jumat putih

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: artikel |

Jumat Putih di Sekolah

Sudah dua tahun terakhir ini, setiap hari Jumat, di beberapa sekolah lanjutan baik negri maupun swasta, murid-muridnya (yang muslim)mengenakan ‘pakaian takwa.’ Siswa laki-laki memakai baju koko dan wanitanyan mengenakan rok panjang. Ada yang ditambah dengan kerudung sebagai penutup rambut.

Fenomena ini sebaiknya disambut baik oleh semua pihak. Baik sekolah, orangtua, maupun instansi terkait. Sekolah dan orangtua adalah pihak yang paling berkepentingan dalam menindaklanjuti fenomena ini dengan sebaik-baiknya. Apalagi di tengah kondisi murid-murid sekolah yang semakin memprihatinkan. Seperti tawuran, narkoba dan pergaulan bebas. Belum lagi masalah rendahnya prestasi dan mutu pendidikan.

Sudah sekian lama pendidikan di Indonesia dikebiri oleh aturan yang ‘lucu’ dengan menghalangi murid untuk mengamalkan salah satu kewajiban ajaran agamanya. Sebut saja contohnya jilbab.di tahun 80-an sampai awal 90-an. Kemntrian Pendidikan dan Kebudayaan saat itu melarang murid-murid wanita mengenakan jilbab di lingkungan sekolah.

Seringkali terjadi perlakuan diskriminatif , bahkan pengusiran bagi murid yang mengenakannya di sekolah. Padahal mereka tidak membuat keributan, tidak meresahkan masyarakatatau perilaku asusila. Prestasi mereka rata-rata baik. Mereka hanya mencoba mengamalkna apa yang mereka yakini sebagai satu kewajiban agama mereka. Sementara tawuran dan bentuk-bentuk pergaulan bebas di sekolah saat itu tidak bias dibilang sepi.

Namun pemerintah merasa lebih penting menghalangi murid-murid santun dan cerdas yang mau mengamalkan ajaranagama mereka, dan membiarkan murid yang suka tawuran dan melakukan pergaulan bebas tanpa tindakan nyata. Sampai akhirnya mereka, para Jilbaber itu harus menyingkir ke sekolah (swasta) yang membolehkan muridnya berjilbab.

‘Jumat Putih’

kembali ke masalah Jumat di sekolah. Bahwa fenomena yang berkembang itu masih belum menyentuh masalah sesungguhnya. Bahwa tujuan pihak sekolah menetapkan ‘Jumat putih’ atau apapun namanya, di sekolah, masih belum menampakkan hasil yang optimal.

Menjadikan murid-murid lebih memahami ajaran agamanya dan mengamalkna akhlak mulia, adalah tujuan dari program ini tentunya. Tetapi murid-murid lebih terkesan terpaksa dan masa bodoh dengan aturan tersebut. Mereka hanya melakukan kewajiban yang diberlakukan sekolah. Para murid wanita misalnya, banyak yang memakai kerudung di sepan gerbang sekolah dan melepaskannya kembali ketika pulang.

Masalah adab sepertinya tidak terpengaruh dengan ‘palaian takwa’ yang mereka kenakan. Murid wanita dan pria denganbebas berdesakan , berpegangan dan bergandengan ketika berjalan. Behkan beberapa pasang dari mereka terlihat mesra ‘berpelukan.’ Beberapa murid laki-laki, tidak sedikit juga yang merokok, berambut panjang dan nongkrong di pinggir jalan.

Itu menjadi pemandangan yang kontradiktif yang melahirkan kesan negatif dengan pakaian yang mereka kenakan. Kalau di tahun 80-an sampai awal 90-an, para Jilbaber dikenal santun dan cerdas, kini pemandangan itu menjadi semakin jauh dari tujuan yang diinginkan.

Kurang Perhatian

Program ini seharusnya mendapat perhatian khusus. Terutama sekolah sebagai pihak yang paling dekat dengan murid. Sekolah harus sungguh-sungguh memberi perhatian dan jangan merasa cukup dengan hanya memberlakukan aturan ‘jumat Putih’ bagi murid-muridnya.

Masih diperlukan kebijakan dan perangkat lainya untuk mendapatkan hasil yang optimal dari program ini. Sudahkan program ini diorganisasi dengan baik? Target dan bentuknya apa? Evaluasinya bagaimana? Adakah sangsi bagi yang melanggarnya? Dan, sudahkah diberikan reward atau penghargaan bagi mereka yang melakukan program ini dengan baik?

Jika sekolah merasa berat atau karena keterbatasan SDM untuk memberi perhatian yang lebihpada program ini, sebaiknya sekoah menggandeng atau bekerja sama dengan pihak lain yang kompeten, untuk membantu menangani masalah yang sangat penting ini.

Banayk sebenarnya pihak pihak yang bias diajak bekerjasama untuk hal ini. Yayasan Islam, remaja Masjid, Rohis Universitas, LSM, majlis ta’lim atau mungkin dengan melibatkan alumni yang bias dan mau ‘menggarap’ program strategis ini.

Peran Guru

Ada hal lain yang membuat program ‘Jumat putih’ menjadi kurang optimal diberlakukan pada murid-murid. Di satu sisi, sekolah termasuk para guru berharap murid-murid akan menjadi lebih baik dalam banyak hal tentu saja. Tapi di sisi lain, harapan itu tidak ditopang dengan peran sekolah dan para guru dalam mensosialisasikan program tersebut.

Guru sebenarnya mempunyai posisi yang sangat penting dalam mencerdaskan urid dan menannamkan pada mereka akhlak mulia. Harapan mulia itu harus dimulai dari guru itu sendiri. Sekarang pertanyaannya; apakah program tersebut juga diberlakukan untuk para guru?

Masalah rokok misalnya, apakah ada juga larangan untuk para guru, merokok di lingkungan sekolah? Jika ada, hal itu akan sangat mendukung keberhasilan program murid tidak merokok. Namun jika tidak, maksudnya para guru tetap merokok di lingkungan sekolah dan larangan itu hanya berlaku bagi murid, maka program itu hanya akan menjadi harapan kosong yang tidak mempunyai bekas apa-apa, kecuali berubahnya pakaian mereka saja. Paling tidak, guru yang punya kebiasaan merokok, jangan merokok di lingkungan sekolah.

M3-nya Aa Gym

Sangat sulit bagi murid-murid menerima logika’ mereka dilarang dan guru mengerjakan larangan’. Karena mereka sudah paham betul arti, peribahasa ‘guru kencing berdiri murid kencing berlari.’

Kini sekali lagi, guru diminta perhatiannya yang lebih banyak untuk memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya. Bukan satu aib jika para guru meniru apa yang dikampanyekan Aa Gym dalam memasyarakatkan konsep M3-nya untuk membina pribadi berhati bersih. Pertama, mulailah dari diri sendiri. Mulailah dari yang mudah dan kecil. Ketiga, mulailah dari sekarang.

Semoga ‘Jumat putih’ yang dicanangkan sekolah-sekolah akan benar-benar menghasilkan murid-murid yang berhati putih. Hal itu dapat dimulai dari guru-guru yang juga berhati putih. Semoga transfer hati putihnya menjadi lebih cepat. Amin.

(Monitor Depok, Rabu, 25 Februari 2004)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: