bukan juru masak

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: dawah is azik |

Ana Nggak Mencetak Juru Masak, Tapi Juru Dawah.

Dengan nada kecewa tapi sambil senyum seorang akh yang pengantin baru mengeluh pada akh yang lain di halaqohnya. Masalahnya bukan kisah malam-malam pengantin yang penuh pesona, tapi kekesalan sang suami karena sang istri tercinta tidak akrab di dapur (baca: tidak bisa masak) “kan mestinya yang namanya akhwat pasti akan jadi istri ya belajar masak dong…” begitu keluhnya. Rupanya keluhan itu sampai juga ke MR istrinya. Rupanya sang mr ga nerima keluhan sang suami itu. Ia malah menjawab dengan nada emosi, “Bilang ke suami anti, bahwa ana di halaqoh nggak mencetak tukang masak, tapi mencetak seorang mujahidah dan juru dawah…” Nah lo? Jadi gimana sebenarnya… apakah seorang mujahidah tidak perlu tahu urusan dapur? Apakah muslimah juga tidak penting untuk bisa memasak dan urusan kerumahtanggaan? Apakah aktifitas dawah jadi mengubah fitrah seorang muslimah? Eh, ternyata jawaban saya menjadi sangat tidak penting lagi ketika saya tahu bahwa yang menjadi mr istri akh tadi adalah seorang ikhwah bukan akhwat. Itu terjadi ketika memang mencari murobiyah jadi sangat susahnya. Dan jadilah ikhwan menjadi murobi akhowat dengan kelemahan di sisi keakhwatan seperti tadi.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: