pelajaran Agama yang hidup

Posted on Agustus 7, 2008. Filed under: artikel |

“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistim pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang.” (pasal 31 ayat 3, UUD 1945)

Tujuan pendidikan nasional sesungguhnya bukan sekedar menjadikan murid menjadi cerdas dalam arti sempit. namun menjadi cerdas dalam makna yang seluas-luasnya. Artinya tidak saja cerdas dalam ranah kognitif tapi juga dalam ranah afektif dan ranah psikomotorik.

Diatur UUD

Dalam UUD RI, pasal 31 ayat 3, tentang Pendidikan Nasional, pemerintah sudah jelas-jelas mencanangkan, mengatur dan membantu terwujudnya generasi muda yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Berarti ada landasan hukum yang sangat kuat di negara kita ini untuk menjadikan murid cerdas secara intelektual, emosional maupun spiritual. Termasuk menjalankan dan mengamalkan keyakinan agama masing-masing dalam arti yang seluas-luasnya. Sudah berlalu masa-masa pahit, ketika pemerintah , melalui Departemen Pendidikan dan Kebudyaan, melarang murid-murid yang berjilbab di sekolah seperti banyak kasus yang terjadi beberapa tahun lewat. Sekarang ini, bagaimana sekolah, sebagai wadah formal, mengimplementasikan nilai-nilai agama untuk membentuk murid-murid yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia seperti tercantum dalam UUD 1945.

Pelajaran Agama

Ini adalah tugas berat, bahkan sangat berat. Bagaimana tidak. Dengan waktu yang sangat sempit, 2 x 45 menit sepekan, dalam kelas yang padat, latar belakang murid yang sangat beragam, kurikulum yang berat dan tidak seimbang, keterbatasan sarana dan kemampuan guru-guru , ditambah bermacam kekurangan lainya. Dengan kondisi yang sangat tidak kondusif itu, Pelajaran Agama diharap bisa melahirkan murid-murid yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Sungguh kerja yang sangat-sangat berat, kalau tidak disebut mustahil. Pasti para guru Agama jatuh-bangun untuk bisa mengejar tujuan yang diharapkan. (sudah selayaknya diberikan penghormatan yang dalam untuk para guru Agama yang berjihad luar biasa di kelas-kelas) Namun yang menyedihkan lagi, jika ada hal-hal yang berkaitan dengan kenakalan atau bahkan tindak kriminal murid-murid, selalu saja pelajaran Agama dan gurunya yang menjadi kambing hitamnya. Kasihan!.

Selain itu, masih ada hal lain yang menyebabkan pelajaran Agama menjadi semakin termengeh-mengeh tak berdaya. Yaitu, sikap dan perhatian sebagian besar guru dan orangtua murid yang menganggap pelajaran Agama sebagai pelajaran kelas dua, bahkan kelas tiga dalam hal kepentingan. Tidak seperti Matematika, Bahasa Inggris atau IPA yang masuk katagori kelas 1. Yaitu, sangat penting. Itulah pemahaman yang umum berkembang. Bahwa pelajaran Matematika, Bahasa Inggris atau IPA jauh lebih penting dari pelajaran Agama. Realita itu memang yang ada di masyarakat, termasuk masyarakat sekolah sekalipun. Bahwa pelajaran Agama tidak terlalu penting. Hal itu bisa dilihat dari; Pertama, Jatah jam tatap muka di kelas yang hanya 2 x 45 menit sepekan. Sekalipun nilai Pelajaran Agama menjadi nilai penentu kenaikan kelas, dalam kenyataannya, hal itu hanya formalitas saja. Kedua, Hampir tidak ada orangtua yang memberi privat atau pelajaran tambahan untuk pelajaran Agama. Tidak seperti pelajaran-pelajaran Matematika, Bahasa Inggris atau IPA. Ketiga, Sedikit sekali orangtua yang merasa bermasalah dengan nilai enam untuk pelajaran Agama anaknya di rapor. Tidak seperti terhadap nilai Matematika, Bahasa Inggris atau IPA. Kondisi yang menyedihkan itu, masih ditambah lagi dengan kondisi kurikulum Pendidikan Agama yang padat, kaku dan membosankan.

Pelajaran Agama yang Mati

Banyak sekali yang harus diperbaiki dengan Kurikulum Pelajaran Agama di sekolah. Jujur saja, pelajaran agama di sekolah adalah pelajaran yang sangat tidak favorit di kalangan murid, termasuk guru. Pelajaran Agama hanya beban moral dan pelengkap syarat untuk sistim pendidikan nasional yang berdasarkan Ketuhanan Yanga Maha Esa. Yang penting ada. Sungguh, sangat tidak mungkin, mendapatkan hasil yang baik dengan kondisi yang tidak kondusif seperti itu. Pelajaran Agama yang ada tidak akan bisa membentuk murid yang beriman, bertakwa dan akhlak mulia. Kurikulum pelajaran Agama sebenarnya mati. Tak bernyawa. Kering dan kaku. Pelajaran Agama kini tidak bisa menghidupkan hati, tidak mampu membersihkan jiwa dan mengarahkan kecenderungan murid. Juga gagal total untuk menumbuhkan akhlak mulia dalam kesehariannya. Jadi, Pelajaran Agama harus direvisi. Baik kurikulum maupun paradigma masyarakat. Meski bukan sebagai satu-satunya penyebab, Pelajaran Agama bertanggung jawab dengan kondisi murid-murid yang amburadul sekarang. Seperti tawuran, narkoba atau pergaulan bebas.

Pelajaran yang Menghidupkan

Seharusnya pelajaran Agama benar-benar bisa menghasilkan murid yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia dalam perilaku mereka sehari-hari. Seperti itulah yang diharapkan pemerintah dalam butir-butir UUD negara. Namun itu semua bukan hal yang mudah. Dibutuhkan banyak syarat untuk bisa mendapatkan hasil yang optimal dari tujuan pendidikan nasional. Tetapi, jika kondisi yang tidak mendukung seperti sekarang, maka harapan itu, meski sudah dicantumkan dalam UUD, tetap saja hanya akan menjadi harapan kosong. Agar harapan pemerintah bisa terwujud , ada beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan, baik jangka pendek, menengah atau jangka panjang.

Pertama, Pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus memberikan peningkatan anggaran dalam RAPBN/RAPBD-nya yang signifikan untuk bidang pendidikan, khususnya pendidikan Agama. Sekurang-kurangnya 20 % seperti yang termaktub dalam UUD mungkin angka yang fleksibel. Untuk pemerintah kota Depok dengan visi kota pendidikannya, harus berani menambah RAPBD untuk pendidikan sampai 40%.

Kedua, Depag dan Depdiknas, segera membuat revisi kurikulum pelajaran Agama yang terpadu, dari tingkat SD sampai Perguruan Tinggi. Bukan saja kurikulum yang berkesinambungan dari tiap jenjang, tapi juga keterpaduan dengan semua pelajaran. Karena tujuan terbentuknya murid yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia bukan saja tanggung jawab pelajaran Agama tapi tujuan dari pendidikan nasional yang harus didukung oleh semua pelajaran yang diajarkan. Meski disadari, pelajaran Agama-lah yang paling mungkin membawa misi itu. Namun sebagai konsekwensinya, pelajaran Agama harus mendapat perlakuan yang lebih realistis.

Ketiga, kurikulum pelajaran Agama agar lebih berorientasi kepada keimanan dan akhlak (perilaku). Semoga, dengan adanya sosialisasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang sebagian sudah diturunkan, akan menjadi momen penting untuk merevisi kurikulum pelajaran Agama baik di jajaran Depag maupun Depdiknas.

Keempat, Masyarakat sekolah dan orangtua harus merubah paradigma tentang pelajaran Agama. Bahwa pelajaran Agama adalah pelajaran yang sangat penting. Yang akan membantu kewajiban orangtua menanamkan nilai-nilai Agama. Untuk menjadikan murid yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia dibutuhkan kerja sama oleh semua pihak. Kelima, mengajarkan nilai-nalai Agama bukan sekedar transfer ilmu dari guru ke murid. Tapi pengajaran Agama harus diiringi dengan kebersihan hati dan contoh kongkrit. Artinya, para guru Agama khususnya, juga guru-guru yang lain harus memulai dari diri mereka masing-masing untuk memahami dan mengamalkan nilai-nilai Agama yang diajarkan. Sehingga murid-murid bisa melihat langsung contoh hidup yang bisa mereka ikuti. Contoh itu dilihat di pribadi para guru yang berakhlak mulia. Terjaga ucapannya, baik sikapnya, rajin ibadahnya dan bersahabat dengan murid-muridnya. Sudah terlalu banyak orang-orang cerdas, namun sangat sedikit mereka yang berakhlak mulia.

Keenam, Sekolah harus membuat lingkungan yang mendukung untuk percepatan pemahaman dan pengamalan murid-murid terhadap nilai-nilai Agama. Selain itu perlu juga diberikan program-program pengayaan. Seperti mentoring, pesantren kilat berkala, peringatan hari-hari besar, program Jum’at putih, wisata ruhani, dan lain-lain. Hal penting yang harus mendapat perhatian pihak sekolah adalah, keterlibatan para guru. Bahwa program-program pengayaan itu jangan hanya diperuntukkan bagi murid-murid. Tetapi diberikan juga untuk para guru. Tidak ada jaminan, bahwa pemahaman dan pengamalan nilai-nilai Agama para guru di sekolah lebih baik dari murid-muridnya. Jadi tidak ada salahnya kalau para guru juga ikut mentoring mingguan, sanlat berkala dan program-program lainnya. Terakhir, setiap guru (Agama) dituntut untuk selalu tampil ‘segar’ setiap kali masuk ke kelas. Segar artinya siap mengajar. Siap dengan materi, Penampilan, disiplin dan ampil menyenangkan. Semoga ini bisa menjadikan pelajaran Agama hidup di lingkungan sekolah. Yang akan menghidupkan hati guru-guru dan murid.

(Monitor Depok, )

About these ads

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Satu Tanggapan to “pelajaran Agama yang hidup”

RSS Feed for pesona kata Comments RSS Feed

Jakarta, Juli 2008

Hal : Nominasi e-Learning Award 2008

Kepada Yth:
Pengelola web http://dwifahrial.wordpress.com/

Dengan Hormat.
Berdasarkan hasil review kami terhadap berbagai situs edukatif yang ada di Indonesia, kami beritahukan bahwa situs http://dwifahrial.wordpress.com/ masuk dalam nominasi e-Learning Award 2008 yang diselenggarakan oleh Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan, Departemen Pendidikan Nasional (Pustekkom Depdiknas).

Untuk keperluan penilaian lebih lanjut yang akan dilakukan oleh Dewan Juri, mohon kiranya anda melengkapi formulir pendaftaran yang dapat didownload di http://www.e-dukasi.net/elearningaward . Batas pengembalian formulir pendaftaran tanggal 31 Agustus 2008.

Demikian surat ini kami buat, semoga anda dapat berpartisipasi. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami

Panitia e-Learning Award 2008

Kontak Person:
Hendro Gunarto (021-99174560 atau 08128155562)
Adi Gama (021-92233166 atau 0818 686220)


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: