puisiramadhan

Posted on April 5, 2008. Filed under: ramadhan | Tag: |

MALAM KEMULIAAN

Alangkah Agungnya malam

Dari rangkaian malam Ramadhan

Sungguh berlimpah kemuliaan

Menggetarkan relung keimanan

Betapa beruntungnya

Jika kau mampu mendapatkan

Meraih indahnya malam

Yang bernilai seribu bulan

Raihlah segera

Di penghabisan Ramadhan

bulan yang temaram

syahdunya alam

teduhnya malam

hati yang tenteram

tidak bisa kau sebutkan

sebagai tanda-tanda pembuktian

bahwa kau telah dapatkan

apa yang kau maksudkan

karna hakekat kemuliaan

tetap ada dalam hati dan amal perbuatan

Malam yang bertabur rahmah

rahmah berhias maghfiroh

maghfiroh akan memberimu

jauhnya siksa dan dekatnya pahala

tidakkah kau rasakan

Betapa wewangian kembang

yang merebak penuhi bumi

Ada kedamaian

Ada ketenteraman

Ada keselamatan

Ditebarkan para utusan

Yang turun penuhi ufuk

Menyebar kabar berita

Membawa janji pengampunan

Bagi siapa saja yang merasakan

Dosa-dosa sebagai kesalahan

Inilah saat kau buka

Siapa dirimu sebenarnya

Si culas yang bodoh

Si cantik yang pongah

Si pintar yang lemah

Si pandai yang sombong

Si alim yang lacur

si kaya yang serakah

siapa Kau sebenarnya?

Kaulah si hina dina

Si lemah tak berdaya

Tidakkah kau lihat

Ketika gelap menutup siang

Ketika benar-benar gulita

Ada cahaya temaram memancar

Bukalah pintu hatimu

Biarkan damainya sesaki diri

Bukalah jendela jiwamu

Biarkan cahyanya penuhi hati

Agar hilangkan sifat-sifat hina

Agar hancurkan segala dosa

Agar leburkan setiap dusta

Agar gantikan semua duka

Agar teguhnya jiwa raga

Dalam menempuh jalan hidup dunia

dan tiba di tujuannya

akhirat sana.

Depok, Syawal 1424

FITRINYA DIRI

Wajahku semakin tebal tertutup

Daki-daki dosa

Dosa-dosa mata

Mata-mata khianat

Mata yang gelap

Mata yang kalap

Diri semakin sarat

Aneka rupa maksiat

Maksiat-maksiat hati

Hati-hati sakit

Sakit-sakit hati

Hati yang pekat

Hati yang tersekat

Jiwa semakin sekarat

Terbebat nafsu syahwat

Syahwat dunia

Dunia angan-angan

Angan yang menipu

Menipu setiap jiwa

Jiwa-jiwa lemah

Jiwa yang serakah

Ya Rahman..!

Tutuplah wajah dosaku

Dengan tirai rahmah-Mu

Ya Rahim..!

Bungkuslah hati pekatku

Dengan cahya maghfiroh-Mu

Ya Ghofur..!

Bakarlah jiwa lemahku

Dengan api kasih-Mu

Wahai Pemilik segala yang ada

Wahai Penguasa semesta raya

Wahai Pecipta semua nyawa

Lumatkan semua nafsu syaitoni

Lahirkan hamba kedua kali

Sucikan hamba sebersih bayi

Jadikan hamba kembali fitri

Fitrinya diri

Diri yang fitri

Depok, Syawal 1424

MAAF!

Betapa padat lalulintas udara

Ketika syawal kembali tiba

Hingga tak juga aku bisa

Mengirim setetes kata maaf

Untuk menutup selaut khilaf

Apakah hanya tanggal satu tirai maaf terbuka?

Atau hanya bulan syawal kita saling meminta?

Semoga ini tidak terlambat

Kata maaf yang lama tersimpan

Dalam lidah yang kelu

Dan hati yang beku

Betapa bahagia

Jika butir-butir dosa

Bisa berubah jadi cahaya

Jika kata-kata dusta

Menjadi bunga-bunga cinta

Jika mimpi-mimpi yang ada

Bukan hanya fatamorgana

Betapa menyenangkan

Jika setiap hari

Kata maaf yang selalu terucap

Jika setiap diri

Menjaga hati tetap mengkilap

Taqoballahu mina wa minkum

9 Syawal 1424

HARAP

Begitulah AKU

Mudah mengucap kata

Dan meminta pengertiannya

Ketika khilaf

Maaf…!

TerNyatA Tak CUkup

Ternyata tak cukup

Segala bentuk amalan

Yang selalu dikerjakan

Karna hanya perlombaan

Mengejar target catatan

Ternyata tak cukup

Satu bulan ramadhan

Mengurangi kekhilafan

Meski tarawih tak ketinggalan

Dan Qur’an dibaca berterusan

Ternyata tak cukup

Sehari kelaparan

Tuk tutupi kesalahan

Karna tak biasa jaga ucapan

Dan mengumbar itu pandangan

Ternyata tak cukup

Infak yang dikeluarkan

Tuk bersihkan kotoran

Karna masih sering menghabiskan

Waktu luang jadi tersiakan

Sepertinya kita memang membutuhkan

Seribu ramadhan

Agar jiwa tertata

Agar hati terjaga

Agar amal diterima

Wahai Pemilik Kehidupan

Beri kami kesempatan

Sekali lagi di tahun depan

Berjumpa ramadhan…

Syawal 1424

MuhAsaBah

Kulihat diriku

Dalam sebuah bola kaca

Menggenggam dunia

Sambil

Menangis tiada henti

Namun aneh,

Tak ada satu tetespun

air mata

Cepatlah kau sadar

Jangan terus bohongi diri

TaFakuR

Tahukah Kau,

Berapa purnama Kau lalui

Ketika kini kau hadapi

Bertemu ramadhan kembali

Tidakkah Kau sadari?

Betapa berat hidup ini

Bekerja sehari-hari

Memburu dunia tiada henti

Mengumpul harta duniawi

Mengejar upeti

Bergumul melawan teman sendiri

Bertarung kokohkan gengsi

Sebarkan fitnah dan caci maki

Yang sebenarnya hanya puaskan diri

Tidakkah Kau sadari?

Dengan ujub wajah kau kotori

Dengan ria hati kau khianati

Dengan dusta lisan kau cemari

Dan orang-orang mulai mentertawai

Lakumu yang tak mereka mengerti

Tidakkah Kau sadari?

Berapa usiamu kini

Kau masih saja berbangga diri

Terus maksiat puaskan diri

Lalu bersiasat atur strategi

Untuk dapatkan harta dan kursi

Tidakkah Kau sadari?

Sebenarnya kini Kau berlari

Menuju kuburmu sendiri

Yang akan menghimpitmu

dari segala sisi

yang akan menelanmu

dalam kegelapan abadi

yang akan melumatmu

lama berabad tiada mati

O, alangkah rugi

Jika hidup,

Harus berakhir seperti ini

Syawal 1424

MALAM QODAR

Di sudut masjid

Malam dingin

Kulihat dirimu duduk tersungut

Kepala tertunduk-tunduk

Dan bibir komat-kamit

Matamu merapat

Tertutup kuat

Kaki dilipat

Sedang tubuhmu berbungkus

Baju yang lusuh

Dan kain sarung kusam

Desah dzikirmu

Terdengar ada

Mengisi ruang masjid yang bisu

Penuhi saf-saf yang kosong

Lalu menyebar kesegala arah

Terbawa angin malam

Lewati celah-celah jendela

Dan ventilasi udara

Lintasi sawah-sawah

Lewati pohon dan rumah-rumah

Seberangi sungai

Menempel di dinding dan daun-daun

Terkait di ranting dan cabang

Tersangkut di puncak menara

Terserak di jalan-jalan

Terselip di bebatuan

Dan melekat di setiap jiwa

Yang kering dan mati

Di sudut masjid

Malam sepi

Kini dirimu tertidur lelap

Dalam kegelapan sempurna

Namun suara dzikirmu terdengar ada

Menggeremang di angkasa

Mengisi malam yang gulita

Dengan percikan cahaya

Yang terpancar dari tempat dudukmu

Menyebar ke segala arah

Lewati bukit dan lembah

Seberangi padang

Menyibak ilalang

Menempel di butiran embun

Melekat di pekat malam

Tersangkut di awan

Terserak di bintang-bintang

Lalu jatuh di setiap jiwa

Yang hidup dan berseri

Di sudut masjid

Pagi yang damai

Penuh cahaya

Tak kulihat siapa-siapa

Namun dzikirmu masih terdengar ada

Syawal 1424

ELEGI SYAWAL INI

Esok syawal

Seperti syawal-syawal yang lalu

Berlalu

Takbir berkumandang

Namun hatiku kosong

Aneh,

Tak kurasa apa-apa

Hanya makanan lezat

Yang berserakan….

Berpuluh rupa

Berpuluh rasa

Dalam toples-toples hiasan

Banyaklah yang terbuang

Mataku buta

Tak melihat apa-apa

Hanya melihat baju

Dan sepatu baru

Berseliweran

Hilir mudik di jalan-jalan

Telinga yang pekak

Tak mendengar apa-apa

Hanya gemuruh beduk bertalu-talu

Dan suara gumam bermaafan

Lebaran tiba

Tapi hanya pesta

Setelah penat puasa

Syawal 1424

I’TIKAF

Pernahkah kau mendengar

merdu desah dedaunan

Ketika embun berjatuhan

Di kesyahduan malam Ramadhan

Berjuta kedamaian

Penuhi angkasa malam

Padati jalan-jalan kehidupan

Timbuni pori-pori kelam

Dan jadilah hidup

Syurga kenikmatan

Pernahkah Kau nikmati

Senyum lembut purnama

Pada saat bulat sempurna

Hingga hidupi seluruh sukma

Sesaki ruang-ruang yang ada

Sinari sudut-sudut jiwa

Tumbuh dalam

Pernahkan kau rasakan

Aroma wangi angin malam

Saat lama sujud sembahyang

Hingga jiwa rasa melayang

Taburi taman kesombongan

Aneka bunga harapan

Pernahkah Kau lihat

Cahya kemilau di sudut mata

Pesona yang luar biasa

Menembus dinding ria

Robohkan benteng cinta dunia

Membakar sgala mara

Itulah bara cinta di jiwa

Ifthor

Dengan menyebut asma-Mu

Kuhabisi siang ini

Kulunasi penatku

Kubayar dahaga keringku

Bersama aliran dingin

Yang melaut lambungku

Selesai sudah satu lagi

Hari-hari penat

Hari-hari berat

***

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: