sang Murobi

Posted on Mei 11, 2008. Filed under: ust Rahmat Abdullah | Tag: |

Sang Murobbi     

(untuk ust Rahmat Abdullah)

SANG MUROBBI

Tergagap aku. Saat pertama kali kubaca berita kepergianmu.  Awalnya aku menepis, ah! hanya orang iseng yang mengirim sms kacangan. Tapi setelah beberapa sms lainnya beruntun masuk aku tak bisa lagi tak percaya, engkau telah pergi. Begitu cepat, begitu mendadak. Ajal menjemputmu untuk selamanya ke alam abadi. Tak ada apa-apa setelah itu. Kecuali kesedihan, tangis dan air mata. Sejenak kurasakan mati rasa, hampa dan sesak dada. Bahkan hampir saja ku tak percaya. Namun setelah itu aku malah jadi memahami, saat Umar Al-Faruq sempat tak percaya mendengar berita kematian Nabi SAW.

Berdirilah saudaraku, berilah hormat pada lelaki mulia ini. Dalam sholat terakhir mengantar jasad kasarnya.  Dimana ruh sucinya sudah bersanding bersama para sholihin, shodiqin dan syuhada. Atau lepaslah Ia dalam sholat ghaibmu yang khusyuk, karena ratusan kilo terpisahkan oleh jarak. Dimana pesan-pesan da’wahnya telah menyebar sedemikian jauh. Lafadzkan doa dan istighfar untuk mengantar kepergiannya. Semoga Allah mengampuninya, merahmatinya, memaafkannya dan membersihkan dosa-dosanya. Semoga Allah mengganti tempat tinggalnya dengan yang lebih baik, dan mengganti keluarganya dengan yang lebih baik.  Semoga Allah juga melindunginya dari azab kubur dan siksa neraka.”

Dialah Sang Murobbi. Lelaki yang menebar pesona, beratus dan beribu pesona menyeruak dari relung-relung jiwanya. Menjalar melalui hatinya yang bersih, keluar dari lisannya yang fasih dan terlihat dari amalnya yang sholih. Menyebar dari penanya berjuta hikmah.  Selangit ilmu, selaut ma’rifah, bergunung faidah dia berikan untuk umat ini.  Dia ajarkan arti kesederhanaan dan kebersahajaan hidup, bukan dalam catatan, tapi dalam amal perbuatan. Dia ajarkan pula keoptimisan meski dalam tekanan yang sangat berat. Dia perankan arti kesabaran, bukan dalam diam, tapi dalam kerja panjang tak kenal henti. Dialah yang selalu menegakkan kedisiplinan (indibath) dalam segala situasi. Ia tetap istiqomah meski yang lain lupa, syetan menggoda dan pintu dunia terbuka.  Dia buktikan arti pengorbanan dalam kelapangan dan kesempitan.  Dia contohkan arti taat pada qiyadah dengan tsiqoh yang dalam, bukan dengan diskusi panjang.  Dia buktikan kesetiaan pada jamaah dengan loyalitas penuh.

Dia juga yang mampu menerjemahkan beribu teori dalam wilayah amali. Dialah yang telah mengajarkan manisnya iman dan indahnya ukhuwah, bukan sekedar hiasan hati tapi dalam kehidupan sehari-hari. Dialah yang selalu memberi untuk dawah dan bekerja dalam jamaah dengan bingkai ikhlas yang bersih. Dia telah menjadi qudwah da’wah ini dalam manhaj tarbiyah Islamiyah.

Dialah Sang Murobbi yang membina pemuda, beribu pemuda, berjuta pemuda.  Dialah yang menyebarkan cahaya hidayah,  menerangi jiwa dan hati manusia. Dalam materi-materi panah yang jitu. Dalam ungkapan hikmahnya yang dalam, metaforanya yang cerdas dan bahasanya yang khas.  Dialah yang mampu membukakan belenggu jiwa, dan merubah paradigma. Hingga para pemuda menjadi nyaman dalam tarbiyah. Semangat dalam da’wah.  Dan menikmati pesona Islam yang begitu indah.

Dialah dai terbaik. Dalam kapasitasnya sebagai murobbi, maupun mutarobbi. Sebagai qiyadi maupun jundi.  “Dialah murid sekaligus guru saya. Yang mengajarkan banyak hal. ” Aku Ustadz Hilmi Aminudin, guru dan sahabatnya. Hal yang sama dirasakan pula oleh para masyaikh dan asatidz yang lain.

Dialah lelaki dawah. Dia telah berikan dirinya untuk dawah. Dia isi hari-harinya dengan amal dawah. Dan mengakhiri hidupnya dalam tugas dawah. Dedikasinya tiada henti untuk dawah. Akhlak dawahnya luar biasa; taat, indibath, tahdhiyah, istiqomah, jidiyah, jihad, tawadhu, sederhana, bersahaja….ah, entah apa lagi. Rasanya habis kosa kata untuk menggambarkan kebaikan, teladan dan hikmah hidupnya. Sungguh besar ambisinya untuk da’wah. Sehingga tak ada yang mampu menghalangi jalannya. Tidak kesibukkannya, tidak kesehatannya, tidak juga kelemahan atau interest duniawinya.   Namun, ambisi besar itu akhirnya takluk di depan sang maut. Ya, hanya kematian yang mampu menghentikan langkahnya.  Agar ia segera bersama Rabb-nya dan menikmati “kehidupan baru” dengan tenang di sisi-Nya.

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Alloh, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup di sisi Robbnya dengan mendapat rizki”  (QS.Ali Imron, 3:169)

“Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Alloh yang diberikanNya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”  (QS. Ali Imron, 3:170-171) 

Aku seperti dipaksa untuk percaya, bahwa orang-orang baik itu selalu lebih cepat dipanggil-Nya. Karena kecintaan Allah padamu. Dan umat yang sangat mencintaimu. Karena kecintaan umat padamu adalah kecenderungan yang tumbuh secara alami. Kecintaan mereka akibat logis dari kecintaan Allah terhadapmu. Karena jika Allah mencintai seseorang, ia akan menyusupkan kecintaan manusia kepada orang itu. Seperti firman-Nya; “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal sholih, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang. (QS. Maryam, 19 : 96)

 

Entahlah, mengapa Dia memanggilmu saat dirimu masih sangat dibutuhkan. Di saat banyak orang menggantung harap padamu. Aku hanya mencoba menangkap isyarat dari ayat-ayat-Nya yang tersirat. – inilah da’wah itu: Da’wah yang dibangun di atas manhaj Ilahi, bukan atas kultus pribadi. Da’wah yang hanya bergantung pada pemiliknya saja, Robbul izzati, bukan kepada para penyerunya sendiri. Seperti itulah hikmah amul hazan yang dirasakan Rasul SAW. Agar putus ketergantungan Nabi pada dua orang pembelanya yang tercinta. Agar harapan hanya kepada Pemilik kebenaran saja, Allah Robbul alamin.

Semoga Allah tetap menjaga da’wah di negri ini dengan kepergianmu

Semoga kami tetap istiqomah dan mengikuti qudwah teladanmu

Selamat jalan Ustadz… Selamat jalan Murobbiku, dan Murobbi berjuta kader yang mencintaimu…

 

Dwi Fahrial.

Subang, 24 Juni 2005

(inspirasi : Sang Guru, Mencari Pahlawan Indonesia,  Anis Matta : 220)

***

(Maafkan aku, karna tak bisa melihatmu saat terakhir kali. Karena lemahnya langkahku dan kuatnya bebat nafsuku. Namun ruhku serasa melayang hadir dalam halaqoh  ta’ziyah di kediamanmu yang sederhana itu. Kurasa, sejuta doa takkan mengurangi sesal dan hatiku yang pilu. Saat kujauh darimu, sedang beribu umat disana mengantar kepergianmu. Saat umat menangisimu, bersama alam yang ikut menangis. Aku hanya menangis sendiri)

About these ads

Make a Comment

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: