ancaman globalisasi

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: artikel |

Pendidikan agama di rumah

Ancaman Serius Globalisasi

Tahukah anda bahwa data-data berikut : 1/3 remaja Wonosobo sudah hamil di luar nikah.(PKBI Wonosobo), 30 remaja di Yogjakarta hamil di luar nikah setiap bulannya. 20 % mahasiswa di Palembang melakukan hubungan seks pranikah. 6 dari 10 gadis di Surabaya pernah melakukan hubungan seks. Dan 2,5 juta orang melakukan aborsi di Indonesia (penelitian Pusat Informasi Keluarga Berkualitas). 15 – 20% remaja Indonesia pernah ngeseks sebelum nikah (Dr. Boyke Dian Nugraha).

Data-data tersebut sungguh mencengangkan dan membuat bulu kuduk berdiri. Siapa saja yang masih sadar dan masih memiliki hati nurani yang bersih, pasti merasakan hal yang sama. Khawatir, takut dan cemas. Apalagi para orangtua yang meiliki anak baru gede alias ABG.

Bagaimana tidak, bahwa behwa keadaan itu terjadi di Indonesia. Negri dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Negri yang masih menganut budaya timur, dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan kesopanan(timur). Negri yang masih mencantumkan dalam UUD kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai dasar Negara. Dan yang lebih khusus lagi, negri ini mencanangkan sasaran pendidikan nasionalnya adalah terbentuknya masyarakat yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia.

Jika keadaan itu terjadi di Negara yang menganut paham liberal atau bahkan anti Tuhan sekalipun, tentulah tidak mengejutkan. Tapi, sekali lagi, kenyataan itu terjadi di sini. Di Indonesia tercinta ini. Hal itu sungguh menyedihkan.

Fenomena gunung es.

Semoga data-data tidak benar, atau terlalu dibesar-besarkan. Bahwa itu hanya gejala masyarakat yang sesaat dan terbatas. Tidak mewakili seluruh kota seluruh kota dan daerah di Indonesia. Atau mungkin proses pengambilan datanya tidak valid dan itu tertolak.

Namun, jika hal itu benar, sungguh, ancaman yang sangat serius tengah mengintai negri besar ini. Karena kalau membaca di media-media cetak atau melihat tayangan di beberapa stasiun televisi swasta, setiap hari selalu saja penonton disuguhi berita-berita kriminal dalam bentuk kejahatan seksual dan beragam perilaku seks bebas lainnya. Itu masih ditambah dengan acara-acara hiburan yang sesungguhnya penuh dengan muatan eksploitasi seks yang dikonsumdi masyarakat luas.

Dengan melihat fenomena itu, maka angka yang tertera dalam data di atas menjadi semakin besar kemungkinan benarnya.

Bukan cuma itu, sesungguhnya ada yang lebih mengkhawatirkan lagi. Yaitu jika angka yang ada justru lebih besar lagi. Seperti fenomena gunung es, hanya puncaknya saja yang tampak. Yang tak terlihat jauh lebih besar lagi. Sungguh keadaan yang tidak diharapkan oleh siapapun.

Zaman sudah berubah. Masyarakat sudah berubah. Perubahan itu kini memasuki era informasi global. Di mana informasi menjadi sangat dominan dengan segala bentuk hubungannya.bukan saja antar kota atau antar pulau, bahkan hubungan antar benua sudah bukan masalah lagi. Termasuk penyebaran informasi yang sudah dikemas menjadi mega bisnis yang menguasai hamper seluruh aktifitas bisnis global sekarang ini.

Keadaan itu masih ditambah dengan kondisi kultural masyarakt Indonesia yang sangat mudah menerima dan meniru serbuan budaya luar (Barat) melalui media. Sarana media, khususnya elektronika, kini sudah tersebar dan menjangkau daerah-daerah terpencil sekalipun. Hal itu diperparah lagi dengan lemahnya peran dan kontrol pemerintah terhadap media, baik cetak maupun elektronika.

Disadari atau tidak, hal itu menjadi salah satu penyebab melorotnya moral masyarakat menjadi sangat mengkhawatirkan. Orde reformasi dengan kebebasan persnya, telah memberikan peluang besar pada orang-orang yang ingin mengambil untung besar dengan mengorbankan moral dam akhlak bangsa sendiri.

Apa yang harus dilakukan

Banyak hal yang harus dilakukan. Dan sebenarnya harus melibatkan banyak pihak. Namun sudah sama dipahami, hal itu sangat sulit dilaksanakan karena ruwet. Seperti benang kusut yang tak ada ujung pangkalnya. Artinya, masyarakat bahkan pemerintah tidak bisa terlalu diharapkan berbuat banyak, paling tidak untuk jangka pendek untuk mencari solusinya. Meski hal itu sangat didambakan semua orang.

Namun , ada satu hal yang bisa dilakukan oleh para orangtua yang (mau) peduli pada anak-anaknya dan anak-anak negri ini. Yaitu, memberi kesempatan anak-anak (remaja) mendapatkan pendidikan agama yang tepat dan benar di rumah. Mengapa mesti di rumah?

Pertama, karena pendidikan agama di sekolah sangat kurang. Dan kalau mau menuntut pihak sekolah memberikan pendidikan agama yang lebihpun akan ada masalah lain yang muncul. Kedua, karena rumah menjadi tempat yang paling kondusif untuk memberikan pendidikan agama bagi anak-anak (remaja). Ketiga, karena orangtualah yang sebenarnya paling bertanggung jawab dalam pendidikan agama anak-anaknya.

Pasti setiap orangtua mendambakan anak-anaknya bisa tumbuh dan berkembang dengan aman di lingkungannya. Dan percaya bahwa agama menjadi benteng terkuat untuk membendung arus informasi yang sangat deras ini.

Masalah selanjutnya adalah, tidak semua orangtua bisa memberikan pendidikan agama di rumah. Apakah karena tidak bisa, karena memang kemampuan yang terbatas, atau karena ketiadaan waktu? Selain itu tidak semua orangtua juga tahu pilihan lain jika mereka tidak mampu memberikan pendidikan agama di rumah.

Kalau kondisi it uterus berlangsung, maka lingkunganlah yang akhirnya akan menfcetak anak-anak (remaja) dengan beragam nilai dan warna yang akan semakin jauh dari dilai dan warna agama.

Berberapa pilihan

Ada beberapa pilihan untuk memberi tambahan pendidikan agama di rumah. Namun yang paling utama adalah pemahaman dan perhatian orangtua terhadap pendidikan agama bagi anak di rumah.

Pilihan itu adalah, Pertama, memangil guru privat, baik sendiri maupun kelompok. Artinya, belajar sendiri atau kelompok dengan memanggil guru agama yang baik ke rumah. Kedua, menyediakan sarana penunjang untuk menambah wawasan keagamaan anak dan keluarga seperti buku, majalah, kaset, VCD, dan lainnya. Ketiga, mendorong anak untuk aktif di perkumpulan remaja masjid, rohis, mentoring, atau kegiatan-kegiatan keagamaan lainnyan seperti yayasan atau ormas. Keempat, orangtua langsung terlibat aktif dalam proses pendidikan anak-anaknya.

Inilah sebenarnya yang paling ideal untuk memberikan benteng yang kokoh pada anak-anak, untuk mmenghadapi serbuan informasi yang sudah tidak terkendali dengan memulai memberikan pendidikan agama untuk anak-anak dari rumah.

Karena orangtua adalah kepala keluarga yang paling menentukan dalam mengarahkan anggota keluarga yang lain, maka mulailah dari orantua untuk menanamkan nilai agama dan mengamalkannya, sebelum mengajarkan kepada anak-anaknya.

Dengan mendapat bimbingan dan contoh langsung dari orangtua, anak-anak akan lebih cepat memahami nilai-nilai akhlak dalam pendidikan agama di rumah. Semoga itulah yang akan menjadi benteng yang kuat untuk menahan serangan informasi yang datang setiap saat.

(Monitor Depok, Senin dan Selasa, 15-16 Maret 2004)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: