anakku

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: cerpen |

Anakku

Asma , putri sulungku yang berambut ikal itu sekarang sudah duduk di kelas satu SD. Sudah hampir dua bulan ia sekolah. Kelihatannya ia sangat senang. Selain letak sekolahnya dekat, 50 meter saja dari rumah, juga karena ia sekelas dengan dengan sepupunya, Zahra. Mereka memang seusia, hanya selisih tiga pekan. Ketika lahirnyapun berat dan tinggi badannyapun tidak jauh beda.

Tidak terasa, enam tahun sudah usianya. Seperti baru beberapa bulan saja ia ku-aqiqahi pada hari ke tujuhnya. Menyembelih kambing,menggunting rambut, makan-makan, mengundang tetangga dan teman-teman serta mendengarkan ceramah aqiqoh.

Beberapa pekan sebelum lahiran aku sempat ‘ribut-ribut’ dengan istriku tentang nama yang akan kami berikan. Kami sepakat akhirnya, untuk anak pertama aku yang beri nama, anak kedua giliran istriku. Yah, anggap saja belajar menumbuhkan suasana demokrasi di rumah. Akhirnya kupilih nama Asma Wafia. Asma terinspirasi dari nama shohabiah putri As-Shidik Abu Bakar Ra. Seorang Muslimah yang sangat tegar, setia dan istiqomah. Baik ketika gadis, ketika menjadi istri dari Zubair bin awwam, maupun ketika menjadi Ibu tua dari Abdulah bin Zubair yang heroik itu. Sedangkan Wafia artinya setia, seperti juga sifat Asma binti Abu Bakar. Kupikir kata wafia atau setia sangat pas untuk sifat anak putriku. Nama itu adalah doa. Aku berharap putriku kelak menjadi seorang yang setia terhadap nilai-nilai kebaikan, keadilan dan kemanusiaan. Setia dalam kapasitasnya sebagai seorang anak putri, istri bagi suaminya maupun Ibu bagi anak-anaknya. Itu jugalah yang menjadi harapan jutaan orang tua muslim dengan memberikan nama-nama yang baik pada anak-anak mereka.

Ketika usianya baru beberapa bulan, sering kugendong ke luar rumah jalan-jalan pagi, katanya sehat sambil berjemur mentari pagi. Kadang kubuatkan susu di tengah malam atau pipis di dekapanku. Adalah satu kenikmatan sendiri merasakan itu semua. Kini telah menjadi kenangan yang indah untuk diingat.

Ya, Allah, ia benar-benar qurota a’yun bagi kami,. yang menyedapkan pandangan, Penghapus letih, penyejuk suasana yang panas. Rasa capek sepulang kerja lenyap ketika melihat dan bercanda dengannya. Tak bosan-bosannya aku memeluk, mengendong dan menciuminya, atau sekedar memandanginya berlama-lama. Mata bulatnya, bulu matanya yang lentik, alisnya yang tebal dan mulutnya yang mungil sungguh menggemaskan. Belum lagi ocehannya yang tidak jelas itu, malah tambah lucu didengar. Sudah seharusnya anugerah ini selalu aku syukuri.

Waktu seperti berputar dua kali lebih cepat. Kok tiba-tiba anakku itu sudah berdiri di hadapanku dengan seragam biru-batiknya untuk pamitan sekolah. Kemeja batik lengan panjang dengan motif bunga dan garis-garis. Rok birunya sebatas betis, ditambah kaos kaki putih panjang dan sepatu kets yang agak kebesaran. Ransel kitty merahnya terlihat keberatan beban dan Kerudung putihnya sangat serasi hingga Asma terlihat cantik. Kalau kerudungnya dibuka rambut ikalnya yang hitam akan terlihat indah. Sekarang Asma memang sudah berubah menjadi bidadari kecil yang mungil. Aku sangat menyayanginya.

Di kelasnya, hanya beberapa murid putri saja yang berkerudung, termasuk keponakanku ,Zahra.Tetapi itu tidak menjadi masalah, Asma sangat percaya diri, bergaul dan bermain bersama teman-temannya tanpa memilih-milih. Karena Ia memang sudah terbiasa di rumah, bahkan semenjak usia dua setengah tahun, ketika ia masuk Play Group.

“Bi, salim! Asma mau berangkat.” Katanya manja. Aku segera memeluknya sebelum kucium dua pipinya. Lalu kuulurkan tanganku untuk dicium. Harum lembut bedaknya sangat segar tercium.

“Teteh belajar yang rajin ya!, dan nanti kalau pulang bantu Umi jaga adik.” Kataku menasehati. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum manis, sesekali ia menggigit bibir bawahnya.

“Asalamualaikum” katanya sambil berlari.

“Waalaikum salam” jawabku pula.

Beberapa langkah kemudian ia berhenti sambil berpaling ke arahku,

“Abi nanti pulang jam berapa ?” tanyanya tiba-tiba.

“Mmm, jam berapa yah” jawabku agak tergagap sambil mencoba mengingat acaraku hari itu.

“Teh, Abi mungkin pulang jam sembilan malam” kataku dengan hati-hati. Biasanya ia akan protes kalau aku pulang agak malam. Karena Aku tidak bisa mendengarkannya membaca buku,atau menemaninya membuat PR seperti kebiasaannya setiap Aku ada di rumah. Kadang-kadang juga mengulang hafalannya atau memintaku membacakan cerita kesukaannya menjelang tidur.

“Awas loh Bi, kalau tidak pulang jam sembilan” ancamnya dengan mimik lucu. “Pokoknya Teteh tunggu” lanjutnya lagi sambil berlari mengejar teman-temannya yang bergerombol. Aku hanya tersenyum, Ah, paling-paling jam delapan juga sudah tidur, kataku dalam hati, walau tidak jarang ia masih belum tidur pada jam sembilan bahkan jam sepuluh.

.“Nggak usah lari Teh, nanti jatuh!” teriakku sambil menutup pintu pagar. Ia sudah tidak mendengar ucapanku. Bahkan sudah hilang di tikungan halaman sekolah.

“Bii,…! sarapannya sudah siap tuh !” teriak istriku dari dalam. ”Nanti keburu dingin” teriaknya lebih keras.

“Yaa,” sahutku sambil masuk ke dalam. Aku juga harus segera berangkat. Jam tanganku menunjukan pukul 06.45. Aku mesti bergegas. (Depok, 5 OKTOBER 1998)

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: