dialog

Posted on April 5, 2008. Filed under: cerpen |

 

 

Dialog pohon kelapa

dan Lumpur sawah

 

“Hai lumpur apa kabarmu pagi ini pren…? “

“Aku baik-baik saja…bahkan aku ngerasa jauh lebih baik”

“oya, mengapa begitu pren?”

“memangnya kamu nggak merasakan ya, betapa hari ke hari suasana di sini menjadi semakin sik asik aja gitu loh…!.”

“Aku? Nggak tuh, nggak ngerasa apa-apa. Apa maksudmu coy…?”

“ Aduuuh, rugi banget kalo kamu nggak ngerasa pren…”

“Rugi…? rugi apa tuh…? dan apa untungmu…?”

“Wahai sahabatku yang baik hati, emangnya lo nggak ngrasa ada perubahan di sini…?”

“Perubahan? Perubahan disini…? nggak tuh…!”

“Ya betul, perubahan disini. Kebangeten deh kamu…!?”

“p-e-r-u-b-a-h-a-n…? d-i-s-i-n-i…? m-e-r-a-s-a-k-a-n…?

“Aduuuh, bolot bener sih kamu. Masa nggak ngerasain seh…!?”

“Ya sudah, sekarang kamu ceritain aja apa yang sekarang tengah kau rasakan sahabatku…hehehe…”

“Sahabatku pohon kelapa yang ramping, itulah pentingnya menghidupkan nalar dan hati. Perhatian dengan apa yang kau dengar dan apa yang kau lihat. Sensitive dengan sekelilingmu. Awas dengan segala yang ada. Karena semua….!”

“Woy, woy…! aku nggak mau denger ceramahmu dulu. Nanti saja saat kultum bada zuhur ya… “

“Bukan begitu sobat, soalnya…”

“Ya ya cukup. aku cuma ingin tahu en penasaran, apa sih yang kamu mau ceritain tadi. Tentang perasaan yang berubah itu loh…!”

“O iya yah, aku jadi lupa. Aku mo cerita tentang  itu…”

“Iya makanya kalo ngomong jangan nglantur begitu… ayo…!”

“Iya kalo aku seh, beberapa bulan ini merasakan perubahan luar biasa. Aku seperti berada di alam lain. Sungguh seperti mimpi rasanya. Suasana yang sungguh berbeda. Sama sekali berbeda dari masa-masa sebelumnya.”

“Iya apa tuh?”

“Aku ga tahu apa itu. Tapi aku merasakan perbedaan yang terjadi.”
”Aduh, kamu ini gimana toh, merasa tapi tak tahu.”

“habis agak susah untuk aku ungkapkan denga kata-kata…”

“Ce ile, segitu susahnya”

“Iya beneran, aku nggak piawai berolahkata untuk menggambarkan perasaan hatiku.”

“Ya sudah, kamu nggak usah menggambarkan dengan kata-kata indah. Kamu certain aja, ok?”

“Oke kalo  gitu coy…!”

“Nah ayo!”

“Aku neh, bener-bener ngerasa beda banget semenjak di tempat kita ini ada anak-anak smp.

“Wuaaalaaah…! itu toh yang bikin kamu ngerasa beda…maksudmu anak-anak smp as-syifakan…?”

“Emangnya kamu nggak ngerasa beda?”

“nggak tuh, biasa aja. Emang kalo kamu gimana…?”

“Coba aja kamu bayangin, di tempat kita ini, sejak pukul 04.00 pagi bahkan ada lebih awal lagi, saat dingin menyengat, saat embun menutup bumi, saat semua orang masih asik dengan hangatnya pelukan guling dan dekapan selimut, mereka sudah bangun. Membasuh tangan, wajah dan kakinya, lalu bergerombol ke masjid untuk sholat. Bahkan tidak sedikit yang langsung mandi. Menuju ke masjid sambil menggumamkan doa, masuk ke masjid juga dengan doa.  Sebelum duduk mereka sholat tahiyatul masjid. Lalu melanjutkan beberapa rokaat sampai menjelang subuh. Sebagian mereka sambil menunggu azan membaca al-qur’an. Atau bermunajat, doa dan istighfar. Kamu percaya ga, ada yang sampe meneteskan air mata. Mereka berdoa dengan khusu’ memohon kepada yang Maha Kuasa untuk kesuksesan mereka di tempat ini dan yang akan datang. Mereka juga menyelipkan doa untuk keluarga mereka di rumah. Untuk saudara-saudara mereka yang dekat maupun yang jauh. Begitu juga doa tulus untuk para guru mereka di sini. Agar guru-guru betah bersama mereka, ikhlas membimbing mereka. Tidak lupa merekapun mendoakan penduduk negri ini dengan kebaikan dan kesejahteraan. Nggak  ketinggalan, mereka juga mendoakan saudara-saudara yang jauh di lintas benua dan samudra. Di Palestina, di Irak, di Afghan, di Kasymir, dll. Mereka memang luar biasa iya kan…?!”

“Bener, mereka memang luar biasa. Sungguh luar biasa. Tapi herannya aku ko nggak ya”

“gimana, emangnya kamu ga merasakan suasana yang berubah itu…?”

“Iya ya, aku nih bolot bener emang. Nggak menangkap fenomena yang ada di sekitarku.”

“Aku berpikir, saat gelap menjelang fajar itu, mereka telah bangun, berkumpul membaca firman-firman-Nya, berdoa pada-Nya, bermunajat dan memohon ampunan-Nya. Mungkin, nun di tempat yang maha jauh di petala langit raya sana, milyaran bintang-bintang, planet, bulan dalam gugus galaksi yang maha luas juga tengah bertasbih, bertahmid dan bertakbir kepada Allah. Tak ketinggalan ribuan malaikat pun tengah melakukan hal yang sama. Bertasbih, bertahmid, bertakbir untuk mensucikan, memuji, dan membesarkan asma-Nya. Bahkan, para malaiakat itu menyebut-nyebut nama mereka yang berada di masjid-masjid Allah di bumi ini karena mereka membaca al-qur’an, bertasbih, beristighfar dan berdoa pada-Nya.”

“Ih, aku jadi bergidik sendiri. Apa iya begitu…?”

“Iya, baca aja hadits-hadits shohih yang mengatakan hal tersebut.”

“Iya, aku sepakat kalo gitu, mereka memang anak-anak hebat.”

“Bukan cuma itu cing…”

“Apa maksudmu bukan cuma itu?”

“Ada hal lain yang akan terjadi jauh lebih dahsyat lagi pengaruhnya…”
”Apa tuh… bikin penasaran aza kamu…”

“Mereka tuh semua calon hafidzoh, jangan salah kamu…!”

“Jadi mereka semua calon penghafal al-qur’an gitu…?”

“Yup!”

“Eh, kalo penghafal itu kan kecintaan dan kekasih Nabi iya kan…?”

“Yup!”

“Katanya jasad merekapun tidak dimakan tanah ya…?”

“Yup!”

“Mereka tuh para penjaga firman Allah kan…?”

“Yup!”

“Jadi selama ini kita berada di sekeliling orang-orang luar biasa yang hebat ya…?”

“Yup!”

“Jadi itu yang kamu maksud perubahan luar biasa yang kamu rasakan…?”

“Yup!”

“Iya, kenapa aku jadi kayak gine ya?  Berada di dekat para penghafal al-qur’an tapi hatiku terasa jauh dari al-qur’an… menurutmu apa penyebabnya ya…?”

“Kalo itu bisa banyak penyebabnya  pren…”

“Apa misalnya, tolong dong bantu aku…”

“Al-qur’an itukan kitab suci, berasal dari Yang Maha Suci maka harus diterima oleh hati yang suci, bersih dari syirik, ria dan penyakit-penyakit hati lainya…”

“Jadi menurutmu aku ini syirik gitu…?”

“Aku kan nggak bilang begitu, tadi kan kamu yang tanya …aku cuma mau mengatakan bahwa orang-orang yang hatinya bersih akan dimudahkan memahami al-qur’an.”

“Trus apa yang harus aku lakukan biar bisa seperti itu…?”

“Luruskan aja niat kamu, sering-sering baca al-qu’an upayakan juga pahami artinya. Mudah-mudahan Allah bersihkan hatimu…”

“Aamin. Mereka benar-benar akan mengguncangkan ya…?”

“Benar. Coba aja kamu bayangin, negri besar dan kaya bernama Indonesia ini  akan terguncang dahsyat dengan kehadiran mereka. Jangan-jangan langit dan apa yang ada di alam rayapun akan merasakan hal serupa. Karena kebaikan yang mereka lakukan. Karena kebaikan jauh lebih kokoh dari gunung. Lebih dahsyat dari gelombang. Lebih kuat dari benteng. Lebih lembut dari kasih ibu. Lebih mengasyikan dari hiburan dunia.”

“Iya bener-bener hebat.”

“Aku malah berpikir, betapa asiknya peradaban yang akan datang. Karena dimulai dari generasi hebat seperti mereka. Generasi qurani yang cerdas, kreatif, mandiri dan hafidzoh. Allahu akbar…!!!”

 

Subang, 260307 – 2026

buat para pewaris negri

penerus generasi

pembangun peradaban

menuju kegemilangan

dan kemenangan islam…

 

 

 

 

 

 

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: