kabut

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: cerpen |

kabut turun lagi

“Kabuuuut, ada kabut lagi…!” Suara cempreng Zakiyah menusuk-nusuk gendang telinga. “Kabut turun lagi…!” Ia masih berteriak-teriak. Berjingkrak-jingkrak. Tangannya dipukul-pukul ke pahanya. Lalu berlari-lari dari jendela ke jendela di dalam asrama. “Hei kabut, kabut…lihat tuh!” sambil menarik tangan Labibah, teman kamarnya tanpa mengurangi volume suara yang aduhai itu…

“Wei, wei, jangan norak gitu kenape…?” Labibah menjawab dengan logat betawi yang medok sambil bangkit mengikuti Zakiyah. Zakiyah ga peduli, tetap berteriak-teriak.

“Tuh, lihat kabutnya tuh… “ Zakiyah menunjuk-nunjuk ke luar jendela. Lalu ia membuka pintu dan berdiri di teras asrama. “Ya ampun jadi ga kelihatan ya…?!” Masih dengan suara yang gembrang-gembreng kayak kaleng rombeng. Labibah jadi kesel juga rupanya, akhirnya dengan suara seperti pembawa acara alias em-se ia mengingatkan Zakiyah “Ehem, Nona, Nona…, tolong ya suara anda turunkan sedikit, ya…?!aku belum tuli nona… tenang saja…- lagian akhwat soaranya kayak gitu, jangan dilepas semua, suara akhwat kan termasuk aurat nona…okeh, apakah anda sudah paham nona…?” Zakiyah kini senyam senyum aja. Sambil matanya melotot ga berkedip. Mungkin dipikirnya itu bukan suara Labibah kali, masak akhwat betawi tomboy bisa ngomong kayak gituan. Keren banget.

“Apa, apa…?!” Zakiyah malah bertanya lagi, kini matanya dikedip-kedipkan kayak boneka jepang. Maksudnya pasti ngeledek Labibah… “Eh, kamu lihat kabut kan…?”

“Iya, mataku masih awas lah…” jawab Labibah pelan. “Emangnya kenapa dengan kabut, emang di rumah kamu ga ada kabut ya…?” kini mata Labibah disipit-sipitkan sambil menarik ujung bibirnya ke atas. Sinis. “Kalo di rumahku yang deket jalan,banyak orang naik motor pada kabut-kabutan…hehehe…”

“Sa bodo, aku cuma ngasih tau kamu kalo ada kabut.” Wajah Zakiyah cemberut. “Tuh coba kamu lihat, kabutnya tebel banget.” Kembali menunjuk ke luar. Memang, kabut hampir menutup semua pemandangan di depan mata. Kira-kira lima atau enam meter ke depan, pemandangan sudah tak terlihat. Hamparan sawah tak terlihat, halaman sekolah tak terlihat. Apa lagi bukit di atas sana, padahal kalau cuaca cerah pemandangannya asik banget. Hijau segar.

“Eh, kamu tahu ga kenapa ada kabut?” Labibah kini mulai ikut memperhatikan.”Itu asap atau apa ya…?” rupanya Labibah benar-benar terusik keingintahuannya.

“Kalo ga salah,…”Zakiyah mencoba menjawab dengan agak ragu.

“Apa …!” Potong Labibah bersemangat.

“Kalem non, nafsu amat. Si amat aja ga nafsu…” Zakiyah malah ngebodor lagi.

“Iya kabut itu apa…” kembali Labibah bertanya tanpa terpengaruh bodoran Zakiyah..

“Kabut itu adalah awan.” Kini suara Zakiyah mantap.

“Betul begitu…?!” Tanya Labibah menegaskan

“Ya betul, kabut itu awan.” Suara Zakiyah makin mantap sambil mengepalkan tangan kanannya dan memukul-mukul tapak tangan kirinya. Matanya menatap ke depan memperhatikan kabut yang belum juga berkurang.

“Trus, kenapa kabut ada di bawah bukan di atas sana…?” Labibah melanjutkan pertanyaannya. Pandangannya di arahkan juga ke depan sana. Kabut masih terus turun.

“Ya, karena…”Zakiyah agak ragu-ragu menjawabnya. “Karena kalo di bawah disebut kabut…”

“Iya kenapa begitu…?” Labibah terus nyecer Zakiyah karena jawabannya kurang memuaskan. Zakiyah masih mencoba mencari jawaban lain…

“Karena…, karena ia bosen di atas, pingin main-main ke bawah…hahaha…” Zakiyah tidak mampu menahan tawanya. Suara bergema memenuhi seisi asrama.

“Zakiyah, Zakiyah suaranya…!” Nisa keluar mendengar gemuruh suara Zakiyah di teras. “Kenapa sih, sampe ketawa kayak gitu…?” Tanya Nisa ingin tahu. Tangannya mencoba menutup mulut Zakiyah dengan tangan kanannya. Labibah-pun akhirnya tidak bisa menahan diri dan ikut tertawa. Mungkin tertawa kesel kali. “Kenapa si Zakiyah Bah…” Nisa bertanya pada Labibah. Melihat Zakiyah masih saja tertawa dan tidak menjawab pertanyaannya. Labibah menceritakan masalahnya kenapa Zakiyah sampe kayak gitu.

“O begitu…?” Nisa menjawab dengan mantap. “Kalo kata Pa Nanang, kabut itu memang awan juga, tapi tidak sama dengan awan yang di atas sana.” Jelas Nisa.

“Apa yang ga sama Sa…?” kini malah Zakiyah yang bertanya. Tawanya mulai reda. Tapi matanya masih berair menahan tawa.

“Kalo awan itu adalah uap air yang kerapatannya rendah.” Jelas Nisa lagi

“O ya aku ingat!” Labibah memotong. “Kalo kabut itu uap air yang kerapatanya tinggi. Iya kan Sa…?” Labibah minta pembenaran Nisa. Nisa tidak menjawab, hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Trus kenapa kabut di bawah sedang awan di atas?” Zakiyah bertanya lagi. Kini wajahnya serius.

“Nah iya, kenapa tuh Sa…”Labibah menambahkan. Nisa yang ditanya malah bengong. Wajahnya tak berekspresi. Mungkin lagi mikir, apa jawaban dari pertanyaan brilian Zakiyah.

“Hehehe… kamu ga tau ya…? sama dong!” Nisa ngledek.

“Yee Nisa gitu…” Zakiyah nyambung.

“Jadi kabut itu di bawah karena beberap hal..” Nisa melanjutkan.

“Pertama…!” Labibah menyambung setengah berteriak.

“Tekanan udara di tempat itu rendah. Sehingga kabut itu datang.”

“Kedua…” Lanjut Labibah sambil menunjukan dua jari kanannya.

“Sinar matahari lemah. Sehingga kabut bisa bertahan sebagai uap air padat.”

“Jadi kalo ada sinar matahari kerapatan kabut akan merenggang dan ia akan ke atas sebagai awan…?”. Zakiyah mulai nyambung dengan fenomena kimiawi tersebut.

“O gitu ya…? kamu ko tahu Sa…?” Zakiyah berlagak pilon.

“Hehehe…makanya baca lagi pelajarannya…! jangan tidur melulu…!” Nisa menyambar handuk sambil ngacir ke kamar mandi.

kampus berkabut, 130207 – 2026

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: