ikhwah memang begitu

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: dawah is azik |

Ya ikhwah memang begitu…

Seorang ikhwah satu kali mengeluh tentang binaannya yang ‘males’ datang ke liqo. Bukan karena apa-apa. Tapi benar-benar karena males. Begitu ikhwah tadi berkata. Satu saat alasannya hujan, kali yang lain capek baru pulang kerja. Saat yang lain lagi ada saudaranya baru datang dari luar kota. Seperti biasa saya cuma memberi solusi klasik agar diziarohi, diberi hadiah, diajak ngobrol apa masalah sebenarnya. Tapi ternyata ikhwah itu telah melakukan semuanya sebagai solusi ‘standar’ bagi kader yang tertimpa futur. Karena tidak ada perubahan keadaannya ikhwah tadi hanya pasrah sambil mengeluh pelan-pelan. Kembali ingatan saya berkelibat ke belakang…

Mungkin memang perlu diceritakan pada mereka bagaimana guru-guru kita dulu datang ke liqo. Seorang ustad kabir harus menumpang truk pasir sebelum subuh agar tidak terlambat hadir di liqo, karena rumahnya di pesisir tangerang sedang liqonya di daerah mampang, Jakarta selatan. Ikhwah yang lain melakukan hal yang sama namun berjalan kaki menembus gelap melintas hamparan sawah menyeberang sungai. Ia start sebelum subuh untuk tepat waktu dalam liqonya. Dia membutuhkan 4-5 jam untuk sampai di tempat liqo. Ikhwah kita yang di seberang pulau sana tentu lebih dahsyat lagi jiddiyah dan tadhiyahnya. Tidak cukup waktu satu hari untuk liqo. Maka liqo dilaksanakan dua pekan sekali dan itu harus mabit. Seorang ikhwah yang lain lagi yang berdomisili di depok harus hadir liqo di tanjungpriuk(Jakarta utara)malam hari lagi. Yang kalau malam ia harus jalan kaki dari pasar minggu ke depok. Bukan karena tidak ada mobil oprengan saat tengah malam itu, tapi karena ia memang tidak punya uang. Dari priuk ia mengikut ikhwah lain yang rumahnya di pasar minggu. Memang luar biasa.

Kala itu bukan cuma ikhwannya yang bisa seperti itu. Seorang ikhwah lain pernah ‘mengeluh’ pada saya bahwa istrinya yang kala itu masih pengantin baru selalu pulang selepas isya. Bukan karena bekerja di kantoran, tapi mengisi halaqoh yang jumlahnya sembilan kelompok. Berarti dalam sepekan ia harus mengisi sembilan grup liqo dengan jarak yang tidak dekat. Ada yang di tanjung priuk, jurang mangu, depok, bogor, pasar minggu, dan tebet.

Kembali ke ikhwah tadi yang binaannya males hadir di liqo. Dia menambahkan, kalau jarak tempat liqo dengan rumahnya jauh sih (mungkin) masih dimaklumi. Nah ini, jarak tempat liqo dari rumahnya ternyata tidak lebih dari 10 menit saja dengan naik angkot. Jadi apa sesungguhnya yang tengah terjadi…? saya ga mampu melanjutkan tulisan ini. Terlalu berat.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: