena mereka teman-temanku, saudaraku dan orang yang pernah kukenal…

Tapi anehnya, aku seperti berada di tempat yang tersekat. Ada pembatas yang tak bisa ditembus. Seperti cahaya putih berseri. Aku mudah saja menggerakkan kakiku kemana kusuka. Aku bebas berjalan-jalan ke mana kumau, aku dekati orang-orang yang tersiksa, yang berteriak meronta-ronta, mencabik badan sendiri. Wajah-wajah yang ketakutan, kesakitan dan putus asa. Mereka hanya menatap dengan pandangan pasrah tak berdaya. Namun sebagian mereka yang masih bisa bergerak, datang mendekatiku. Mencoba menyentuh tanganku. Seakan ingin aku menolongnya, memberinya minum, dari cawan yang kupegang. Namun aneh, sekali lagi aneh, mereka tak mampu menyentuhku, dan akupun tak mampu menyentuhnya. Aku hanya mendengar keluh kesah, jeritan dan lolong kesakitan.

Tiba-tiba langkah kakiku menggerakanku ke arah kanan. Terus melewati kerumunan orang-orang yang terendam keringat sendiri, kelompok orang yang mencabik wajah sendiri, golongan orang yang berteriak-teriak histeris sendiri… aku terus melewati mereka, dengan mudahnya, dengan kecepatan yang tak bisa kujaga. Seperti melayang, munuju tempat yang semakin tinggi. Kelompok orang-orang itu semakin jauh di belakangku. Bahkan sudah tak terlihat lagi. Kini udara semakin terasa sejuk, suasananya menjadi tenang, perasaanku jadi lapang. Sekonyong-konyong ada suara lembut namun jelas memangilku, aku menoleh ke arah asal suara. Kulihat seberkas cahaya, sangat indahnya. Berkilau namun tak menyilaukan. Cahaya itu semakin dekat. Dan kulihat seorang dengan wajah sangat rupawan. Berjalan seperti awan. Bau harum menyeruak, ia membawa mahkota bertabur mutiara, sungguh indahnya. Kini berada tepat di depanku.

“Ini untukmu…” katanya lembut. Aku tak menjawab, belum mengerti apa ini yang tengah terjadi…aku kaget. “ya, ini untukmu…!” ulangnya padaku sambil menatapku ramah. Kuambil mahkota itu, kuamati dengan seksama, subhanallah, sangat indahnya. Tak pernah kulihat mahkota seindah itu. “Serahkanlah pada orang itu…!” lanjutnya sambil menunjuk dua orang yang tengah duduk di sofa indah di bawah pohon.

“Ayah, Ibu…!” seruku gembira. “Ini untuk mereka…?” tanyaku menegaskan.

“Ya…!” jawabnya lembut. Aku bergegas mendekati ayah dan ibuku yang tengah bercengkerama beristirahat. Ia belum melihatku… aku semakin dekat. Namun tiba-tiba ada sesuatu yang menahanku. Kakiku terasa sulit digerakkan. Lalu terdengar suara memanggil-manggilku…

“Hai Hanan, Hanaaan…!” dalam samar kulihat wajah Dinda temanku. Membangunkan tidur pulasku. “Kenapa? Kamu mimpi…?” tanyanya melihat kekagetanku.

Aku hanya diam. Kutarik nafas panjang. Kutenangkan diriku. Kusebut asma Allah berkali-kali. Ya aku bermimpi, kataku dalam hati. Mimpi yang menjadi dambaanku. Kemarin bunda Nur bercerita, bahwa bagi penghafal Qur’an, akan mendapat kemuliaan, memberi mahkota bagi ayah bundanya, di akhirat.

“Ya Allah, beri aku kesempatan, memberi ayah-bundaku mahkota mutiara kelak…!”

Subang, Jum’at sore yang sendu. 090207

(buat Hanan, semoga Allah memberimu kesabaran dan kemudahan menjadi hafidzoh.)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: