kembalikan sastra ke sekolah

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: artikel |

Kembalikan Sastra ke Sekolah

Salah satu observasi yang dilakukan terhadap tamatan sekolah menengah atas (SMU) di 13 negara, menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Observasi itu berkaitan dengan berapa jumlah buku sastra yang wajib dibaca selama menjadi murid SMU. Setiap murid membuat tulisan tentang buku yang dibacanya, kemudian diujikan.

Ternyata, negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei dan Thailan membaca 6 – 7 buku wajib selama 3 – 4 tahun masa sekolah mereka. Murid-murid SMU di perancis, Jepang, Rusia dan Swiss sekitar 15 – 25 buku wajib. Sedang di Amerika sekitar 40-an buku yang wajib dibaca. Bagaimana dengan murid SMU di Indonesia? Ternyata murid SMU di Indonesia membaca 0 (nol) buku sastra ketika mereka selesai sekolah. Mereka hanya mengenal nama pengarangnya. Tidak pernah membaca buku sampai habis, tetapi hanya membaca ringkasannya.

Hal inilah yang membuat Taufik Ismail, sang observatory, meradang luar biasa. Sang penyair itu menyatakan keprihatinannya yang mendalam atas rendahnya budaya baca masyarakat Indonesia. Termasuk masyarakat pendidikan.

Dihilangkannya pelajaran sastra di sekolah, menurutnya, menjadi salah atu penyebab rusaknya perilaku sebagian murid-murid sekolah. Seperti tawuran yang tak pernah berhenti, narkoba maupun pergaulan bebas. Padahal satra, masih menurut Taufik Ismail, akan membuat hati dan perasaan murid-murid menjadi peka, halus perilakunya dan tinggi tanggungjawabnya.

Menindaklanjuti temuan itu, Taufik ismail dan para penyair lainnya yang peduli terhadap nasib generasi muda, berkampanye tentang menumbhkan minat membaca di kalangan murid-murid khususnya dan mengembalikan sastra ke sekolah-sekolah.

Kampanye tersebut tidak hanya dalam bentuk persuasi lisan, tetapi mereka juga bersafari mengunjungi sekolah-sekolah di Indonesia. Hasilnya, program ini mendapat sambutan yang besar dari murid-murid sekolah dan para pengajar. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat sekolah masih merasa membutuhkan pelajaran sastra yang proporsional di sekolah-sekolah.

Dukungan Sekolah

Taufik Ismail dan rekan penyair lainnya sudah memulai dengan gerakan sastra kembali ke sekolah.bahkan sesungguhnya ini menjadi salah satu solusi dari banyak masalah yang dihadapi sekolah-sekolah secara umum. Yaitu, memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk mendapatkan pelajaran sastra yang proporsional. Dengan itu, semoga harapan taufik Ismail bahwa sastra bias menjadikan para murid “jinak” namun tetap kritis dan kreatif, dapat menjadi kenyataan.

Upaya yang telah dilakukan Taufik Ismail dan para penyair tersebutkini tinggal menunggu respon dari sekolah. Sekolah selayaknya menyambutnya dengan tangan terbuka dan penuh antusia. Karena gerakan satra kembali ke sekolah itu merupakan bagian dari tujuan pendidikan, yaitu terbentuknya perilaku yang baik di kalangan murid-murid.

Guru-guru harus pula mendukung gerakan tersebut. Karena mungkin saja hasil observasi yang menunjukkan tidak ada satupun buku sastra yang selesai dibaca di tingkat murid-murid SMU, berawal dari lemahnya apresiasi guru-guru terhadap sastra. Jika observasi tu melibatkan guru-guru SMU , mungkin saja akan mendapatkan hasil yang tidak jauh berbeda. Artinya, guru-guru (bahasa Indonesia) di SMU tidak pernah (selesai) membaca buku buku-buku sastra. Tetapi benarkah begitu? Semoga saja tidak.

Program yang kreatif

Peran sekolah selanjutnya adalah melengkapi koleksi perpustakaan dengan buku-buku sastra, membuat revisi kecil-kecilan dalam kurikulum bahasa Indonesia, memberi tugas-tugas edukatif yang bermuatan sastra, dan melakukan kerja sama dengan banyak pihak yang terkait dengan program ini.

Instansi pemerintah, dalam hal ini Departemen Pendididikan Nasional, dapat mendukung pengadaan sarana, dana dan fasilitas penunjang lainnya.

Sekolah harus mencoba membuat program-program kreatif berbentuk perlombaan. Seperti lomba meresensi karya sastra, debat sastra, dan lomba menulis. (puisi, prosa dan cerpen)program-program ekspresi, ekplorasi dan peny\gayaan wawasan,seperti jumpa penyair, pelatihan menulis, pembacaan puisi dan cerpen, pameran sastra, kunjungan ilmiah, bedah buku, mementasan “sastrawan” sekolah (guru murid baca puisi) dapat juga dilakukan untuk mendukung suksesnya program sastra kembali ke sekolah.

(Monitor Depok, Selasa, 3 Februari 2004)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: